Memaknai Diri

Picture: http://qed221b.deviantart.com

Serasa memandang ke masa silam, memperhatikan diri sendiri yang masih gamang dalam menjalani kehidupan. Tertutup, selalu memandang curiga, dan tiada berani, sanggup, serta hendak menaruh kepercayaan pada orang lain.

Terkenang dengan wasiat Penghulu Para Nabi; jika hari ini engkau sama dengan hari kemarin, maka engkau ialah orang nan merugi. Namun apabila hari esok lebih baik dari hari ini maka itulah tandanya manusia nan beruntung.

Banyak nan memaknai perubahan itu ialah dari segi lahir, benar namun tak sepenuhnya benar. Karena sesungguhnya perubahan dari segi bathin itulah sesungguhnya pertanda kemajuan. Serupa cara orang-orang mamaknai peristiwa hijrah disetiap peringatan 1 Muharam maka demikian pulalah kiranya makna dari pesan nabi tersebut.

Do’a tiada putus dipanjatkan kepada Illahi Rabbi agar perubahan itu kearah nan lebih baik hendaknya. Semoga jangan sampai mundur kembali ke belakang, karena itu merupakan tanda kerugian diri.

Dan semoga pula apa nan dialami itu membuat kita semakin menjadi arif dalam memaknai. Tiada cepat memberi penilaian kepada orang lain, bersikap arif dan bijak dalam menyikapi setiap persoalan nan berlaku pada diri dan lingkungan sekitar. Dan terutama sekali, semoga lisan ini dapat lebih terjaga, telah banyak sengketa berlaku karena lisan nan tiada terjaga itu. Rusuh orang satu negeri,.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s