My Country Side

Country Side

Sudah lama kiranya kami tak berjalan menengok-nengok kampung. Maklumlah, rumah kami terletak di perbatasan nagari, orang perbatasan. Begitu melangkah sampai di nagari jiran, demikian nan selalu kami lakoni tiap hari.

Ahad petang ini, kami bersama ayah, bunda, dan adik pergi menziarahi rumah bako[1] yang berada pada salah satu kampung di dalam nagari.

Petang hari ini sangat cantik, matahari bersinar cerah, langit biru, dan awan-awan menggantung di awang-awang. Sungguh berlainan dengan petang hari nan biasanya selalu hujan atau kalau tidak mendung.

Di tengah perjalanan menjelang sampai ke rumah bako, kami dapati suatu pemandangan nan sedap dipandang mata. Kiri-kanan ialah kawasan persawahan, nun jauh disana ialah Gunung Marapi yang sedang berselimutkan awan, di ujung ialah kampung bako kami. Serupa terletak pada sebuah pulau saja kampung bako kami itu.

Beruntung kami pada petang hari ini, beruntung kami tinggal di sebuah nagari nan permai, dan beruntung pula pada petang hari ini sangat cantik menawan hati.
———————
Catatan Kaki:
[1] Keluarga ayah, saudara perempuan ayah – at Tan Kamang Kamang Hilia

View on Path

Mengobati Kerisauan

Beautiful Afternoon – One day in April
[Di Perpustakaan Bung Hatta]

Selain di pagi hari, menurut kami kecantikan alam akan tampak memukau di petang hari. Selain itu, sinar matahari juga jauh lebih bersahabat. Tidak hanya itu, pancaran cahaya serta warnanya juga memikat.

Bagaimana gerangan pendapat engku, rangkayo, serta encik sekalian? Adakah sefaham kita?

Semenjak pagi hingga petang, dengan segala persoalan yang dihadapi, bermacam ragam jenis orang yang ditemui, berlainan pula perlakuan yang didapat. Tentulah bermacam ragam pula perasaan yang berkecamuk dalam bathin.

Kata orang, dengan memandang alam nan permai akan mendatangkan ketenangan dan kedamaian pada jiwa ini. Lelah ia dihantam dengan berbagai soal yang sebagian besar tiada berkenan pada bathin. (more…)

Luhak Agam nan Permai

Nun Jauh di kaki Bukit Barisan sana ialah kampung kami Nagari Kamang [Picture: https://justwrite-athing.tumblr.com/]

Memanglah tiada salah, kampung halaman kami Luhak Agam sungguh permai, bukan hendak menyombong atau melebay (bahasa orang sekarang). Hal ini kami dapati pada suatu petang selepas pulang kantor di hari Kamis[1], kami dibawa oleh kawan kami menempuh jalur lain menuju rumah. Kebetulan arah rumah kami sejurusan.

Maka lalulah kami ke nagari-nagari yang ada di kaki Gunung Marapi, nagari-nagari inipun takkalah permainya pula. Dari sini tatkala kami memandang jauh ke bawah maka akan tampak jajaran sawah dan perkampungan penduduk hingga jauh ke kaki Bukit Barisan sana. Dari kaki Gunung Marapi ini tatkala memandang ke arah Bukit Barisan tampaklah oleh kami nuh disana, diselimuti kabut, Nagari Kamang kampung kami. Tampaknya asap itu berasal dari asap orang membakar jerami di sawah. (more…)

Di kala Petang

DSCF1283

Gambar ini kami ambil pada suatu petang dalam perjalanan pulang dari Bukit Tinggi ke kampung kami di Kamang. Kalau tak salah kami ambil di kawasan Kapau atau Koto Tangah, kami tiada ingat betul.

Inilah keadaan alam di kala Petang tatkala alam mulai menanti kedatangan magrib. (more…)