M E M O R I E

M E M O R I E

Sabtu malam atau malam Ahad, kami biasanya pergi ke Taman Sabai Nan Aluih -demikian namanya- di bandar kami. Semenjak beberapa bulan ini pada setiap Sabtu malam rutin digelar pertunjukan seni disana. Mengambil beberapa gambar dan selepas itu kami pergi pulang, hanya beberapa kali kami hadapi sampai selesai pertunjukan itu. Akibatnya, Ahad esoknya kami tiada masuk piket karena keletihan dan mengantuk.

Beragam kelompok kesenian yang tampil, tak mesti dari bandar kami saja, dari luar bandar juga boleh. Bahkan kantor kami akan sangat senang apabila orang dari luar bandar yang datang mendaftar. Peralatan sound system disediakan oleh kantor kami.

Seperti malam ini yang tampil ialah murid-murid dari SMK N2 Lubuk Basung. Sungguh jauh perjalanan mereka dan malam ini keteguhan hati mereka tengah diuji, tatkala pemain randai sedang bersiap masuk ke galanggang, hujan rinai turun. Perlahan-lahan hujan rinai itu mulai rapat. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, demikian pula dengan kami. (more…)

Ci Luk Baaa…

Ci Luk Baaa…

Kami tersenyum saja tatkala memeriksa gambar yang baru saja kami ambil. Mungkin ini yang dinamakan “momen yang pas”, pas orangnya, pas waktunya, pas pula tempat tegak kami, serta pas pula sedang membawa kamera.

Mengambil gambar-gambar itu memang butuh kesabaran dan keberuntungan. Sesabar apapun kita kalau tiada beruntung takkan mendapatkan gambar yang bagus. Sedang “beruntung” kita walau tiada bersabar dapat juga. Tampaknya “keberuntungan” lebih menentukan.

Jam Gadang dan Taman Sabai nan Aluih menyimpan banyak cerita. Sebenarnya banyak jua gambar bagus nan telah kami ambil namun tiada semuanya dapat kami tampilkan. Sebab yang bagus-bagus itu belumlah tentu patut untuk ditampilkan. (more…)

The Heir

Pandeka Kaciak || The Little Warrior
Sabai nan Aluih Park, Bukit Tinggi, West Sumatera
[Sunday, Mei 15, 2016]

Pagi menjelang tengah hari, ketika itu suasana cukup tenang di Taman Sabai nan Aluih. Di taman inilah Jam Bertuah yang menjadi kebanggaan bandar kami terletak. Hanya riuh rendah suara pedagang nan bercampur dengan suara pelancong. Cukup banyak orang nan datang apabila dibandingkan dengan hari Ahad biasa. Maklumlah anak kelas tiga baru saja selesai ujian.

Beragam negeri asal para pelancong apabila dipandangi dari cara berpakaian mereka. Walau masih dalam republik ini, namun keadaan setiap daerah berbeda-beda. Apabila tuan berkesempatan datang ke bandsr kami ini dan berkenan meluangkan waktu agak beberapa jam pada hari libur untuk tegak-tegak di sekitar Jam Gadang. Maka akan banyak tuan dapati paha mulus, bahu putih, punggung nan berambut halus, leher nan jenjang, serta susu dan pinggul yang dibungkus rapi serupa membungkus lapek[1]. Kata seorang kawan kami “Sungguh kejam nian Kaum Perempuan itu. Pandai mereka menyiksa bathin kita Kaum Lelaki ini..”

Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil patroli, rupanya mobil itu merupakan kepala dari barisan rombongan Kafilah Khatam Qur’an salah satu masjid jami’ di bandar ini. Cukup panjang dan banyak mereka dan nan menjadi ekor dari rombongan ini ialah barisan penabuh Tabuah Tansa. (more…)

Jam Bertuah Bersolek

Repainting [Pict taken on Saturday, Mei 14, 2016]

Jam Gadang ialah lambang sekaligus kebanggaan bagi bandar kami. Semenjak hari Senin nan silam tanggal 9 Mei 2016 telah dimulai pengecatan terhadap Jam Gadang ini. Beberapa orang pemanjat tebing yang telah berpengalaman melakukan pekerjaan serupa di dalam dan luar negeri dilimpahi kepercayaan untuk mempercantik jam kebanggaan orang Bukit Tinggi Selingkar Agam ini.

Sebelumnya telah banyak yang risau melihat keadaan Jam Gadang yang telah berlumut pada beberapa tempat dan murung keadaannya. Oleh karena kemurungan itulah maka dipercantik ia, walau tatkala diambil gambarnya, Jam Gadanh dapat diedit serta dipercantik. Namun tetap tampilan asli perlu dijaga dan diperbaharui. (more…)