Lereng Gunung Singgalang

Picture: https://justwrite-athing.tumblr.com/

Telah lama kami mendengarnya, dan cukup lama pula memendam rasa untuk dapat mengunjunginya. Tempat plesiran kami berikutnya dengan kawan nan esok akan balik ke rantau ialah Lereng Gunung Singgalang. Gemas kami dibuatnya melihat foto-foto yang dipamerkan oleh orang-orang di media sosial. Dicari-cari hari tiada dapat, masa tiada terluang akhirnya benar kata orang “Apabila direncanakan ia takkan terlaksana, justeru yang tak terencana itulah nan berjalan akhirnya..”

Kami berangkat menjelang magrib, tak mengapa menikmati mata hari terbenamlah kami di atas sana, walau kawan kami mengeluh “Kalau seandainya datang lebih cepat, pastilah bagus..”

Sebenarnya nan paling pas ialah menikmati matahari terbit karena lereng ini menghadap ke arah timur. Tapi tak mengapa, menyongsong pergantian haripun baik juga.[1]

Jalan nan kami tempuh semenjak lebuh raya[2] Padang Luar – Maninjau ialah mendaki terkadang dengan kemiringan yang sangat terjal. Terkenang semasa tinggal di Bandar Arang dahulu, namun keadaan jalan disana tak seterjal disini. Onda[3] tua kami yang diisi oleh dua orang telah mulai kepayahan namun ia masih sanggup membawa kami. Untung jalan-jalan nan kami lalui tersebut telah diaspal atau dicor dengan semen, kalau tidak, tak terbayanglah oleh kami betapa payahnya melalui jalan nan terjal itu.

Udara dingin dengan cepat menerpa kulit nan tak tertutupi, sungguh nikmat terasa, maklumlah inikan lereng gunung. Sempat salah arah namun akhirnya kami sampai jua. Sebelum mencapai tempat yang kami tuju, berkali-kali kami mendecak kagum karena terpesona dengan pemandangan Lembah Agam[4] dari ketinggian “Belum sampai kita sudah seindah ini apalagi kalau sudah sampai, pastilah lebih cantik..” seru kami kepada kawan kami.

Benar dugaan kami, tatkala sampai di tempat nan kami tuju kami benar-benar kagum, sebagian besar Lembah Agam dapat kami pandangi dengan bebas. Sungguh benar-benar suatu ciptaan Allah nan terindah, beruntung kami menjadi salah satu penduduknya. Terkenang oleh kami setahun nan silam tatkala berkunjung ke Nagari Sungai Pua yang terletak di lereng Gunung Marapi, pada salah satu tempat tertinggi di nagari tersebut kami juga dapat memandangi Lembah Agam dengan bebas. Berlain-lainan rasanya..

“Salut awak dengan orang kampung sini pada masa dahulunya..” kata kami

“Kenapa demikian?” tanya kawan kami heran

“Tengok saja keadaan nagari mereka yang tiada datar ini, dahulu belum ada onda ataupun oto[5], jalan masih berupa tanah dan kerikil. Dan berapa lama kita tadi berjalan dari bawah hingga sampai ke sini dan itupun dengan menggunakan onda. Orang dahulu mereka naik dan turun ke bawah membawa hasi perak[6] mereka untuk di jual ke Bukit Tinggi lalu kembali pulang dengan menjunjug beras untuk dimakan..” kesah kami.

Akan halnya penduduk di nagari di lereng Gunuang Marapi, penduduk disini tiada memiliki sawah, mereka bertanam sayur-sayuran untuk dijual ke Bukit Tinggi, Padang Lua, dan Koto Baru kemudian hasil penjualan tersebut mereka belikan beras dan kebutuhan pokok lainnya. Kini tentulah sudah ada nan berlainan, mungkin ada yang menjadi pedagang, pegawai, dan pekerjaan lainnya.

Tatkala selimut gelap telam menyelimuti lembah itu dengan sempurna, kerlap-kerlip lampu di lembah sempat membuat kami enggan untuk beranjak. Namun karena shalat magrib belum ditunaikan maka kami putuskan untuk turun, semoga esok kami mendapat kesempatan untuk menziarahi tempat ini kembali.

______________________

Catatan Kaki:

[1] Dalam kearifan lokal orang Minangkabau, pergantian hari terjadi di kala Magrib yakni dikala siang berganti malam. Berlainan dengan masyarakat moderen yang menjadikan patokan pukul 12 tengah malam sebagai masanya pergantian hari yang merupakan pengaruh yang dibawa oleh Barat ke Timur.

[2] Jalan raya

[3] Motor

[4] Lembah Agam mencakupi Kabupaten Agam Timur sekarang dengan Kota Bukit Tinggi sebagai pusatnya. Terletak di daratan tinggi Minangkabau dan dikelilingi oleh gugusan Bukit Barisan dan Gunuang Marapi dan Singgalang.

[5] Mobil

[6] Kebun

Advertisements

4 thoughts on “Lereng Gunung Singgalang

  1. Assalamualaikum Sutan, terimakasih ya atas tulisan-tulisan di blog. Ambo masih tersendat-sendat menulis dek karano kadang-kadang sajo punya waktu untuak menulis. Kalau buliah, ambo request niy….sutan ado pengalaman di nagari Painan daerah pasisia? 🙂

    Liked by 1 person

    1. Wa’alaikum Salam,
      Terima kasih kembali rangkayo. Senang hati kami mendengar kabar dari rangkayo. Tapi kami mohon maaf rangkayo sebab kami belumlah berjodoh dengan Ranah Pasisia, harapan saja nan tiada kami padamkan bahwa suatu masa kelak kami akan menginjaki ranah tersebut. Di Painankah kampung rangkayo ini? Ada rencana pulang kampungkah rangkayo?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s