Kusumat nan tertahan

Picture: http://www.forwallpaper.com

Mendung yang suram rupanya benar “Sang hujan akan datang mengiringi daku..” katanya.

Tengah hari nan gundah tak kuasa menolak datangnya awan hitam “Selamat datang duhai tuan sekalian, hendak kemanakah tuan-tuan sekalian..?” tanyanya

“Ah tuan, kepada tuan kami hendak mendapat. Sudikah tuan menampung kami-kami ini agak beberapa masa..” jawab sang ketua rombongan.

Manalah mungkin menolak tetamu, musafir nan hendak berehat memulihkan tenaga badan. Maka tertumpahlah segala sesak dan nestapa. Udara nan semakin mendingin, air nan tiada henti tercurah tergenang dimana-mana.

“Duhai tuan, duka siapakah nan tuan bawa ini. Begitu hebatkah perasaian dirinya sehingga manusia nan di bawah sana lintang pungkang dibuatnya..” tanya hari nan samakin beranjak petang.

“Duka hati nan menahan rindu dendam duhai tuan nan jauhari, pisang yang terpisah dari tampuknya, induk nan tercerai dari anaknya. Segala duka ditanggung sendiri, jangankan iba duhai tuan, tajamnya lidah nan bak sembilu itulah nan mengiris kalbunya..” jawab sang ketua rombongan.

“Memang demikianlah perangai manusia zaman kini, tiada berhati tiada berpekerti. Cinta kepada diri menjadi agama baru, perasaan orang usah ditenggang nan penting badan diri selamat sampai mati..” jawab sang hari.

Hingga alam diselimuti pekatnya malam, bertambah deras kedukaan itu tertumpah ke bumi. Air tergenang disana-sini, padahala dalam masa cuti, orang sedang ramai melancong dan berpesiar ke bandar kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s