Kebiasaan semenjak kecil

Picture: http://shakipu.deviantart.com

~Kaciak tabao-bao, gadang ta anjak-anjak, lah tuo ta ubah tido~

Demikianlah pengajaran orang tua-tua di kampung kami kepada kanak-kanak nan masih pandir dan belum tahu apa-apa. Maksud dari petuah tersebut di atas ialah apabila semasa kanak-kanak kita sudah terbiasa melakukan suatu perkara maka setelah gedang (dewasa) kita akan payah melepaskan kebiasaan yang tiada baik itu, dan tatkala umur telah beranjak tua kebiasaan tersebut sudah mendarah daging yang mustahil untuk diubah.

Tiada mengapa kalau suatu sifat baik nan kita biasakan semenjak kanak-kanak namun apabila sifat buruk lagi tercela, Na’uzubillah. Sudah banyak contoh nan kita dapati dalam kehidupan ini, ditengok orang tua dan keluarganya tiada serupa itu namun karena pengaruh pendidikan dan pergaulan semenjak kanak-kanak maka si orang tua serupa menggedangkan anak itik[1]. 

Hal itulah nan kami dapati baru-baru ini, seorang tua bangka yang dijuluki oleh orang kampung kami “Mulutnya serupa betina..” karena tabi’atnya yang sama sekali tidak mencerminkan jenis kelamin yang dimilikinya. Gemar bergunjing, berkata kasar, pandai berdusta, suka menyebar kabar bohong. Telah banyak nan menjadi korban kebiadabannya, rumah tangga yang bersengketa, anak yang berpisah dari ayahnya, isteri yang bercerai dari suaminya.

Suatu tabi’at yang tiada lagi dapat dirubah, kesal dan geram hanya dipendam saja. Karena tiada guna menghadapi orang serupa ini. Karena dia berpandangan dirinya lebih tinggi dibandingkan orang kampung lainnya, merasa lebih menguasai segala macam ilmu dalam kehidupan, merasa dirinya selalu benar, dan nan paling membuat geleng kepala ialah merasa dirinya yang paling benar.

Adakah engku, rangkayo, serta encik sekalian bersua dengan orang serupa ini?

Kemarin dahulu dia bersua dengan salah seorang kerabatnya, disapa oleh sang kerabat dan agak kurang hatinya. Lalu dia menyergah “Hei buyung, sudah haji saya sekarang, baru kemarin pulang dari Mekah..”

“O, benarkah pak tuo, selamatlah kalau begitu..” jawab kerabatnya.

Kata orang dia serupa betina, apakah tabi’at terutama mulutnya “Dia itu betina, diberi saja kodek[1]..” umpat orang-orang.

Demikianlah apabila telah menjadi kebiasaan, ditambah orang tua tiada hendak mengajari, para mamak berdiam saja, dan saudara-saudaranya tiada hendak menyanggah. Malas, dapat membuat buruk suasana hati,,

_______________________

Catatan Kaki:

[1] Di kampung kami, untuk menetaskan telur itik maka telur-telur tersebut dieerami oleh seekor induk ayam . Si induk ayam akan menetaskan telur, membesarkan anak-anak ituk itu hingga dewasa. Namun setelah dewasa anak-anaknya memiliki tabi’at berlainan dengan induknya (ayam) sebab mereka berlainan jenis. Demikianlah perumpamaan yang dibuat orang tua-tua masa dahulu. Maksudnya membesarkan seorang anak yang memiliki tabi’at berlainan dengan tabi’at orang tua.

[2] Rok

Advertisements

2 thoughts on “Kebiasaan semenjak kecil

  1. Zaman sekarang anak2 atau orangnya pintar2 pak. Tapi terlalu menuntut materi dan sikapnya tidak mencerminkan sopan santun budaya kita. Baik dalam berbicara maupun berkelakuan. Mungkin teknologi sebenarnya membawa dampak buruk kepada negeri ini. Seandainya saja kita bisa menjaga budaya kita sendiri.

    Liked by 1 person

    1. Benar kata engku ini, cerdas IQnya tapi EQnya agak kurang, demikian kata orang. Dan, kanak-kanak serupa inilah nan akan gedang esok, dapatkah engku bayangkan serupa apa perangai mereka setelah dewasa? 😦

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s