Wafer

Picture: Instagram

Dimasa kanak-kanak dahulu, roti dan biskuit merupakan makanan langka dan mahal. Tak sembarang orang dapat memakan makanan jenis itu sering-sering. Apabila ada keluarga datang dari rantau pulang kampung terkadang mereka membawa roti kaleng. Kalau tidak, tetamu apakah itu kelanalan ataupun handai taulan yang membawa makanan tersebut.

Roti kaleng tersebut berisi banyak macam kue, namun hanya satu yang menjadi incaran. Biasanya nan satu itulah nan menjadi pertikaian antara kami dengan adik-adik. Ya, ianya wafer, lain dari nan lain wafer itu dibungkus dengan rapi dalam plastik yang apabila hendak membukanya mengingatkan kami kepada membuka plastik bungkus rokok. Terkadang payah membukanya karena plastik merahnya telah putus sebelum sempurna terbuka.

Dahulu, belum ada orang menjual wafer serupa sekarang. Kini telah banyak macam ragam merek dan rasa wafer nan dijual oleh orang. Dahulu, kami mesti berebut dahulu untuk dapat menikmati wafer.

Saking sayangnya, kami membuka lapis per-lapis dari wafer tersebut. Menikmati rasanya, coklat, ya dahulu hanya ada satu rasa berlainan dengan kini yang telah banyak rasanya.

Terkenang kami dengan orang tua kami dahulu, sering bercakap perihal masa kanak-kanak mereka dimana tiada mengenal makanan pabrik serupa sekarang. Segala makanan nan mereka makan berasal dari tanaman yang tumbuh di bumi. Acap mereka bernostalgia ke masa kanak-kanak mereka, mengenang rasa yang begitu cepat berlalu. Kini, kami pula nan merasakan perasaan serupa.

 

 

Advertisements

One thought on “Wafer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s