Primitif

PIcture: https://www.aliexpress.com

Dahulu semasa berkuliah kami ingat salah seorang dosen menjelaskan perihal perkembangan kehidupan manusia Sang dosen menerangkan kehidupan manusia semenjak awal berkembangnya peradaban manusia itu sendiri. Ada yang telah berkembang hingga mencapai kemajuan dan ada pula yang lambat berkembangnya sehingga kehidupan nan masih jauh itu dapat kita saksikan pada beberapa tempat hingga masa kini.

Menarik hati kami perihal penjelasan sang dosen, beliau menjelaskan perihal perkembangan pola fikir manusia. Dimana pada masa peradaban belum berkembang, manusia masih dikelilingi oleh kebodohan, dan tujuan hidup hanya sekadar untuk bertahan hidup. Pada masa ini manusia sudah mulai hidup berkelompok, dengan dipimpin oleh seorang pemimpin dengan keunggulan tertentu. Sang dosen menjelaskan bahwa dalam tahap ini, keunggulan dari segi fisiklah nan menentukan kepemimpinan seseorang dalam satu kelompok pada masa itu.

Orang yang memiliki badan kuat, tegap, pandai berkelahi, dan tiada dapat dikalahkan oleh anggotanya, maka dialah nan maju menjadi pemimpin. Maklumlah, kehidupan manusia pada tahap ini masih ganas, hukum nan berlaku ialah sesiapa nan kuat, maka ialah nan menang. Suatu kehidupan yang tak obahnya kehidupan makhluk tak berakal yang biasa tinggal di rimba.

Dosen kami membandingkan dengan kehidupan manusia nan telah maju peradabannya (moderen) dimana kepemimpinan bukan ditentukan oleh keadaan badaniah seseorang melainkan kemampuannya dari segi bathiniah. Bukan orang yang kuat secara fisik melainkan kuat secara akal, bathin, dan maju cara berfikirnya. Atau dengan singkat kata ialah orang cerdik cendikia, arif lagi bijaksana.

Pada tahap ini, orang nan pada masa sebelumnya menjadi seorang pemimpin dalam kelompoknya, pada tahap kemajuan ini mereka hanya menjadi tukang pukul. Atau ada jua nan menyebut orang nan mengerjakan pekerjaan kasar dan kotor para pengetua. Kenapa? karena mereka tiada menggunakan akal dan fikiran mereka dalam kehidupan, mereka hanya menggunakan tenaga lahir (fisik) untuk bertahan hidup. Serupa benar dengan makhluk berkaki empat.

Sebagian lagi nan sadar, mereka mencoba meniru-niru kehidupan orang nan telah maju itu. Namun sifat asal mereka nan masih terkebelakang itu tiada dapat disembunyikan, kera takkan menjadi manusia dengan berpakaian manusia. Terkadang mereka mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang nan mereka saingi itu, menunjukkan betapa unggulnya diri mereka dan betapa rendahnya orang lain. Bermulut besar layaknya kudanil, berfikiran licik layaknya ular, berkelakuan buruk seperti beruk dalam kandang.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s