Nagari Sungai Tanang

Tabek Gadang

Sungai Tanang Village (In Minangkabau; Nagari Sungai Tanang) located in Agam Regency or 8,6 Km from Bukit Tinggi City. People in the era of 1960’s was know this village as one of tourism destination, there are water springs named Tagan and Tabek Gadang (huge fish pond). The water springs was become a water source for Bukit Tinggi City. This village located at the foot of Mount Singgalang and face to Mount Marapi.

___________________

Pada hari keempat di bulan Ramadhan 1437 H ini, selepas shalat Zuhur kami bersama seorang kawan pergi berpesiar keliling negeri di Bukit Tinggi dan Agam. Semula rencana kami ialah hendak ke Nagari Koto Gadang namun di tengah perjalanan kawan kami membelokkan ondanya[1] ke kiri. Pada gerbang masuk tertulis Nagari Sungai Tanang “Pernahkah engku ke sini?” tanyanya sambil membawa onda dengan cukup laju.

Nun Jauh disana ialah Masjid Jamiak

“Tiada pernah engku..” jawab kami kesenangan, sebab kami memang berminat sekali berpesiar ke negeri nan belum pernah kami ziarahi. (more…)

Advertisements

My Country Side

Country Side

Sudah lama kiranya kami tak berjalan menengok-nengok kampung. Maklumlah, rumah kami terletak di perbatasan nagari, orang perbatasan. Begitu melangkah sampai di nagari jiran, demikian nan selalu kami lakoni tiap hari.

Ahad petang ini, kami bersama ayah, bunda, dan adik pergi menziarahi rumah bako[1] yang berada pada salah satu kampung di dalam nagari.

Petang hari ini sangat cantik, matahari bersinar cerah, langit biru, dan awan-awan menggantung di awang-awang. Sungguh berlainan dengan petang hari nan biasanya selalu hujan atau kalau tidak mendung.

Di tengah perjalanan menjelang sampai ke rumah bako, kami dapati suatu pemandangan nan sedap dipandang mata. Kiri-kanan ialah kawasan persawahan, nun jauh disana ialah Gunung Marapi yang sedang berselimutkan awan, di ujung ialah kampung bako kami. Serupa terletak pada sebuah pulau saja kampung bako kami itu.

Beruntung kami pada petang hari ini, beruntung kami tinggal di sebuah nagari nan permai, dan beruntung pula pada petang hari ini sangat cantik menawan hati.
———————
Catatan Kaki:
[1] Keluarga ayah, saudara perempuan ayah – at Tan Kamang Kamang Hilia

View on Path

The Horse Cart

Bendi

Kalau di Pulau Jawa dikenal dengan nama Delman atau ada juga yang menyebutnya dengan Andong. Kalau di negeri kami dipanggil orang dengan sebutan “Bendi”. Dahulu sebelum ada angkutan umum, bendi inilah nan disewa orang. Peranan bendi dimasa dahulu sama dengan gabungan peran angkot dan taksi pada masa sekarang. Begitulah kira-kira..

Di bandar kami ada beberapa tempat pangkalan bendi, seperti di hadapan Jam Gadang, di Pasa Bawah, di Pasa Aua Tajungkang, atau mungkin ada tempat pangkalan lain nan tiada kami ketahui. Masih ada orang yang menyewanya sebagai alat angkut namun tidak semuanya untuk meangkut penumpang dari satu tempat ke tempat lain. Melainkan ada nan disewa oleh para pelancong untuk berkeliling bandar.

Dahulu sekali, semasa kanak-kanak kami beserta kedua adik kami pernah dibawa naik bendi oleh ayah-bunda. Pernah duduk di belakang pernah pula duduk di hadapan di sebelah engku kusir. Kami heran kenapa banyak orang nan hendak duduk di hadapan karena tepat berada di belakang lubang ekor kuda. Baunya, alamak.. selepas itu kami tiada hendak. duduk di belakang saja lagi. (more…)

The Heir

Pandeka Kaciak || The Little Warrior
Sabai nan Aluih Park, Bukit Tinggi, West Sumatera
[Sunday, Mei 15, 2016]

Pagi menjelang tengah hari, ketika itu suasana cukup tenang di Taman Sabai nan Aluih. Di taman inilah Jam Bertuah yang menjadi kebanggaan bandar kami terletak. Hanya riuh rendah suara pedagang nan bercampur dengan suara pelancong. Cukup banyak orang nan datang apabila dibandingkan dengan hari Ahad biasa. Maklumlah anak kelas tiga baru saja selesai ujian.

