Ninja Lalu

Picture: https://www.moviehdwallpapers.com

Di kampung kami perempuan nan memakai cadar amatlah payah didapati. Pernah sesekali bersua oleh kami mereka di tempat pelancongan di bandar kami, ada jua sekali pernah ada nan bersua di kantor, pada suatu pameran nan diadakan oleh bandar kami pernah pula bersirobok, dan entah dimana lagi nan tak berhasil kami ingat sebab telah lama sekali.

Satu kesamaan mereka yakni seluruh pakaian – gamis, jilbab, dan cadar – bewarna hitam. Belum pernah kami dapati yang memakai warna lain, atau berlainan antara warna gamis, jilbab dan cadar.

Beragam tanggapan dan pandangan orang terhadap perempuan bercadar. Ada nan diam memandang penasaran, penuh rasa ingin tahu gerangan amalan serupa apa nan tengah mereka amalkan? Sebab kami sendiri tak pernah mendengar perihal syari’at perempuan bercadar itu – sebab tak pernah dikaji oleh Tuanku di surau – Ada jua nan penasaran akan wajah nan tersembunyi oleh tabir itu. Serta ada jua nan berbulu hatinya serta panas terasa dibadannya karena panas neraka telah sampai ke atas dunia menyambangi hatinya nan busuk itu.

Bercakap perihal nan satu itu, ada seorang kawan nan membari tanggapan “Salah satu tujuan perempuan menutupi wajahnya dengan tabir itu ialah untuk menghindari fitnah, terutama dari kita kaum lelaki..”

“Fitnah serupa apapula itu engku?” tanya nan lain

“Pernah kami mendengar kalau kita laki-laki ini terangsangnya dengan pandangan sedangkan perempuan itu dengan sentuhan..” terangnya “Entah benar entah tidak, namun sejauh pemandangan kami, kita kaum laki-laki amat payah dalam memelihara pandangan. Bak kata pepatah kita; mata condong ke nan cantik, selera condong ke yang nikmat.”[1]

“Benar engku, betapa banyak fitnah nan berlaku karena pandangan mata nan tak terkawal itu..” sambut nan lain

“Tapi ada jua nan mencemooh orang bercadar itu dengan sebutan ninja..” kami ikut membuat gaduh “Tengoklah, ninja lalu itu haa..” kata kami menirukan cemoohan orang-orang munafik.

“Bermacam-macam lagi engku..” sambut kawan kami tersebut “Ada nan benar-benar tak faham perkara perempuan bercadar ini dan ada pula nan telah anti dengan hal-hal yang berbau syari’at..” tambahnya “Bagi mereka hal-hal yang berbau Islam sama dengan Arab, dan mereka amat benci dengan itu..”

“Padahal mereka orang Islam..” seru kami heran

“Tentulah demikian kawan, bukankah Abdullah bin Ubay[2] itu berasal dari Tanah Arab jua, berpakaian layaknya orang Arab, berbahasa Arab, dan makan makanan Arab pula..” jawabnya.

“Lalu kenapa begitu benci dengan Arab sedangkan dengan Barat nan jelas-jelas menjajah kita mereka tiada benci..” tanya kami penasaran “Melihat perempuan memperlihatkan betis, paha, belahan dada, rambut, lengan, serta ketiak tak mengapa bagi mereka..”

“Disitulah letaknnya kedengkian mereka, kata orang Barat double standar engku..” jawab kawan kami.

Kami terdiam, hingga kini belum faham kami dengan alasan para perempuan memakai cadar itu, namun satu hal nan pasti, hati kami lebih sejuk terasa melihat mereka dibandingkan perempuan lainnya.

____________________

Catatan kaki:

[1] Pepatah Minang; Mato condong ka nan rancak, salero condong ka nan rancak
[2] Abdullah bin Ubay ialah seorang Yahudi Madinah yang pura-pura masuk Islam namun di belakang nabi dia menghasut dan memburuk-burukkan Islam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s