Cemburu hati

Picture: http://inspirationalthinktank.com

Petang hari nan mendung, sudah lewat pukul setengah lima petang dan kami bersama beberapa orang kawan masih tetap saja di kantor. Inilah pegawai dungu atau sok rajin, masih sibuk dengan komputer, laptop, berkas, dan perintah yang mesti dituntaskan pengerjaannya. Dungu karena tak ada uang lembur nan akan dibayarkan, sok rajin karena pegawai itu sebenarnya pemalas, datang lambat dan pulang cepat.

Pada petang hari nan berangin itulah salah seorang kawan kami kembali ke kantor, setelah beberapa menit sebelumnya berkata hendak keluar sebentar bersama salah seorang induk semang kami. Dengan air muka masam ia masuk dan duduk di mejanya, kami diam “Pastilah telah berlaku suatu kejadian nan tiada mengenakkan hatinya..” seru kami dalam hati.

“Bagaimana engku muda? Sudah jadikah membeli barang tadi? Esok kita cuti dan laporan pertanggung jawaban mesti sudah selesai dibuat sebelum tanggal 31 bulan ini..” seru rangkayo bendahari dari dalam ruangannya.

Kawan kami menjawab sekenanya, berkata kalau barangnya besok baru tiba dan laporan akan diusahakan secepatnya. Sungguh tampak suatu perjuangan nan sangat berat pada air mukanya dalam menjawab pertanyaan bendahari kami nan agak nyinyir itu. Tadi sudah dijelaskannya perkara akhir bulan nan selalu membuat kami lintang pungkang membuat laporan dan kini diulanginya kembali.

Satu persatu akhirnya kawan-kawan kami undur diri hendak pulang, besok ialah cuti namun beberapa orang dari kami agaknya akan tetap masuk kerja. Rancangan kegiatan untuk empat tahun ke depan mesti dituntaskan maka tiada hari libur untuk besok. Akhirnya hanya tinggal kami berdua di ruangan, kami sedang bersiap mematikan komputer, demikian pula dengan kawan kami.

“Apa nan berlaku tadi engku muda?” tanya kami “Rusuh benar hati engku tampak oleh kami..”

Dengan tersenyum kawan kami ini menjawab “Ah, mana pula rusuh. Hanya geram saja engku..”

“Apa pasal?” tanya kami ingin tahu

“Pernahkah engku berada pada satu ruangan bersama seseorang yang mana dia bercakap sangat keras sekali sehingga memancing perhatian semua orang yang ada di ruangan itu..?” tanyanya tiba-tiba kepada kami. Kami terdiam dan dia melanjutkan tanpa menghiraukan keterkejutan kami.

“Berbicara dengan nada mengajari seolah-olah kita ini orang paling dungu dan pandir sedunia. Membuat semua mata memandang seragam kita yang dalam pandangan mereka penuh noda..” lanjutnya penuh kesal.

“Pernah engku, seorang dungu nan sebenarnya takut akan kita dan sangat menginginkan apa nan kita capai saat ini dalam hidup kita. Berusaha menunjukkan di hadapan orang-orang bahwa kita tiada pantas dengan capaian dan seragam nan kita pakai..” jawab kami berusaha menghibur hatinya”Kami coba berfikir agak sedikit lebay engku muda, hehe..”

“Haha benar engku, sama dengan anjing yang suka menyalak. Dia menyalak bukan karena dia garang melainkan karena sedang ketakutan. Arti salakannya sebenarnya ialah permintaan tolong kepada tuannya nan sedang tidur lelap di dalam rumah. Bukan membentak makhluk asing yang berusaha memasuki pekarangan rumah tuannya..” jawab kawan kami tak kalah lebai dan menyakitkan “Dan lagi engku, mereka berani bersikap demikian karena seragam kita tiada memakai bedil, coba kalau ada, pastilah akan lembut mendayu-dayu mereka itu..”

Itulah kisah di petang hari dan rinai, sambil berjalan beriringan keluar kantor, kawan kami mengisahkan  dengan lengkap pengalamannya beberapa menit nan lalu. Dan rupanya si pemilik kedai nan karapai itu satu kampung dengan dirinya, abang dari si pemilik kedai kenal baik dengan ayahanda kawan kami ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s