Free Willy & Bioskop di Bukit Tinggi

Ilustrasi Gambar: Ivternet
Ilustrasi Gambar: Ivternet

Hari Ahad[1] malam salah satu Stasiun Televisi di republik ini menayangkan sebuah filem yang telah berusia 21 tahun, Free Willy judulnya. Filem ini mengisahkan perihal persahabatan seorang kanak-kanak dengan seekor ikan paus yang bernama Willy dan perjuangannya untuk membebaskan Willy ke lautan bebas guna berkumpul kembali dengan keluarganya. Oleh Karena itulah maka diberi judul Free Willy, Membebaskan Si Willy.

“Tuan telah pernah menonton filem ini dinda, di Bioskop di Bukit Tinggi..” ujar kami kepada isteri kami.

“Dengan siapa tuan menonton filem ini di bioskop..?” Tanya isteri kami penuh selidik.

Kami hanya tersenyum dalam hati, cemburu isteri kami agaknya “Dahulu, ketika tuan masih sekolah di Sanawiyah[2]. Bioskop Gloria namanya, tuan menontonnya bersama kawan-kawan..” jawab kami.

Isteri kamipun tersenyum dan kemudian berkata dengan manja “Bila dinda akan tuan bawa menonton filem di Bioskop di Bukit Tinggi?”

Kursi rotan, keadaan di dalam salah satu bioskop
Kursi rotan, keadaan di dalam salah satu bioskop

“Sudah tak dapat dinda, bioskopnya telah lama tutup..” jawab kami sambil tersenyum.

Terkenang kami dengan masa yang lalu, kanak-kanak yang penuh dengan kenakalan. Semasa sekolah di Sanawiyah, ayahanda kami memaksa kami untuk ikut les Bahasa Inggris di Bukit Tinggi. Hati kami enggan, namun karena terpaksa dijalani jua, sebab diancam tak dapat belanja. Niat dari orang tua kami ini karena termakan hasutan dari orang-orang “Zaman sekarang kalau tak diiringi dengan les di luar sekolah maka alamat anak-anak kita akan tertinggal dalam pelajarannya. Tengoklah orang-orang di kota-kota, selepas bersekolah, anaknya disuruhnya masuk les..”

Pada hal tidak demikian adanya, ada jua orang yang bersekolah di kampung dengan kualitas pendidikan yang biasa atau bahkan sangat rendah apabila dibandingkan dengan orang kota, tidak pernah pula berkenalan dengan yang namanya “les..” dengan “les kaca” mugkin ia kenal. Namun demikian, si anak tetap dapat maju dan berhasil dalam pendidikan dan kehidupannya. Sebenarnya hal tersebut bergantung kepada potensi dari masing-masing anak.

Semasa les itulah kami cabut – atau bolos bahasa Orang Jakartanya – dan kemudian pergi menonton ke Bioskop Gloria yang ada di Pasa Ateh Bukit Tinggi. Jam menontonnya ialah dari pukul dua hingga pukul empat atau setengah lima, tiket kalau kami tak salah ialah Rp.1.500 s/d Rp. 2.500,-. Jam menonton siang dengan jam menonton malam dibedakan harganya. Tidak ada pembedaan harga tiket berdasarkan jenis tepat duduk, sama saja dan bergantung kepada keberuntungan kita.

Terkadang kami menonton bersama kawan-kawan, terkadang kami hanya sendiri saja masuk, kelam setibanya di dalam, kami meraba-raba. Tempat duduk di sini masih dari rotan, ada yang telah dicoret-coret, ditempeli permen karet, ataupun telah rusak. Kami suka duduk di bagian tengah-tengah, kalau terlalu ke muka akan tidak nikmat menontonnnya, kalau terlalu ke belakang tidak pula suka, karena terlalu jauh.

Bioskop Sovia Ilustrasi Gambar: Ivternet
Bioskop Sovia
Ilustrasi Gambar: Ivternet

Bioskop ini memiliki wc pada pintu yang berlawanan arah, apabila kita keluar dari ruangan tempat menonton maka kita harus berbelok ke kiri dimana di sanalah wc, apabila kita berbelok ke kanan maka kita akan sampai ke pintu yang diberi teralis dimana di mukanya terdapat orang berjualan rokok. Bagi penonton yang perokok maka mereka akan membeli rokok di sana dan menghisapnya di sana, ada jua yang merokok di dalam bioskop, asapnya akan tampak melayang-layang apabila terkena lampu sorot dari proyektor ke layar. Demikianlah kerja kami kalau cabut.

Sebenarnya Bukit Tinggi memiliki dua bioskop lainnya, satu terletak di samping Hotel The Hills sekarang, Sovia namanya, satu lagi di dekat Kantor Pegadaian (atau dekat bangunan tempat parkir sekarang) Bioskop Eri namanya. Pada saat sekarang, hanya Bioskop Eri yang masih jalan, itupun hanya satu-satu saja lagi filem yang diputar, entah ada jua yang menonton, entah tidak.

Dahulu Bioskop Sovia jarang buka, sesekali saja, padahal gedungnya merupakan yang paling menarik, indah, dan mewah. Di bioskop inilah kami menonton filem Titanic untuk pertama kalinya, diputar pukul empat petang, akibatnya kami terlambat pulang. Pulang malam ialah terpantang, bisa mendapat murka. Dan memang itulah yang kami dapat.

Adapun dengan Bioskop Eri merupakan bioskop yang khusus memutar filem India atau filem-filem lokal yang judul beserta poster filemnya memprovokasi orang untuk menonton. Kami hanya sekali pernah menonton filem disini, dibawa oleh kawan, filem India yang tiada sampai usai kami tonton.

Bioskop ERI Ilustrasi Gambar: Ivternet
Bioskop ERI
Ilustrasi Gambar: Ivternet

Pada saat penutupan filem melantun sebuah lagu “Itu Michel Jackson yang menyanyi ya tuan..” Tanya isteri kami.

“Entahlah..” jawab kami sambil terus searching di internet, setelah dapat synopsis filemnya “Hebat dinda, benar tebakan dinda rupanya..” seru kami. Isteri kamipun tersenyum kegirangan.

Demikianlah, filem Free Willy terbilang sukses meraup untung dan dibuat beberapa lanjutannya selepas filem pertama ini.

Kami berharap suatu saat kelak bioskop di Bukit Tinggi akan kembali hidup..

[1] 24 November 2014

[2] Tsanawiyah, setingkat SMP

Advertisements

5 thoughts on “Free Willy & Bioskop di Bukit Tinggi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s