Upacara dalam Oto

Picture: http://archive.boston.com

Upacara merupakan sesuatu nan menjemukan bagi kami semasa sekolah. Tersebutlah pada suatu ketika kami mendapat perintah dari sekolah untuk mewakili sekolah kami pergi upacara bersama kawan-kawan ke halaman kantor kecamatan. Hari telah mendung sedari kami berangkat sekolah, udara nan telah sejuk itu bertambah dingin saja. Bagi kami anak laki-laki, terpantang memakai baju hangat, apabila ada anak laki-laki nan memakai baju hangat maka akan digelari dengan gelar bencong. Sungguh durjana memang. Padahal udara di negeri kami merupakan nomor dua terdingin di Minangkabau ini.

Tatkala upacara hendak berlangsung, hujan rinai mulai turun. Kemudian tak lama kemudian mulai bertambah rapat. Maka beberapa orang kawan-kawan berhamburan mencari tempat perlindungan. Sepatu kami telah bergulimang lunau[1] demikian juga dengan sepatu kawan-kawan. Tak hanya kami, beberapa orang pegawai nan juga mendapat malang seperti kami kelimpungan pula mencari tempat berteduh.

Seorang engku-engku yang kemungkinan pejabat berteriak-teriak di depan pengeras suara, menyuruh sekalian pasukan yang tercerai berai itu agar kembali ke barisan mereka. Ada nan kembali namun lebih banyak nan bertahan. Lalu diutuslah para hulubalang untuk mengembalikan pasukan nan membangkang itu. Melihat para hulubalang maka lintang pungkanglah kami semua. Ada nan berlari masuk ke dalam barisan di tengah hujan deras itu. Namun lebih banyak yang desersi entah kemana.

Kami dan kawan-kawan melihat oto[2] mantan kepala sekolah kami parkir tak jauh dari lapangan kecamatan. Terkenang oleh kami kalau pintu bagian belakang oto Engku Kepala itu telah rusak, jadi tak dikunci. Mujur nasib kalau belum diperbaiki kalau tidak maka terpaksalah mencari akal agar tak tertangkap oleh para hulubalang.

Salah seorang kawan kami memeriksa bagian belakang itu tatkala kami beri tahu, lalu kemudian sambil tersenyum ia memberi tanda agar kami semua menghampirnya. Berempat kami jumlahnya, dan keempat murid pembangkang ini bersembunyi di dalam oto kepala sekolah yang hangat itu.

Salah seorang kawan kami mengeluarkan rokok (yang merupakan barang haram bagi seorang murid) hendak disulutnya “Gila kau, kemana asap itu hendak keluar kalau disini kau merokok..!!” bentak seorang kawan kami. Maka diurungkannyalah niatnya itu.

“Padahal awak hendak membagikannya dengan kalian..” ujarnya kesal. Dan kamipun memandang dengan menyesal kepada kawan nan menegah tadi.

Dari dalam mobil kami tergelak melihat kawan-kawan dari sekolah lain serta beberapa barisan yang diisi oleh pegawai. Inilah pertama kalinya kami mengikuti upacara dari dalam oto. Di dalam oto, kami sibuk mempergunjingkan si empunya oto ini. Dahulu semasa menjadi kepala sekolah kami amatlah nyinyirnya ia, padahal ia seorang laki-laki. Biasanya nan nyinyir itu induak-induk berkodek.

Demikianlah, disaat nan lain terpaksa berhujan-hujan dan menahan dingin di luar sana, kami asyik bergunjing di dalam oto. Suatu perbuatan nan tak patut untuk ditiru..

___________________

Catatan kaki:

[1] Lumpur
[2] Mobil

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s