Mencari Salusuah

DSC09321Kandungan isteri kami sudah melampaui sembilan bulan, semuanya cemas, orang tua kami, mertua, adik-adik, adik ipar, mamak, etek, dan kerabat lainnya. Tentunya kami cemas pula, bilakah isteri kami akan melahirkan? Adakah ketika kami sedang berada di Padang? Kalau tidak, kalau tengah malam, dengan apa kami ke Padang? Dan lain-lain perasaan campur-baur.

Sudah semenjak lama bunda bertanya perihal Salusuah, demikian pula dengan isteri kami “Kita tak memandang syiriknya tuan, itu ialah obat, nan pentingkan usaha..” bela isteri kami. Demikian pula pendapat bunda, sama agaknnya.

Kamipun demikian, memandang Salusuah hanyalah semacam obat bagi perempuan yang hendak melahirkan. Katanya sebagai penambah tenaga bagi si ibu. Sudah banyak isteri kami mendapat cerita dari kawannya, ada yang berhasil dan adapula yang biasa saja. Akhirnya kami bulatkan saja tekad untuk mencarinya. Bunda sudah menunjukkan, bahkan memesan kepada Si Engku tabib tempat orang meminta Salusuah.

Setelah tertunda satu pekan, pada suatu Jum’at pagi kami pergi ke rumah isteri si Engku yang rupanya salah seorang mamak kami jua, satu suku kami. Bunda sehari sebelumnya telah membuatkan janji untuk kami “Suruh saja ia datang sebelum pukul tujuh kak..” jawab si engku.

Kami datang dengan disuruh membawa dua butir telur ayam kampung, telur inilah yang nantinya akan dijadikan obat setelah mendapat do’a dari si engku. Nan membuat kami takjub, si engku dapat mengetahui kalau anak yang berada dalam kandungan isteri kami lasak, acapkali berputar dan menendang perut ibunya.

Kami tiada tahu dengan jelas entah do’a apa yang dibacanya, namun nan jelas berbahasa Arab. Telur pertama di letakkan di pangkal antara jari telunjuk dan jempol tangan kanan, kemudian dikepitkan. Selepas itu si engku memejamkan matanya dan berdo’a. Adapun dengan telur kedua diletakkan di atas tangan kiri dan kemudian kedua tangannya menampung serupa orang berdo’a.

Telur pertama diberi tanda silang dengan menggunakan pena “Minum kuning telur ini mentah-mentah dengan membuang putihnya, kalau isteri engkau tiada biasa silahkan direbus saja tapi putihnya ikut pula dimakan..”

Adapun dengan telur nan kedua “Carilah air tebu hitam, kemudian beri cegek (dama) dan dicampur dengan telur ini. Tapi ingat, jangan diberi es..”

Demikianlah pagi itu, bertepatan ketika kami hendak pergi, datanglah seorang perempuan dengan diantarkan oleh ibunya, mungkin sebaya atau lebih tua dari kami. Kami terka ia juga hendak berobat pula.

Ketika kami sampaikan kepada isteri kami, ia heran “Tak hendak melahirkan diminumnya tuan?” keheranan yang sama juga ditunjukkan oleh bunda kami tadi pagi di rumah.

“Tak dinda, tak usah ragu, ikuti saja petunjuknya..” jawab kami.

Telur ayam, terutama telur ayam kampung memang berkhasiat untuk meningkatkan tenaga, terutama untuk ibu yang hendak melahirkan. Salusuah dapat beragam medianya, ada telur, bahkan ada air biasa saja. Cerita isteri kami kawannya pernah mendapat air sungai saja dari Si Tabib karena rumah si tabib berada tak jauh dari sungai.

Demikianlah, kami tiada percaya pada si Tabib ataupun Si Telur, kami yakin Allah Ta’alalah Sang Penyembuh Agung. Tujuan kami hanya untuk mencoba hal yang belum diketahui, serupa itu agaknya, setidaknya kami sudah tahu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s