Harta Pusako di Minang

Kami sangka, seluruh orang Minangkabau yang tinggal di Alam Minangkabau ini faham dengan adat kami. Namun agaknya tidak, sebagian besar orang Minangkabau telah menjadi asing di negeri sendiri. Salah satu perkara nan selama ini menjadi pertikaian bahkan di Ranah Minang sendiri ialah perkara harta pusaka dan garis keturunan ibu (Matrilineal).

Maka tatkala kami sedang bersiar-siar di Ranah Maya bersualah oleh kami perihal harta pusaka nan jatuh ke kamanakan terutama sekali kepada Kaum Perempuan di Minangkabau ini. Adalah Datuk Seri Ulama Setia Negara nan menerangkan dengan baik pada beberapa kaji nan disampaikan oleh beliau. Engku Datuk menjelaskan bahwa harta pusako di Minangkabau termasuk kepada harta wasiat ataupun harta waqaf keluarga. Dimana peruntukkannya ialah bagi kaum perempuan nan pada beberapa kejadian acap ditelantarkan oleh suaminya.

Beberapa orang nan pernah kami tanyapun pernah menjawab bahwa harta pusaka di Minangkabaua itu semacam asuransi pada masa sekarang. Dimana dengan harta itulah sekalian anggota keluarga baik itu perempuan maupun laki-laki dirawat. Misalnya apabila seorang laki-laki sakit, maka ia akan dijemput dari surau tempat ia tinggal ataupun dijemput ke rumah anaknya. Lalu dibawa ke rumah kamanakannya untuk dirawat sampai sihat. Selepas sihat maka ia akan kembali ke rumah anaknya atau kesurau tempat biasa ia tidur.

Harta pusaka itu ialah milik bersama, bukan milik perseorangan. Karena Minangkabau tak mengenal hak milik pribadi, kecuali pada masa sekrang dimana semua harta kena pajak dan nan kena wajib pajak ialah pemiliknya. Maka timbullah kegaduhan disaat akan mensertifikatkan tanah tersebut.

Namun, kata kawan kami itu, pada kenyataannya banyak nan tak berjalan sebagai mana nan telah diarahkan tersebut. Sebab tak tahu dengan adat, tak mendapat ajar dari mamak, nenek, ataupun niniak mereka. Kebanyakan kaum perempuan merasa harta itu hanya miliknya seorang. Tak hendak ia mengacuhkan saudaranya nan sedang kesusahan, harta itu diambil manfaatnya hanya untuk dirinya, anak-anaknya, dan bahkan suaminya. Maka kemudian para laki-laki nan merasa terzhalimi tersebut menuntut hak mereka atas harta tersebut.

Lebih lanjut kawan kami tersebut menjelaskan, pada masa dahulu di Minangkabau, marwah (harga diri) keluarga sangatlah utama dan dijaga. Bagi satu keluarga akan malulah ia apabila anggota keluarga mereka nan laki-laki tak dapat menafkahi anak dan isterinya. Terkadang apabila ada beras maka disuruhlah ia membawa beras ke rumah isteri “Tuan bawalah beras itu, biar terasa pula oleh anak saya[1] manisnya beras bakonya..[2]”

Atau apabila si lelaki tak memiliki mata pencaharian, sementara ia memiliki tanggungan anak dan isteri maka akan diberikanlah ia hak guna serta mengambil manfaat terhadap salah satu harta semisal sawah ataupun ladang. Biasanya orang tua pada masa dahulu akan berpesan kepada anaknya “Sawah itu ialah sawah bako engkau, jadi selepas ayahmu ini meninggal maka sawah itu kembali kepada kamanakan ayah..”

Namun pada beberapa kejadian, tak ada pewarisan cerita semacam itu makanya terjadi pertikaian. Si anak nan semenjak kecil sudah diajak menolong ayah bundanya di sawah tersebut menyangka bahwa sawah nan dikerjakan oleh orang tuanya itu sawah mereka padahal sawah pusako milik bakonya.

Namun zaman telah berganti, sangatlah jarang tersua Kaum Perempuan nan baik budi serupa itu. Nan terpegang oleh mereka bahwa harta pusako milik perempuan, kaum laki-laki (saudara laki-laki ataupun mamak) tak punya hak atas harta itu. Hanya mereka seorang.

“Berlainan dengan harta pencaharian..” terang kawan kami tersebut. Harta pencaharian yang didapat dari jerih payah seseorang maka itu dibagi menurut Hukum Syari’at.

Demikianlah hasil perbincangan kami dengan kawan tersebut..

___________________

Catatan Kaki:

[1] Dalam tradisi orang Minangkabau, anak dari saudara laki-laki ialah anak jua bukan keponakan. Keponakan tak dikenal di Minangkabau dan keponakan taklah sama dengan kamanakan.
[2] Bako ialah keluarga ayah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.