Koto Gadang ke Sianok

Nagari Koto Gadang nun jauh disana

This is not our first time came to Koto Gadang Village, but this is our first time walk through different avenues. Mr. Katik Rajo Agam bring us toward Sianok Village, bisade Koto Gadang Village. In this way we found the Kerajinan Amai Setia who founded by Rangkayo Rohana Koedoes, one of Minangkabau Great Woman.

__________________________________

Masih pada hari keempat di bulan Ramadhan 1437 H ini, begitu selesai berpesiar ke Nagari Sungai Tanang, kami beserta Katik Rajo Agam kawan kami segera menuju ke Nagari Koto Gadang. Setiap nagari di Minangkabau ini memanglah memiliki pesona yang berlainan. Nagari Koto Gadang terletak serupa di sebuah pulau, jalan yang kami lalui membelah kawasan persawahan yang sangat luas. Ditambah pada sisi kiri dan kanan jalan ditumbuhi oleh pohon mahoni dan cemara yang tinggi menjulang. Seolah-olah kami melalui sebuah lorong yang teramat panjang menuju Nagari Koto Gadang.

Inilah rumah nan menarik perhatian kami itu

Nagari Koto Gadang terkenal sebagai Kampung Engku Doktor hal ini karena sebagian besar anak nagari disana tumbuh menjadi pribadi-pribadi sukses hasil dari pendidikan barat semenjak masa kolonial. Namun bagi kami, nan membuat hati ini tertarik datang ke nagari ini ialah kekayaan peninggalan bersejarahnya. Terdapat banyak rumah-rumah lama di nagari ini, rumah-rumah khas zaman kolonial. Arsitekturnya merupakan percampuran antara arsitektur Belanda dengan aristektur Melayu (Minangkabau). (more…)

Kedai Tua

Kntr muhammadiyah koto marapak

Gambar di atas ialah gambar sebuah kedai pada salah satu nagari di Luhak Agam (dekat Kota Bukit Tinggi). Sebuah kedai yang kemungkinan berasal dari masa berpuluh tahun, kalau tak berasal dari masa Belanda berarti kedai ini dibuat selepas Indonesia merdeka.

Ciri khas bangunan orang dahulu di negeri kami ialah terbuat dari kayu, hanya orang-orang berpunya saja yang dapat membuat rumah dari batu. Demikianlah dahulu, bertolak belakang dengan masa sekarang. Kalau pada masa sekarang, membuat rumah kayu itu nan mahal.

Kedai bertingkat serupa ini termasuk jarang kami dapati, kebanyakan bangunan orang-orang di sini ialah tiada bertingkat. Lagi pula bangunan kayu memang jarang dibuat oleh orang bertingkat dua serupa ini.

Demikianlah, perlahan-lahan banguna kayu – apakah itu rumah ataupun kedai – mulai hilang dari pandangan mata. Digantikan oleh bangunan dari batu. Beruntung kami pada tengah hari di bulan puasa ini berpesiar keliling negeri sehingga tersua dengan bangunan kedai ini. Beruntung pula sedang tutup, kalau dibuka oleh orang, tiadakan berani kami mengambil gambarnya. (more…)

Masjid Lama & Masjid Baru

Surau Lamo & Surau Baru
Surau Lamo & Surau Baru

Pada suatu Ahad di bulan puasa tahun ini kami dibawa berkeliling oleh adik kami. Sebenarnya selepas menjemput kami di Jambu Aia, adik kami membawa kami keliling-keliling mencari nasi bungkus hendak dimakan untuk berbuka nanti. Biasanya kami hanya membeli tiga bungkus nasi untuk dimakan berlima di rumah. Biasanya sudah cukup, kalau kurang nasi di rumah ada untuk patambuah[1]. Demikianlah kami sekeluarga, memang nasi bungkus yang diramas memiliki cita rasa sendiri karena campuran kuah, sayur, dan cabe yang dimasukkan ke dalam nasi menambah kenikmatan menyantapnya.

Kamipun mengarahkan agar adik kami melalui sebuah jalan yang rupanya belum pernah mereka lalui. Jalan ini menghubungkan Gadut dan Pekan Kamis. Kedua daerah tersebut terletak di dekat Bukit Tinggi.

Kami pernah melalui jalan ini beberapa kali dan sangat menikmati perjalanan. Negeri yang kami lalui sungguh elok sangat keadaan alamnya. Walau kami yakin beberapa tanah di negeri ini telah berpindah tangan ke orang luar dimana ditunjukkan dengan berdirinya beberapa perumahan di sekitar sini. (more…)