Senandung Ria

Picture: Instagram

Bernyanyi ataupun sekadar bersenandung menjadi kebiasaan beberapa orang dalam meluahkan perasaan hati. Apakah karena riang ataupun sedih, mereka bersenandung ria dimanapun berada. Ada yang di dalam bilik (kamar), ada nan di tengah rumah, di ruangan kelas, di tempat kerja, bahkan di dalam bilik kecil (toilet/wc/amar kecil). Padahal salah satu adab dalam agama kita apabila berada dalam bilik kecil ialah menutup mulut, bahkan sekadar menjawab panggilanpun dilarang karena disana merupakan sumber penyakit sebab tempat pembuangan.

Apa nan dirasa itulah nan wujud dalam senandung ria berupa nyanyian itu. Namun janganlah engku tafsirkan dari suaranya karena itu bawaan lahir. Amatlah beruntung orang-orang nan dianugerahi suara indah nan merdu, mereka dengan bangga bersenandung bahkan menjadi biduan dan biduanita. Suara mereka dikagumi banyak orang, bahkan tak sekadar memilki suara indah mereka juga diberkahi dengan kepandai membuat syair-syair yang mereka bawakan dalam lagu mereka itu.

Ragam suara orang itu bermacam-macam, ada nan sangat indah, biasa saja, hingga suara nan buruk tak patut untuk di keluarkan. Kami termasuk kepada jenis nan terakhir itu, sangatlah cemburu hati kami tatkala mendengarkan kawan nan gemar bersenandung itu, suaranya rancak.

Oleh karena itu kami tiada hendak bernyanyi walau sudah disuruh berkali-kali. Bahkan ada kawan nan mengira kami memiliki suara emas sehingga tak hendak mengeluarkan. Nan ada ialah suara kami serupa besi berkarat yang mustahil untuk dibersihkan sakik tebal dan menahunnya karat itu. Sungguh mereka ialah jenis orang nan mengamalkan sifat terpuji nan dianjurkan dalam agama kita “Berbaik Sangka”.

Picture: Instagram

Ada jua kawan nan gemar bersenandung walau sudah acap kena sindir, namun dengan percaya diri ia tiada peduli. Ada nan menyerah ada pula nan semakin tajam sindirinnya bahkan ada jua nan berbicara langsung “Bagus rangkayo diam lagi, senang hati orang dibuatnya. Mendengar suara rangkayo rasa hendak pecah gendang telinga awak ini..”

Kami hanya tersenyum saja mendengarnya, demikian pula kawan-kawan nan lain. Sebab suara kami jauh lebih buruk dari suara kawan tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s