Melancong ke Lombok [10]: Pantai Kuta

Picture: Here
Picture: Here

Lepas dari Desa Sade St. Rajo Basa dan rombongan mulai beranjak ke Pantai Kuta, tatkala mendengarnya kami heran karena nama pantai itu memiliki nama yang sama dengan nama pantai di pulau jirannya. “Kami tiada tahu apakah mereka masih memiliki hubungan namun tatkala dalam oto bus, pemandu kami mengatakan kalau nama pantai ini berasal dari dua kata yaknim”Ku” yang bermakna saya dan “Ta” yang bermakna anda..” terang kawan kami St. Rajo Basa.

Tatkala kami tanyakan ke google, tiada kami dapat, nan ada ialah sejarahnya saja atau lebih tepatnya ialah hikayat perihal seorang puteri nan cantik jelita dan diidamkan banyak pria. Walau demikian kami masih tetap penasaran, kami coba mencari perihal Kuta di Bali, rupanya nama Kuta di Bali bermakna Benteng dimana nama itu diberikan oleh Gajah Mada tatkala mendarat di pulau itu pada masa Majapahit.

Pantai ini sungguh elok, pasir putih dengan butirannya yang agak lebih besar dari pasir biasa, ombaknya nan tenang, airnya nan biru, serta untaian perbukitan yang mengelilingi pantai tersebut bak teluk. Satu-dua perahu nelayan tampak memecah ombak, sebagian lagi terayun-ayun oleh tamparan ombak. Sungguh elok pemandangannya di hari Jum’at itu, hanya saja matahari panas menyengat kulit membuat orang dari Negeri Melayu itu tiada tahan. Padahal beberapa orang perempuan kulit putih dengan santainya menggelar kain di atas pasir dan kemudian merebahkan badannya untuk tidur di bawah sengatan matahari tengah hari.

“Kami cukup terkejut, kami sangka perempuan bule nan sangat sederhana penampilannya ini hanya dibolehkan di Pulau Trawangan saja, rupanya disini ada pula..” kisah kawan kami

“Tatkala baru sampai di pantai itu, kami diarahkan menuju rumah makan untuk makan tengah hari, tiada langsung ke pantai. Dari atas oto bus beberapa orang telah melempar gurauan perihal kaca mata hitam karena di pantai sana para perempuan bule sedang menghitamkan kulitnya. Selepas makan, kami dan seorang kawan memutuskan untuk menikmati keindahan pantai itu. Adapun dengan anggota rombongan nan lain masih duduk-duduk di rumah makan, ada nan masih menyelesaikan hidangan makan tengah hari, dan ada pula nan melepas rangah selepas makan sampai kenyang..” kisah St. Rajo Basa

Picture: Here
Picture: Here

“Adakah engku bawa kaca mata hitam engku itu?” tanya kami bergurau

“Adalah engku, itu tiada lupa, telah sedia sebelum turun dari bus..” jawabnya memperlurus.

“Sepi disana, hanya beberapa orang pelancong melayu, muda-mudi nan sedang melepaskan jiwa muda, para bule nan sedang menghitamkan kulit, serta sepasang suami isteri berkulit kuning bermata sipit yang kami dapati semenjak dari Desa Sade tadi..” lanjutnya berkisah.

Pelancong berkulit kuning [Picture: here]
Pelancong berkulit kuning [Picture: here]

Kemudian St. Rajo Basa memperlihatkan gelang nan dipakainya di tangan kiri itu kepada kami. Memanglah semenjak pulang dari Lombok kawan kami nan seorang ini selalu memakai gelang di tangan kiringnya. Gelang bewarna hitam dan berupa biji tasbih itu rupanya dibelinya di Pantai Kuta dari seorang pedagang kanak-kanak nan memohon agar berkenan membeli dagangannya karena sedari pagi belum ada nan laku dijual.

Semula diabaikannya namun si anak perempuan nan masih bersekolah di sekolah es de itu tiada peduli. Dikawaninya terus St. Rajo Basa berdiri di atas batu karang nan menjorok ke laut itu sembari menyinyir agar dagangannya dibeli. Di bawah sengatan matahari tengah hari nan menyengat, dia berdiri di atas batu karang tanpa alas kaki. Sungguh kawan kami ini merasa serba salah, rasa ibanya semakin menjadi-jadi “Cuma lima ribu engku harga gelang ini satu..” ucap si perempuan kanak-kanak itu dengan nada dan tekanan suara khas orang pesisir

Tatkala mendapat telpon dari engku sekretaris menyuruh segera ke oto bus karena rombongan sudah hendak berangkat menunaikan shalat Jum’at semakin serba salah ia. Akhirnya diambilnya uang dari saku seluarnya[1] lalu diserahkannya kepada salah seorang anak “Kalian bagi uang ini berdua..”

Namun beru beberapa langkah kawan kami teringat akan sesuatu “Cobalah tengok gelang-gelang kalian itu..” tanyanya kepada kedua gadis, salah seorang gadis memperlihatkan gelang-gelang nan dijualnya. Sudah lama terbit keinginan dalam hati kawan kami ini untuk memiliki sebuah gelang untuk dikenakan “Mungkin inilah saatnya..” ucapnya dalam hati.

Demikianlah asal muasal gelang buruk di tangan kiri kawan kami itu, sungguh aneh lelaki memakai gelang serupa perempuan. Tapi tiada kami sampaikan, takut kena hantam kami nanti,.

_______________

Catatan Kaki:

[1] Celana

Baca Juga:

[1] http://coretan-rhunis.blogspot.co.id/2011/11/pantai-kuta-lombok.html

[2] https://ridwanbahasa.com/2015/03/25/asal-usul-nama-tempat-dan-nama-diri-di-bali/

[3] https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20111017012315AAt7fmh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s