Telpon Umum

Picture: https://justwrite-athing.tumblr.com

Salah satu pemandangan langka pada masa sekarang yang berasal dari masa akhir abad nan lalu ialah telpon umum. Dahulu telpon ini sangat banyak bertebaran di sudut-sudut bandar, dan kami yakin tak hanya di bandar kami melainkan di bandar engku, rangkayo, serta encik sekalianpun demikian.

Kalau tiada silap, telpon umum nan kami tampilkan ini merupakan generasi terakhir dari telpon umum. Kami tiada mendapati bentuk telpon umum sebelum tahun 1990an. Talpon ini ialah telpon koin yang keberadaannya paling banyak. Selain itu juga ada telpon kartu yang biasanya diletakkan bergandengan dengan telpon koin ini. Telpon kartu sangat marak di tahun 1990an dengan menggunakan kartu telpon beraneka gambar. Pulsanya biasanya dibagi persepuluh ribu atau kelipatannya. Apabila sudah habis pulsa pada satuan tertentu maka kartu tersebut akan dilubangi oleh mesin yang terdapat pada badan telpon umum ini.

Dahulu semasa kanak-kanak, kami dan kawan-kawan acap memainkan telpon umum ini. Dengan menggunakan koin yang bergambarkan rumah kebesaran di negeri kami telah dapat menelpon. Biasanya nomor yang kami telpon ialah nomor layanan konsumen yang terdapat pada badan telpon. Mendengar orang mengangkat telpon, mendengar dengus kesalnya, atau sekadar mendengar suara orang yang telah direkam dan diletakkan di mesin penjawab sudah girang hati kami.

Ya, demikianlah kampungan. Maklumlah, pada masa itu tiada seorangpun kawan atau kenalan yang memiliki saluran telpon di rumahnya. Kalau ada maka mereka berada di rantau dan telpon umum hanya dapat dipakai untuk menelpon lokal. Berlainan dengan telpon umum di luar negeri yang dapat dipakai untuk menelpon interlokal bahkan internasional.

Bercakap perihal luar negeri, kami dengar-dengar telpon umum masih ada di luar negeri. Berlainan dengan negeri kita yang langsung mewafatkan telpon umum. Sungguh sangat besar harapan kami agar telpon umum ini kembali dihidupkan. Sebab walau telah ada telpon genggam namun telpon umum masih diperlukan. Terutama sekali disaat pulsa menipis atau bahkan habis, atau baterai kosong sehingga telpon genggam tiada dapat digunakan.

Advertisements

2 thoughts on “Telpon Umum

  1. Telepon umum…Mmm…nostalgia lagi nih :D. Memanglah Sutan, telepon umum ini jadi nostalgia kita dulu. Jaman tamat SMA tahun ’90, kita merantau ke kota, telpon umum ini yang koin jadi incaran tiap hari buat nelpon teman, sanak famili di kota itu. Terus berlanjut dua tahun ke depannya, jadi kebanggaan bila menggunakan telepon umum ini yang berarti kita sedang menghubungi orang yang punya “pejer/pager.” Ha ha ha…lucu, serasa dunie ni milik kita aja. Tapi memang sih Sutan, saat itu yang punya pejer kayak sesuatu yang mewah, eh akhirnya beralih ke hp, itu pun hanya sesaat saja yerasa “wah,” akhirnya biasa saja.
    Terus lagi maju ke tahun ’95-an, telepon umum beralih ke jenis baru pakai karu yang ada lobangnya. Pernah terjadi suatu tindak negatif pemakai kartu saat itu dimana lobangnya yang sebagai tanda kartu itu pulsanya sudah habis, ditutupi dengan tip-ex atai dilipat membentuk garis “Y” dan bisa dipakai berjam-jam gak abis-abis. Tapi saya tidak mencoba lho Sutan 😀 Lalu juga kalau yang koin tadi, dipakai “tali teyen/rapia” dan disangkutkan sambil talinya ditahan, asyik aja tu nelpon mau sehari penuh di sebuah telpon umum yang biasanya sepi nelpan-nelpon kesana kemari. Ada juga yang memukul body telpon sehingga koinnya keluar beruntun dan disakuin tu ama orang “tak tau malu.” Pokoknya lucu Sutan. Sayang umurnya gak lama dan sebagian dicuri orang, entah dikemanain tuh. Dikilo kali. Sayang sekali lagi juga selama dia ada, tak pernah bisa tersambung ke luar negeri, kecuali yang pakai kartu tapi sangat mahal harganya. Ada juga yang bisa pakai kartu kredit saat itu yang biasanya ada di tempat eksklusif seperti bandara, hotel, stasiun kereta api, mal, rumah sakit mewah dari Lintas Artha, tinggal bayar billing nya aja akhir bulan bersama kartu kreditnya.
    Pokoknya telepon umum di kita memang miris, dibiar begitu saja. Bila boleh saya mengumpulkan semua telepon itu, kaya saya Sutan, saya kiloin ke tukang rongsok, Gedang Cekaknya tu :D. Biarlah ya Sutan, Ambil hikmahnya saja, di dunia kayaknya kita yang paling kaya, segitu mahalnya, dibiarkan saja berhujan berpanas.

    Liked by 1 person

    1. Kalau memakai tali taiyen kami pernah dengar tapi cara meakali tlp kartu baru kami ketahui dari engku.. 🙂
      Memanglah benar engku, untuk contoh bagi kita, di negara spt Inggris telpon umumnya justeru menjadi ciri khas (Icon) dan dilestarikan bahkan menjadi tempat berfoto bagi para pelancong. Lain di kita yg msh banyak vandalismenya, tak hanya tlp umum, akan tetapi fasilitas lain yang disediakan negara banyak nan diperlakukan serupa. Bagi sebagian besar saudara kita, kemajuan itu ialah gaya berpakaian, gaya hidup, cara bercakap, atau hal-hal yang bersifat fisik semata.. 😦

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s