PIcture: http://www.goldenspiralmedia.com

Kami yakin bahwa engku, rangkayo, serta encik sekalian amatlah suka dengan kisah nan berakhir bahagia. Namun kadang kisah tersebut tidak selalu berujung manis, dikhatam dengan senyuman. Adakalanya berakhir sedih, pedih, menggantung dan memancing rasa ingin tahu.

Itulah nan berlaku pada drama bersambung nan baru saja kami khatamkan. Berakhir bahagia pada satu sisi dan sedih pada sisi lain. Bahagia karena rezim diktator nan tak kenal ampun akhirnya runtuh, sedih karena beberapa orang pameran utama mati dalam pertempuran. Memanglah kata orang perjuangan itu membutuhkan pengorbanan.

Agaknya ini telah menjadi cirikhas dari Keluarga Nolan, ya.. filem ini dibuat oleh Tuan Jonathan Nolah adik dari Tuan Christoper Nolan yang membuat Trilogi Batman. Agaknya kedua kakak beradik ini gemar membuat filem nan dalam nan mengerikan. Mencoba untuk membuka mata kita akan ancaman sesungguhnya nan berlindung dibalik bayangan. Dan kami sungguh kagum sangat dengan kecerdikan Tuan Jonathan dalam membuat alur cerita, apakah itu tentang para tokoh maupun mengenai kecerdasan buatan yang sangat cerdik itu. Tentulah orang nan membuatnya jauh lebih cerdik.

Aku selalu bermain mengikuti aturan selama ini, bukan aturan mu. Kau bekerja atas perintah sistem begitu rusaknya sehingga kau tidak sadar ketika itu telah rusak sampai ke akar-akarnya. Ketika pertama kali aku merusak aturan mu, presiden yang berkuasa sedang mengesahkan pasukan pembunuh di Laos, dan kepala FBI sedang memerintahkan anak buahnya, kau, untuk membuat pengawasan ilegal terhadap lawan politiknya. Aturan mu selalu berubah setiap waktu, itu sesuai dengan mu.
Aku berbicara tentang aturan ku, aku telah hidup dengan aturan-aturan itu untuk waktu yang sangat lama. Percaya pada aturan-aturan itu untuk waktu yang sangat lama, percaya bahwa kau bermain sesuai dengan aturan
pada akhirnya kau akan menang.
Tapi aku salah, bukankah begitu?
Dan sekarang orang-orang yang aku pedulikan sudah mati, atau akan segera mati. Dan kita semua akan menghilang tanpa jejak.
Jadi sekarang aku harus membuat keputusan, memutuskan apakah membiarkan teman-teman ku mati, membiarkan harapan mati, membiarkan dunia menjadi gelap di bawah sana, semua karena aku bermain sesuai aturan.

Aku berusaha memutuskan, aku akan membunuh mu. Tapi aku harus memutuskan seberapa jauh aku siap melakukannya, seberapa banyak aturaku sendiri yang rela aku langgar, untuk menyelesaikan ini..

[Harold Finch, Episode.10 – The Day The World Went Away; 37.05 – 39.21]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s