Berehatlah, banyak orang gila

Picture: http://www.hdwallpapers.in

Akan tiba masanya tuan akan berhadapan dengan si buta nan berpandangan mataya dapat melihat, si pekak nan merasa telinganya nyaring, si bisu nan merasa fasih bercakap, si buntung nan merasa kuat genggamannya, si lumpuh nan merasa cepat larinya.

“Kau tau kawan, kata orang seberang sana Yang Waras yang Ngalah..” tiba-tiba kawan kami berceloteh sambil menghirup kopi panas yang baru selesai dibuatnya. Pagi yang dingin memang pantas berkawankan dengan kopi panas, apalagi kalau ditambah goreng pisang atau sekedar roti sebagai kawan. Hujan turun semenjak subuh membuat bandar kami nan sejuk ini bertambah dingin saja.

Senyum, hanya itulah nan dapat kami berikan. Kami faham apa nan dimaksudkannya namun tiada hendak menjawab karena ingin mendengar kelanjutannya “Namun kalau mengalah terus, kepala kita akan diinjak-injak oleh para jahanam itu kawan..” lanjutnya.

Iya, benar apa nan dikatakan kawan kami itu, kami pernah pula mendengar orang berkata “Tak selamanya diam itu emas, terkadang kita mesti melayangkan tamparan pada mereka. Sebab, beberapa orang ada yang kecil volume otaknya dan hanya faham bahasa pukulan..”

Kawan kami nan geram bukan kepalang sedang berhadapan dengan orang-orang yang tiada faham dan tak hendak faham duduk persoalan. Nan penting bagi mereka segala perkara nan berkaitan dengan mereka selesai. Bermacam ragam tabi’at orang-orang itu, ada nan sekadar ikut-ikutan kawan ada pula nan menjadi tukang hasung, ulat bulu. Maklumlah, lingkungan pergaulan serta (seperti kata orang-orang) volume otak mereka amat rendah, berada di bawah manusia homo sapiens. Belum cerdas, belum berakal, masih tinggi naluri binatang mereka.

“Kau tahu kawan, sesekali engkau mesti melawan. Diam bagi mereka merupakan pertanda kelemahan..” seru kawan kami tersebut.

Kami hanya tersenyum mendengarnya “Bagaimana pula menghadapi orang nan tiada faham kalau diri mereka salah dan tiada hendak bersikap jujur dengan kesilapan mereka itu..?” tanya kami

“Maka dari itu sedari tadi awak bercakap, tampar  kawan, tampar saja mereka itu..!” jawab kawan kami kesal.

Tersenyum dan tersenyum, lama-lama kami bisa juga miring otaknya. Memang demikianlah nan berlaku saat ini, tak dimana-mana, hampir berlaku di kesemua lapis kehidupan. Mulai dari tingkah pola orang-orang nan bermain di pusat kekuasaan hingga ke kampung-kampung yang kehidupan mereka masih sederhana yang jauh dari racun kekuasaan. Hati yang putih dan jiwa yang bersih sangat payah mencari pada masa sekarang. Kesemuanya memandang diri merekalah nan benar sedangkan orang lain salah.

Pedagang yang tiada jujur, cendikiawan yang tiada arif, pengetua yang tak amanah, pandita pennjual ugama, pengiring yang tak setia,.

Advertisements

3 thoughts on “Berehatlah, banyak orang gila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s