Apabila cinta nan berkuasa

PIcture: http://3.bp.blogspot.com

Hari raya ini kami diziarahi oleh kerabat jauh di tempat kerja kami, untung engku mandor sedang tidak ada jadi kami dapat meluangkan waktu untuk bertukar kabar dengan kerabat tersebut. Setelah bercerita hilir mudik maka sampailah pokok pembicaraan kepada kisah pertemuannya dengan sang isteri. Isterinya merupakan etek (bibi/tante) kami.

Pakcik kami ini pertama bersua dengan etek ialah tatkala sedang mengikuti LPJ (Latihan Pra Jabatan) di Bandar Padang, ketika itu ia telah jatuh hati namun hanya berani memandang dari jauh saja. Beberapa tahun kemudian mereka kembali bersua di pulau seberang tepatnya di Bandar Kembang. Pertemuan yang tak disengaja, ketika itu gadis nan ditaksirnya sedang berada di dalam angkot yang dinaikinya.

Di dalam angkot mereka bercakap-cakap, rupanya sang gadis hendak mengaji ke Darut Tauhid. Maka pakcik kami yang selama ini tiada pernah berkenalan dengan yang namanya “pesantren” akhirnya memutuskan untuk ikut mengaji ke pesantren itu pula.

Lepas mengaji hari sudah malam dan dia meminta untuk ditumpangkan menginap disana. Si gadis menolak, manalah boleh laki-laki menginap di asrama perempuan. Akhirnya ia ditumpangkan ke asrama laki-laki, satu bilik dengan laki-laki yang juga sedang menaruh hati kepada etek kami.

“Tak berkelahikah pakcik malamnya dengan laki-laki itu?” tanya kami penasaran.

Tiada berlaku hal-hal yang tiada diinginkan malam itu, setidaknya itulah nan diakui oleh pakcik kami. Agaknya pakcik kami jenis laki-laki yang tak hendak berbasa-basi, berselang beberapa bulan kemudian dia mengutarakan perasaannya. Ah, tak usahlah kami gambarkan pula bagaimana jalannya pengungkapan perasaan pakcik kami kepada etek kami ini. Belum ada hape masa itu apalagi media sosial atau aplikasi percakapan daring.[1]

Agakanya sudah menjadi tabiat perempuan dimana-mana, mereka butuh kepastian dan ingin cepat-cepat menikah, mengandung, lalu punya anak. Etek kami nan cerdikpun akhirnya bersiasat, ditunjukkannyalah surat cinta dari laki-laki yang satu bilik dengan pakcik kami ketika menginap di Darut Tauhid. Isi dari surat itu bahwa keinginan untuk memindang etek kami dari si lelaki.

Maka cemaslah ia “Kalau begitu abang siap menikahi adek sekarang..”

“Tak bisa serupa itulah bang, abang mesti meminang dahulu kepada mamak dinda..” jawab etek kami

“Hah.. kenapa pula kepada mamak, bukan kepada ayah?” tanya pakcik kami balik

“Demkianlah adat kami di Minangkabau bang, apabila mamak telah izin maka ayah bundapun merestui..” jawab etek kami.

“Baiklah, mana mamak adek?” tanya om kami polos

“Ya di Bukit Tinggilah bang..” jawab pakcik kami

“Baiklah, abang akan meminang adek ke Bukit Tinggi..” maka dengan menumpang bus ANS, pakcik kami berangkat dari Bandar Kembang. Modal nekat, kata orang sekarang. Belum pernah ke Bukit Tinggi dan tak tahu pula letak kampung kami itu dimana. Untung pada masa itu jaringan telfon baru masuk sehingga ia dapat menelpon ke rumah.

Begitu selesai mengutarakan maksudnya, pakcik kami mendapat marah dari inyiak[2] kami karena melamar anak gadis orang tak membawa orang tua dan sanak keluarga. Untung mamak kami ikut mengawani dan memberikan pengertian “Ayah, dia ini bukan orang Minang jadi tak tahu adat resam di negeri kita. Ditambah dia masih muda dan tinggal di bandar pula lagi. Ayah faham sendirilah bagaimana keadaan di bandar-bandar itu..”

Akhirnya inyiak kami memaklumi dan akhirnya karena keadaan kedua sejoli ini yang tidak memungkinkan untuk menikah di kampung maka inyiak kami beserta beberapa orang keluargalah yang datang ke Betawi. Mereka dinikahkan di Masjid Al Azhar yang didirikan oleh Buya Hamka.

Pakcik kamipun memberi bonus cerita “Tahu tak kalau pakcik sudah tiga kali pacaran semasa berkuliah di Jambi dahulu?”

Kami menggeleng penasaran “Untuk apa pula pakcik mengisahkan perihal perempuan-perempuan sebelum etek kami ini..?” cela kami dalam hati.

“Pacar pertama pakcik setelah ditanya ternyata orang Bukit Tinggi, pacar kedua lepas ditanya orang Bukit Tinggi pula, pacar ketiga tatkala ditanya masih orang Bukit Tinggi..” kisahnya sambil gelak berderai “Dan yang terakhir, etek awak itu, hah.. orang Bukit Tinggi juga..”

“Berarti bertuah Bukit Tinggi itu pakcik..” seru kami sambil tersenyum..

 

__________________________

Catatan Kaki:

[1] Dalam Jaringan (Eng: Online)

[2] Kakek. Inyiak kami ialah makdang dari etek

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s