Melancong ke Lombok (9): Desa Sade

Perumahan di Desa Sade [Picture: Here]
Perumahan di Desa Sade [Picture: Here]

Lepas dari tempat penenunan songket, St. Rajo Basa dan rombongan kemudian dibawa ke Desa Sade, sebuah desa yang masih mempertahankan adat lama di Pulau Lombok ini. Desa ini telah dijadikan sebagai salah satu tujuan pelancongan di Pulau Lombok, banyak kendaraan nan parkir dan orang berlalu-lalang, keluar masuk pintu gerbang desa ini.

Rumah-rumah di desa ini terbuat dari kayu dan beratapkan jerami atau akar alang-alang. Sungguh menarik tatkala mendengar penjelasan dari pemandu di desa ini, dimana lantai rumah terbuat dari campuran tanah liat, sekam, dan kotoran kerbau. Kemudian setiap sekali sepekan lantai itu dipel dengan menggunakan kotoran kerbau.

Nan banyak menarik perhatian para pelancong ialah adat “kawin lari” di Pulau Lombok ini “Orang tua seorang gadis akan merasa tak dihargai apabila anak perempuan mereka dipinang dengan cara baik-baik..” ujar pemandu mereka yang ditirukan oleh St. Rajo Basa kawan kami.

Desa Sade [Picture: here]
Desa Sade [Picture: here]

“Setelah itu lalu bagaimana engku..?” tanya kami penasaran dengan adat kawin lari ini.

“Setelah itu, si gadis akan ditumpangkan di rumah kawannya dan disuruh menunggu..” jawab kawan kami St. Rajo Basa

“Lalu bagaimana apabila dia seorang janda bohai, semok, montok? mesti diculik juakah?” tanya kami penasaran

“Ah, engku coba saja menculik janda disana, boleh sama-sama tahu awak..” jawab kawan kami hilang akal sebab tiada pernah terfikirkannya pertanyaan kami itu.

Keadaan bagian depan rumah [Picture: Here]
Keadaan bagian depan rumah [Picture: Here]

Setelah kami cari tahu di internet, rupanya ada dua macam yakni Kawin Lari dan Diculik. Apabila kawin lari merupakan suka-sama suka maka kalau “diculik” berarti si gadis tiada berkenan dengan lelaki dan hendak menikahinya. Namun akibatnya tetap sama yakni mesti menikah dengan orang nan menculik.[1]

Terus terang kami penasaran, bagaimana pula apabila perempuan nan berkeinginan dengan seorang lelaki? Dapatkah ia menculik lelaki pujaan hatinya itu?

Pertanyaan itu hanya kami pendam dalam hati, tiada hendak kami tanyakan. Takut kami kalau kawan kami ini kembali merajuk.

“Selain itu ada pula gelar bangsawan bagi penduduk Lombok..” lanjut kawan kami “Apabila nan lelaki akan memakai kata Lalu di hadapan namanya, sedangkan yang perempuan akan  memakai kata “Baik” di hadapan namanya..” dia terus berkisah. Kami dengarkan saja, tak hendak kami menyela lagi.

____________________

Catatan Kaki:

[1] Baca juga: http://travel.kompas.com/read/2015/11/13/163458127/Ada.Kawin.Culik.dan.Kawin.Lari.di.Lombok?page=all

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s