Senyum yang sejenak

Awan Hujan [Sunday, Mei 8, 2016]

Pagi hari terkadang berembun dengan pekat – walau tidak merata embunnya – kemudian matahari menyeruak ditengah-tengah alam nan memutih. Sinar pagi dari matahari kata orang menyehatkan. Menjelang pukul dua belas sinar matahari nan menyilaukan itu mencerahkan alam.

Namun beranjak tengah hari, awan mendung mulai berdatangan, terkadang putih saja warnanya terkadang hitam. Biasanya diiringi dengan angin yang bertiup agak kencang. Perlahan hari yang cerah beralih menjadi hari yang mendung dan kemudian berganti dengan hari hujan. Terkadang, guruhpun ikut menyapa, memberi kabar bahwa sebentar lagi hujan turun. Dan terkadang pula guruh dan angin kencang ikut menemani hujan turun ke bumi.

Kata orang musim sekarang ialah musim tak menentu, dalam sehari cepat sekali alam berubah rupa. Dari yang cerah menyenangkan menjadi sendu sedan dengan tangisannya yang mencurah ke bumi. Ada apa gerangan? (more…)

Petang Hari nan Elok

DSCF1609Semenjak beberapa pekan ini kabut tipis menyelimuti negeri kami “Kabut Asap agaknya ini..” kata sebagian orang. Namun kami tiada yakin karena tiada pernah keluar diberita perihal propinsi jiran kembali bermain api. Memanglah jiran kami ini sangatlah nakalnya karena hampir setiap tahun kejadian serupa kembali terulang. Suka sekali bermain api sehingga asap yang dihasilkan tiada terkira.

Ada kawan yang bergarah[1] “Kalau awak mengekspor barang kebutuhan pokok ke jiran awak maka giliran mereka membalas budi dengan mengekspor asap hasil meunggun..”

Namun pada suatu petang nan cerah kami dapati keadaan berlainan, langit cerah sehingga pemandangan jauh lepas. Mungkin karena kemarin turun hujan seharian sehingga udara dibersihkan, benar agaknya kata Engku Guru mengaji di surau “Hujan itu rahmat dan berkah dari Allah Ta’ala, jangan disesali..”

Petang hari ini dalam perjalan pulang dari kantor kami mendapati suasana petang nan menyenangkan. Sudah lama kami tiada mendapati suasan yang demikian, matahari petang menyinari dari balik awan, Gunung Marapi dan Singgalang yang dengan setiap mengamati masyarakat di Luhak Agam ini, hamparan pesawahan yang sedang menghijau dan sebagian lagi menguning. Arak-arakan awan di langit dengan latar langit biru. Sungguh cantik sangat.. (more…)

Malam nan Cantik

bulan dari oto

Gambar ini kami ambil dari atas oto[1], adik lelaki kami yang menyupir[2] dan kami duduk di bangku penumpang. Ketika itu adik kami berujar “Tengoklah tuan, bulan penuh dan haripun cerah..” sambil menunjuk ke sebelah kanannya.

Kami tengok ke arah kanan, dan benar saja, bulan sedang penuh. Kami julurkan kepala keluar, benar lagi, cuaca malam inipun cerah pula. (more…)

Awan di langit

awan

Foto ini ialah foto nan biasa-biasa saja, tiada nan istimewa. Kami mengambil foto ini tatkala sedang duduk berleha-leha di atas oto[1] kawan kami. “Tak panaskah?” tanya engku.

“Taklah.. engku. Kawan kami memarkirkan otonya tepat dibawah sebuah batang pohon nan rindang sehingga sejuk terasa hari walau matahari bersinar dengan teriknya..” jawab kami. (more…)

Matahari & Gerbang Sekolah

mentari di gerbang sekolah

 

Sungguh senang hati tatkala dapat menyaksikan terbitnya matahari di hari nan cerah. Pagi ini kami habiskan sunrise bersama isteri kami. Isteri kami sedang makan bubua samba[1] adapun dengan kami cuma meminta sekadarnya saja. Justeru karena itulah kami dapat dengan senang hati menikmati cahaya mentari di pagi hari.

“Cepat matahari terbit hari ini tuan..” kata isteri kami sambil menyuap bubua samba ke mulutnya.

Kami heran karena tiada pernah melihat jam ketika matahari terbit, menurut kami tidak pula cepat-cepat benar, sekarangkan baru pukul tujuh pagi.

Gambar ini kami ambil di hadapan sekolah tempat isteri kami mengajar, jalanan masih agak lengang, satu-dua orang berlalu-lalang, kebanyakan dari mereka ialah anak sekolah, guru, ataupun orang tua yang mengantar anaknya pergi sekolah. Lepau tempat isteri kami makanpun sudah mulai beranjak ramai oleh anak-anak sekolah

1. Lontong (more…)