Beragam negeri asal para pelancong apabila dipandangi dari cara berpakaian mereka. Walau masih dalam republik ini, namun keadaan setiap daerah berbeda-beda. Apabila tuan berkesempatan datang ke bandsr kami ini dan berkenan meluangkan waktu agak beberapa jam pada hari libur untuk tegak-tegak di sekitar Jam Gadang. Maka akan banyak tuan dapati paha mulus, bahu putih, punggung nan berambut halus, leher nan jenjang, serta susu dan pinggul yang dibungkus rapi serupa membungkus lapek[1]. Kata seorang kawan kami “Sungguh kejam nian Kaum Perempuan itu. Pandai mereka menyiksa bathin kita Kaum Lelaki ini..”

Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil patroli, rupanya mobil itu merupakan kepala dari barisan rombongan Kafilah Khatam Qur’an salah satu masjid jami’ di bandar ini. Cukup panjang dan banyak mereka dan nan menjadi ekor dari rombongan ini ialah barisan penabuh Tabuah Tansa. (more…)

Jam Bertuah Bersolek

Repainting [Pict taken on Saturday, Mei 14, 2016]

Jam Gadang ialah lambang sekaligus kebanggaan bagi bandar kami. Semenjak hari Senin nan silam tanggal 9 Mei 2016 telah dimulai pengecatan terhadap Jam Gadang ini. Beberapa orang pemanjat tebing yang telah berpengalaman melakukan pekerjaan serupa di dalam dan luar negeri dilimpahi kepercayaan untuk mempercantik jam kebanggaan orang Bukit Tinggi Selingkar Agam ini.

Sebelumnya telah banyak yang risau melihat keadaan Jam Gadang yang telah berlumut pada beberapa tempat dan murung keadaannya. Oleh karena kemurungan itulah maka dipercantik ia, walau tatkala diambil gambarnya, Jam Gadanh dapat diedit serta dipercantik. Namun tetap tampilan asli perlu dijaga dan diperbaharui. (more…)

Mengobati Kerisauan

Beautiful Afternoon – One day in April
[Di Perpustakaan Bung Hatta]

Selain di pagi hari, menurut kami kecantikan alam akan tampak memukau di petang hari. Selain itu, sinar matahari juga jauh lebih bersahabat. Tidak hanya itu, pancaran cahaya serta warnanya juga memikat.

Bagaimana gerangan pendapat engku, rangkayo, serta encik sekalian? Adakah sefaham kita?

Semenjak pagi hingga petang, dengan segala persoalan yang dihadapi, bermacam ragam jenis orang yang ditemui, berlainan pula perlakuan yang didapat. Tentulah bermacam ragam pula perasaan yang berkecamuk dalam bathin.

Kata orang, dengan memandang alam nan permai akan mendatangkan ketenangan dan kedamaian pada jiwa ini. Lelah ia dihantam dengan berbagai soal yang sebagian besar tiada berkenan pada bathin. (more…)

Luhak Agam nan Permai

Nun Jauh di kaki Bukit Barisan sana ialah kampung kami Nagari Kamang [Picture: https://justwrite-athing.tumblr.com/]

Memanglah tiada salah, kampung halaman kami Luhak Agam sungguh permai, bukan hendak menyombong atau melebay (bahasa orang sekarang). Hal ini kami dapati pada suatu petang selepas pulang kantor di hari Kamis[1], kami dibawa oleh kawan kami menempuh jalur lain menuju rumah. Kebetulan arah rumah kami sejurusan.

Maka lalulah kami ke nagari-nagari yang ada di kaki Gunung Marapi, nagari-nagari inipun takkalah permainya pula. Dari sini tatkala kami memandang jauh ke bawah maka akan tampak jajaran sawah dan perkampungan penduduk hingga jauh ke kaki Bukit Barisan sana. Dari kaki Gunung Marapi ini tatkala memandang ke arah Bukit Barisan tampaklah oleh kami nuh disana, diselimuti kabut, Nagari Kamang kampung kami. Tampaknya asap itu berasal dari asap orang membakar jerami di sawah. (more…)

Citizen Journalism

Picture: justwrite-athing.tumblr.com

Kata orang kalau berembun di pagi hari maka itu tanda akan panas seharian. Namun betapa janggalnya karena selepas pukul sembilan hujan rinai mulai turun, sebentar hilang kemudian datang lagi. Serupa dengan seorang kekasih nan sedang merajuk kelakuannya.

Sampai tengah hari masih demikian, ketika itu kami sedang berada di Los Lambuang[1] bersama dua orang induk semang kami. Padahal matahari bersinar cukup cerah, hanya saja ketika hujan rinai tiba ia sembunyi. Sama pula kelakuan matahari dengan hujan rinai ini, sebentar tiba tak berapa lama kemudian ia pergi sembunyi. Sama-sama perajuk mereka hari ini.

Kamipun hendak merajuk pula, tiada hendak mengisahkan perihal hujan dan matahari ini. Sama-sama merajuklah awak.. (more…)