Nagari Sungai Tanang

Tabek Gadang

Sungai Tanang Village (In Minangkabau; Nagari Sungai Tanang) located in Agam Regency or 8,6 Km from Bukit Tinggi City. People in the era of 1960’s was know this village as one of tourism destination, there are water springs named Tagan and Tabek Gadang (huge fish pond). The water springs was become a water source for Bukit Tinggi City. This village located at the foot of Mount Singgalang and face to Mount Marapi.

___________________

Pada hari keempat di bulan Ramadhan 1437 H ini, selepas shalat Zuhur kami bersama seorang kawan pergi berpesiar keliling negeri di Bukit Tinggi dan Agam. Semula rencana kami ialah hendak ke Nagari Koto Gadang namun di tengah perjalanan kawan kami membelokkan ondanya[1] ke kiri. Pada gerbang masuk tertulis Nagari Sungai Tanang “Pernahkah engku ke sini?” tanyanya sambil membawa onda dengan cukup laju.

Nun Jauh disana ialah Masjid Jamiak

“Tiada pernah engku..” jawab kami kesenangan, sebab kami memang berminat sekali berpesiar ke negeri nan belum pernah kami ziarahi. (more…)

Jam Bertuah Bersolek

Repainting [Pict taken on Saturday, Mei 14, 2016]

Jam Gadang ialah lambang sekaligus kebanggaan bagi bandar kami. Semenjak hari Senin nan silam tanggal 9 Mei 2016 telah dimulai pengecatan terhadap Jam Gadang ini. Beberapa orang pemanjat tebing yang telah berpengalaman melakukan pekerjaan serupa di dalam dan luar negeri dilimpahi kepercayaan untuk mempercantik jam kebanggaan orang Bukit Tinggi Selingkar Agam ini.

Sebelumnya telah banyak yang risau melihat keadaan Jam Gadang yang telah berlumut pada beberapa tempat dan murung keadaannya. Oleh karena kemurungan itulah maka dipercantik ia, walau tatkala diambil gambarnya, Jam Gadanh dapat diedit serta dipercantik. Namun tetap tampilan asli perlu dijaga dan diperbaharui. (more…)

Citizen Journalism

Picture: justwrite-athing.tumblr.com

Kata orang kalau berembun di pagi hari maka itu tanda akan panas seharian. Namun betapa janggalnya karena selepas pukul sembilan hujan rinai mulai turun, sebentar hilang kemudian datang lagi. Serupa dengan seorang kekasih nan sedang merajuk kelakuannya.

Sampai tengah hari masih demikian, ketika itu kami sedang berada di Los Lambuang[1] bersama dua orang induk semang kami. Padahal matahari bersinar cukup cerah, hanya saja ketika hujan rinai tiba ia sembunyi. Sama pula kelakuan matahari dengan hujan rinai ini, sebentar tiba tak berapa lama kemudian ia pergi sembunyi. Sama-sama perajuk mereka hari ini.

Kamipun hendak merajuk pula, tiada hendak mengisahkan perihal hujan dan matahari ini. Sama-sama merajuklah awak.. (more…)