Rancak Di Labuah

PIcture: Instagram

Gaya hidup sudah menjadi kebutuhan nan mesti dipenuhi oleh sebagian orang pada masa sekarang. Tak peduli payahnya mencari uang, apakah itu uang halal ataukah haram, nan penting semua tercukupi. Pernah bilangan tahun nan lalu kami mendengar di berita di media sosial, seorang ayah nan berkeinginan membeli hape untuk anak gadisnya dengan menggunakan pecahan uang seribuan. Setelah ditanya oleh orang bahwa anaknya mengancam tak masuk sekolah apabila tak dibelikan hape.

Demikian pula bagi orang nan telah bekerja atau memiliki penghasilan. Berapapun uang nan didapatnya tiada pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan gaya hidupnya. Apa nan sedang menjadi kegemaran orang-orang di Betawi maka ia ikut pula. Gemar makan di kafe “Tagajai” maka iapun makan pula disana sambil mengambil foto selfie. Padahal harganya jauh lebih mahal dari harga makanan di lepau biasa, nan lebih mengherankannya lagi, makanannya tak jauh lebih nikmat dari makan di lepau. (more…)

Advertisements

Hujan Rinai

Drizzling Rain

Agam Valley where Bukit Tinggi located there has the cool air. The Dutch in the past and the tourist who came here so like it, we dont need air conditioner here. If rainy, the air become cold, particularly in the morning will make us reluctant to get out of bed. In same time, 92 Km from this city, there was flood in Padang City, since yesterday afternoon.

_________________________________

Mendung sedari kemarin, kencang angin berhembus di malam hari, awan mendung di subuh hari, gerimis di pagi hari. Udara nan sejuk bertambah dingin, merayu-rayu untuk bergelung dibalik selimut. Tantulah akan nikmat, selimut tebal, kasur nan hangat, serta tidur nan lelap.

Namun berlainan nan berlaku di Bandar Padang. Banjir datang mendera, menggenangi rumah penduduk. Ada yang terendam sekalian harta bendanya ada pula nan hanya malu-malu air memasuki rumahnya.

Di bandar kami, pagi nan dingin menjadi kawan menuju kantor. Jalanan masihlah lengang di bulan puasa ini. Di pertengah perjalanan kami disapa oleh gerimis, dikawaninya kami hingga sampai di kantor. Dingin, dingin sudah biasa. Lebih baik dingin dari pada panas, sebab bagi kami suhu panas sangat cepat membuat kami kepayahan.

Jalanan nan lengang, suasana nan sunyi sungguh menenangkan. Mungkin serupa inilah bandar kami ini dahlunya. Alangkah indahnya apabila suasana serupa ini dapat kami nikmati setiap hari.

Gerimis Pagi di Bulan Puasa, sungguh menyenangkan..

View on Path

Truck & Ricefield

Truck in Ricefield [Thursday, Mei 12, 2016]

Hari Kamis nan cerah kami minta izin pergi ke Bandar Padang, hendak menengok nan terkasih. Onda (motor) buruk kami sebenarnya sudah enggan dibawa berjalan jauh namun kami tiada punya pilihan. Semoga saja diperjalan ia baik-baik saja, selama ini belum pernah dia merajuk atau sampai sakit.

Udara cukup sejuk, awan mendung tampak berarak di atas awang-awang, semoga saja tiada hujan. Namun tiada mendung sepanjang jalan, bertumpak-tumpak. Di Bukit Tinggi cerah begitu memasuki Koto Baru mendung, di Padang Panjang cerah kembali dan tiba di Lembah Anai bersua lagi dengan mendung.

Lepas dari Lembah Anai berangsur cerah, nun jauh disana matahari malu-malu menampakkan diri. Kami tersenyum saja, serupa anak gadis sedang mengintip sang kekasih saja kelakuannya.

Menjelang Kayu Tanam kami dapati kendaraan di hadapan mulai tersendat lajunya “Duhai macet pula, padahal bukan hari libur..” sesal kami dalam hati. (more…)