Penyebab Konflik

Picture: Instagram

Kami amat-amati dan kami rasakan agaknya benar adanya bahwa kesalah pahaman itu berlaku karena kesalahan masing-masing diri, terutama sekali dari cara bercakapa, nada dan tekanan suara, serta raut muka. Nomor dua baru dari pernyataan lisan nan keluar dari lidah nan tak bertulang itu.

Sudah sering kami dapati, namun agaknya orang-orang agaknya segan mengucapkan “Bagaimana awak takkan marah kalau demikian cara ia bercakap..!” maka orang tersebut akan dicemooh kenakan-kanakan. Tak ada orang dewasan nan suka apabila dirinya dikatakan kekanak-kanakan.

Dan maka berlakulah ia berulang-ulang pertikaian itu, mulai dari perkara nan sepele hingga ke perkara nan boleh dikatakan rumit. Hanya orang-orang dengan jiwa besar serta hati yang lapang sajalah nan dapat mengendalikan tekanan suara dan raut wajahnya. Orang-orang serupa itu biasanya bijaksana..

Tak peduli usia, apakah tua maupun muda semuanya mengalami dan melakukan, bahkan terkadang kami. Maka dari itu orang tua dahulu memberi pengajaran “Fikirkan apa nan hendak dikata namun jangan katakan nan sedang terfikirkan..” sebab dengan berfikir sebelum mengucapk maka tandap kita mengendalikan diri dan setidaknya tekanan suara dapat dikendalikan.

Demikian pula dalam agama “Bercakaplah engkau kepada saudara engkau dengan lembah lembut..” bukan hanya tatkala melakukan pendekatan kepada gadis molek saja nada suara itu dilembah-lembutkan. Demikian pula kaum perempuan nan suka meninggikan suara kepada laki-laki, disangkanya semua laki-laki itu anak dan lakinya saja.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s