Penyebab Utama

Picture: https://www.abdulmalick.com

Sabtu nan mendung, cuaca tiada menentu. Di pagi hari mendung, kemudian rinai, selepas itu hujan. Tak berapa lama kemudian hujan reda, langit mulai bersih dan kemudian alam mulai dihangatkan oleh cahaya matahari. Walau awan tiada hendak pergi, keras kepala ia namun nyanyian uwia-uwia meyakinkan kami kalau hujan agaknya tiada akan datang dalam sehari ini.

Komputer lipat tengah terkembang, kawan kami nan seorang itu sedang asyik menjelajahi ranah maya. Tadi sempat menawari secangkir kopi, sebelum akhirnya kembali ke hadapan komputer lipat miliknya. Hari ini berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan namun agaknya tergaduh oleh godaan nan tiada dapat ditahan, melalar di ranah maya.

“Kau tahu kawan, pangkal persoalan di dunia ini ialah uang, harta..” ujarnya tiba-tiba. Kami melengong[1] ke kiri dan ke kanan, tiada sesiapa hanya kami berdua di beranda rumah kayu itu. Bunda kawan kami sedang ke pasar, ayahnya sedang pergi keluar, dan hanya dia satu-satunya anak yang masih belum lepas dan tinggal bersama kedua orang tuanya.

“Kenapa demikian kawan, bukannya hasrat manusia yang tiada pernah puas itulah penyebabnya..” sanggah kami agar jangan terlihat serupa orang dungu yang selalu mengamini pendapat kawannya.

“Dan hasrat celaka itu apa pula penyebabnya kawan?” tanyanya sambil mendongak “Bukankah uang, harta!?”

“Dalam agama kita sudah disebutkan, tiga perkara calaka yang membuat manusia itu rusak harta, tahta, dan perempuan..”

“Bukankah hasrat jua nan menjadi pangkalnya kawan..” jawab kami tiada hendak kalah.

“Benar kata engkau, dan apa penyebabnya? Bukankah uang dan kekuasaan itulah yang pangkal balanya! Sibuk hilir-mudik setiap hari di labuh besar itu, karena apa? Uang. Sibuk mencari titian barakuak[2] untuk orang agar nama kita dapat naik. Hasad & dengki ialah penyakit turunanannya, bertanam tebu di tepi bibir uapnya yang tampak..”

“Tahukah engkau kawan, dimasa sekarang hanya untuk mendapatkan uang maka seseorang akan melakukan apa saja, menikam dari belakang, melacurkan diri, khianat, dan membuang rasa malu. Kata nabi kita malu itu ialah kulitnya iman kawan..

Penasaran kami dengan situs yang sedang dibacanya, apa gerangan tulisan yang telah membangkitkan amarah kawan kami ini?

_____________________

[1] Menoleh

[2] Jebakan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s