Garundang

Picture: http://justdickingabout.tumblr.com

Dahulu, sudah bilangan tahun jaraknya kami pernah mendengar sebuah khutbah yang menyayangkan keadaan orang sekarang yang cenderung tiada hendak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Apabila melihat ada orang berbuat kesilapan, yang mendapatinya akan diam saja tiada hendak menyapa. Hal serupa ini banyak berlaku pada kanak-kanak, dimana pada masa sekarang sudah jarang ada orang yang hendak menegur kanak-kanak.

Tak hanya kanak-kanak, menegur sesama apabila berbuat silappun tiada. Sebab manusia sekarang takut menegur orang lain, apabila ditegur, yang ditegur biasanya marah, tiada menerima, dan menuntut balik.

Hari ini kami mendapat contoh pada kedua perkara nan kami sebutkan di atas: Pertama ialah di kantor kami, tatkala seorang kawan menegur kawan yang berbuat kesilapan, yang ditegur tiada terima justeru marah-marah. Kawan kami nan bermaksud baik ini terpaksa diam, tiada hendak melawan, takut batal puasanya. Nan membuat kami tiada habis fikir ialah kawan-kawan nan lain ikut menghasung kawan nan kena tegur ini, cis.. dasar bencong tak berburung mereka itu. Beraninya hanya bercakap di belakang saja, kepada perempuan pula itu..

Kedua, tatkala shalat zuhur pada salah satu masjid jamiak di bandar kami. Kami dapati kanak-kanak yang bermain-main (bergelut, bergurau) tatkala sedang shalat. Mereka ialah murid-murid es-em-pe (Sekolah Menengah) yang sedang mengadakan Pesantren Ramadha di masjid tersebut. Sungguh tiada habis fikir kami, dahulu kami pernah melakukan hal nan serupa namun hanya semasa es de (Sekolah Dasar) saja. Begitu masuk ke sekolah menengah kami jadi malu sendiri berkelakuan demikian. Dan kalaupun hendak bergelut, kami memastikan kawan kami tiada shalat di sebelah orang dewasa.

Tahukah engku apa nan berlaku selepas shalat?

Tiada seorangpun orang dewasa yang berani mengajari kanak-kanak tak bermalu ini. Justeru seorang kawannyalah yang marah dan kesal mengajari kawan-kawannya yang bermain-main ketika shalat. Dan salah seorang dari mereka yang tiada terima diajari karena bermain-main ketika shalat balas menjawab dengan suara yang takkalah tingginya.

Ketiga, sekelompok anak muda manja yang mendapat kewajiban untuk mempraktekkan ilmu mereka di kantor kami. Tiada pernah berkenalan dengan kesusahan hidup, tiada pernah merasakan susahnya perjuangan untuk menggapai sesuatu, dan tiada tahu dengan tanggung jawab. Tatkala diajari, melawan mereka “Anak pejabat disuruh-suruh..!!”

Sungguh entah apa nan berlaku pada masa sekarang, demikianlah nan berlaku tatkala orang yang memiliki maksud baik berhadapan dengan orang yang tiada memiliki rasa malu. Benarlah apa nan diakata oleh nabi kita dahulu: malu itu ialah kulitnya iman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s