Sepasang Pengelana Jerman

Picture: https://image.shutterstock.com

Berjalan-jalan, bertamasya, atau melancong merupakan sudah menjadi kegemaran orang-orang sekarang. Mereka acap memanfaatkan waktu libur untuk pergi berjalan ke tempat pelancongan yang ada di negeri mereka. Tujuan mereka ialah untuk bersenang-senang guna melepas sesak nan ada di dada dan fikiran. Ada jua nan sekadar hendak bersenang-senang saja dan berbelanja menghabiskan uang.

Namun agaknya masih sedikit menemukan orang nan gemar melancong sambil berkelana. Melihat dan menziarahi daerah baru guna mencari tahu dan mempelajari keadaan negeri yang dikunjungi itu. Kalaupun ada, jumlah mereka sedikit dan payah bersua.

Kebanyakan dari pelancong pengelana itu ialah orang kulit putih yang datang dari Benua Eropa. Banyak yang beranggapan kalau mereka itu ialah pelancong papa karena berpakaian lusuh, menyandang tas besar dipunggung, rambut kusut karena jarang mandi, dan suka menginap di hotel-hotel murah, bahkan ada yang lebih dari itu yakni mencari tempat menumpang gratis.

Itulah nan kami temui beberapa hari nan lalu, sepasang pengelana asal Negeri Jerman yang memutuskan untuk berkelana keliling dunia dengan menaiki kareta[1]. Dikala hujan disaat mata hari hendak terbenam mereka sampai ke kantor kami, bertanya-tanya apakah kami memiliki tempat yang dapat digunakannya untuk menumpang menginap malam ini. Mereka berjanji bahwa esok pukul enam mereka sudah bangun dan pukul tujuh sudah berangkat lagi.

Alasan mereka sederhana dalam memilih kantor kami karena bangunannya merupakan bangunan tua. Mungkin di kampung mereka bangunan tua merupakan tempat persinggahan. Kawan kami semula bingung hendak bagaimana, petugas keamanan kantor mengatakan bahwa hal tersebut tiada mungkin. Namun akhirnya kawan kami mendapat jalan keluar, ia menelpon salah seorang kenalannya yang merupakan pemilik sebuah kedai di Kampuang Cino dimana kebanyakan pelanggannya ialah bule.

Demikianlah, akhirnya sepasang pengelana asal jerman ini mendapat tempat menumpang untuk tidur. Tak terbayang oleh kami bagaimana pengalaman mereka selama dua tahun semenjak mereka berangka dari kampung mereka. Adakah mereka pernah tak mendapat tempat menginap? Apa nan akan mereka lakukan apabila hal tersebut berlaku?

Banyak pertanyaan nan segan untuk kami utarakan, semisal; Bagaimana cara kalian membasuh pakaian? Dijemur dimana? Bagaimana apabila dijalan kalian tiba-tiba hendak ke kamar kecil, sedangkan kalian di negeri asing dimana bahasa kalian tak dimengerti oleh penduduk setempat? Apapula nan kalian hendak lakukan apabila makanan disuatu tempat tak cocok untuk perut kalian?

Entahlah, semoga mereka baik-baik saja..

Kami rasa ini merupakan salah satu masukan untuk negeri kami, karena para pengelana serupa mereka mesti jua diperhatikan. Pada beberapa negara, mereka menyediakan tempat-tempat khusus bagi para pengelana serupa ini. Para pengelana serupa mereka sangatlah mudah menjadi sasaran kejahatan. Apabila terjadi di negeri kita, tentunya kita akan sangat malu sekali..

 

___________________

Catatan Kaki:

[1] Sepeda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s