Tak kenal malu

Picture: http://ravepad.com

Dahulu semasa kanak-kanak pernah mendapat pengajaran “Apabila bertandang ke rumah orang, engkau jangan lasak[1] berjalan-jalan serta memegang ini dan itu. Faham engkau..” demikianlah peringatan bunda sebelum dibawa bertandang.

Namun karena masih kanak-kanak, nasehat bunda masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Dan sudah menjadi tabiat dari kanak-kanak pula kalau tiada hendak tenang dan memiliki rasa ingin tahun yang besar. Maka sepulang bertandang, menyinyirlah bunda “Apa daku kata, tak mendengar engkau. Malu bunda engkau ini, serupa anak tak mendapat pengajaran engkau itu..”

Berlainan dengan orang sekarang yang cenderung membiarkan apapun kelakuan anak atau cucunya, judulnya ialah “Sayang Anak” nan keluar dari mulut “Tak baik melarang anak pada zaman sekarang..”

Tampaknya pengajaran lama ini meninggalkan bekas pada beberapa orang. Bagi yang mendapat pengajaran dengan baik maka mereka muncul menjadi orang-orang yang beretika, apa nan bukan menjadi haknya takkan digaduh. Berlainan sekali dengan yang tak mendapat pengajaran, menjadi orang nan tak tahu malu.

Seorang kawan pernah berkisah perihal perangai tak tahu malu ini. Pada suatu ketika mereka bertiga orang bermalam di penginapan dan menyewa bilik nan sama. Tatkala mereka berjalan-jalan keluar, salah seorang dari kawan mereka ini kembali ke penginapan karena suaminya datang hendak berjumpa. Kebetulan pula sudah masuk waktu Ashar maka menumpang shalatlah suami kawan itu di bilik mereka. Satu kekurangan, tak ada lapik alas shalat, maka teringatlah kalau kawan nan seorang lagi memiliki lapik shalat di dalam tasnya.

Maka ditelponlah kawan nan memiliki lapik shalat ini hendak meminjam, diberi izin “Ambil saja dalam koper awak, tak dikunci..” demikianlah. Namun sebelum mengambil ke dalam koper, tampaklah olehnya lapik shalat menyumbul dari dalam tas kawan nan seorang lagi. Tanpa berfikir terlebih dahulu langsung saja dibuka itu tas dan diambilnyalah lapik shalat itu. Kena marahlah ia dari suaminya karena si pemilik tas belum dimintakan izin. Akhirnya takutlah ia, baru tersadar dengan silap begitu mendapat marah dari sang suami.

Demikianlah, sangat banyak orang serupa itu kami dapati pada zaman sekarang. Menggaduh punya orang disaat si pemilik tak berada di hadapan. Tak malu dan sama sekali tak merasa bersalah.

________________

Catatan Kaki:

[1] Tiada hendak tenang

Advertisements

2 thoughts on “Tak kenal malu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s