Biang Masalah

Picture: http://wallpapercave.com

Bakat manusia itu berlainan dan bermacam-macam, ada-ada saja kemampuan nan dipertunjukkan oleh manusia itu sehingga mengundang decak kagum dari sesiapapun jua. Demikianlah kata orang “Setiap kita memiliki bakat yang berbeda-beda..” saling mengisi setiap kekurangan masing-masing, bak roda gerigi nan saling berputar, demikianlah kira-kira.

Tiada seorangpun di atas dunia ini nan tiada memiliki bakat, masing-masing pastilah punya hal tersebut tentunya berpulang kepada masing-masing kita dalam menilai. Ada nan memandang bakat seseorang tersebut tiada berguna karena menurut pandangan dirinya tiada memberi faedah. Namun orang lain dapat berpandangan berbeda, ada faedahnya tergantung dari sudut pandang mana kita memandang dan adakah dengan rasa keadilan dalam memberi penilaian atau tidak.

Namun, bak kata kawan kami “Hei engku, berhati-hatilah engku dengan Si Malanca itu. Bakatnya lain pula, jangan sampai terbuai sebab kalau tidak engku dapat dikarungi olehnya..”

Semula kami heran namun baru-baru ini kami faham maksud kawan kami tersebut. Bakat seseorang tak selalu “baik” maksudnya, seperti seseorang yang memiliki bakat mudah mendapatkan kabar-kabar burung, tajam matanya dalam melihat kesalahan orang, pandai bercakap alias manis mulut, cepat mengiyakan namun tiada pernah mengamalkan, suka memberi senyum palsu, lihai dalam berpura-pura, sangat pandai berdusta dan meyakinkan orang, jago berlagak dan memandang ringan setiap persoalan, keras kepala, berkepala batu, pandai menghasung, dan lain sebagainya.

Beberapa masa nan silam kami kembali bersua dengan kawan nan pernah memberi kami peringatan itu “Banyakkah orang nan serupa itu engku?”

Dengan tersenyum manis dia menjawab “Nan lebih buruk banyak lagi engku, menghadapi nan satu itu saja engku sudah kepayahan apalagi menghadapi nan levelnya di atas nan satu itu?”

Kami terdiam mendengarnya, kawan kami melanjutkan “Engku masih terlalu hijau dalam menghadapi tipu daya dunia ini, walau sebenarnya kita seumuran. Berhatil-hatilah kawan, persiapkan diri dengan baik, kuatkan hati engku, dan jangan berputus asa tatkala berhadapan dengan nan lebih buruk..” petuahnya sambil menyungging senyum.

“Maksud engku?!” tanya kami putus asa.

Sambil menepuk bahu kami serupa lakon di filem-filem, ditambah tiga jarinya melentik sedangkan jari telunjuk dan jempol menjepit rokok dia berucap “Maksud kami, apabila sudah bersua dengan orang nan lebih jahanam dari itu berarti engku telah naik level..”

Kami terdiam memandang sunggingan senyumnya nan membuat kami kesal “Serupa dengan permainan game engku, semakin kuat dan sakti musuh nan dihadapi berarti pemainnya telah naik ke level nan lebih tinggi. Lawan nan kita hadapi mencerminkan di level mana kita berada.. hahaha..”

Sungguh hendak kami membenamkan kaleng kosong ke dalam mulutnya nan tertawa lebar itu. Ada-ada saja perumpamaan nan dibuatnya..

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s