Tukang Asah Batu

Picture: https://justwrite-athing.tumblr.com

Pengasah batu [akik] di Janjang Ampek Puluah, salah satu janjang [tangga] bersejarah di bandar kami, dibangun oleh empat puluh orang datuk dari Luhak Agam. Janjang ini sudah lama terkenal menjadi pusat perdagangan batu kegemaran kaum lelaki itu. Dahulu amatlah ramai orang berdagang dan mengasah batu di janjang ini, sempat meredup dan kembali semarak di zaman batu akik setahun nan silam. Kini, kembali lengang seiring dengan berlalunya musim batu.

Dahulu orang mengasah batu dengan roda yang diputar dengan tangan menggunakan pedal kareta angin[1] seiring dengan berjalan waktu, para pengasah batu mulai menggunakan mesin bertenaga listrik untuk mengasah batu.

______________________________

The agate sharpener in Janjang Ampek Puluah, in my town Janjang Ampek Puluah was centre of agate in the past. Many man come here to find the agate who their love, not just for the stone but also for the ring, they bought there. This situation has dimmed on one time and crowded when the agate become populer last year. Now, they situation back to initial condition.

________________

Catatan kaki:

[1] Sepeda

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Tukang Asah Batu

  1. Assalamualaikum Wr Wb Sutan
    Sedih juga ya Sutan. Kenapa negeri kita ini seakan telah diatur entah oleh siapa atau apa yang kerap meninggalkan ketidak puasan dalam sesuatu yang menggembirakan cepat berlalu. Lagi senang-senangnya, lalu pergi. Sama dengan batu akik dari kampung saya. Batu Suliki. Tahun-tahun kemaren berjejer etalase dan gerinda mesin para kerabat penjual batu dan pengrajin dadakan. Seakan jadi kota wisata, berjalan kaki sepanjang jalan pinggir sawah dan rumah, ada saja yang jual batu akik bersama ikatnya dan cincin. Sekarang, nasib mereka kembali ke awal alias ingin mencoba lagi ini itu atau biarlah begitu saja asal ada duit ke Lepau/Kedai Kopi minum Teh Telur. Tapi maaf, tidak semua, hanya kilasan saya saja. Memang ada yang saat ramainya batu itu yang sempat mendapat banyak rezeki alias untung besar, tapi yaa yang namanya rezeki kita tidak pernah tau apalagi rezeki yang dipaksakan mencarinya. Kan ada ajarannya dalam Agama Islam, “Sebaik-baiknya Mencari Nafkah adalah Bertani dan Berdagang” Lebih dalam lagi, Berdagang disini mungkin yang dimaksud berdagang kebutuhan pokok yang memang dibutuhkan.
    Kembali ke cerita Sutan, melihat fotonya itu saya terkenang kembali masa lalu jalan-jalan disini. Makan Nasi Kapau yang sendoknya saya kaget, baru lihat, panjang sekali! dan orang yang menjualnya posisinya di atas. Seporsi waktu itu masih 500 rupiah, tahun 1987. Saya baru tamat SMP. Nikmat sekali. Setelah makan, baru saya jalan melewati penjual batu akik ini. Tapi saya tidak menghiraukan karena saya tidak penyuka batu. Mungkin bapak yang duduk itu dulu pernah ketemu barangkali ya? Waktu itu beliau penjual batu juga atau pembeli yang jual beli.
    Bukitting Kota Wisata, ikonnya diantaranya “Janjang Ampek Puluah” tetap bertahan saya rasa. Hanya turis tidak dijerat saja ke sini he he he…pakai kata dijerat. Maksud saya, kembali dioptimalkan objek ini dalam promosi Wisata Kota Bukittinggi. Kira-kira begitu Sutan. Wassalam

    Liked by 1 person

    1. Benar engku, sudah banyak berkurang mungkin diantara pedagang batu itu sudah ada yang kembali ke pekerjaan mereka semula. Atau ada jua yang kemudian menjadikan berdagang dan mengasah batu sebagai sambilan dari pekerjaan utama.

      Wah, kami rasa bagus sangat apabila engku coba tuliskan pengalaman engku semasa di SMP itu, akan sangat berterima kasih kami engku. Kini harga nasi kapau sudah berkali-kali lipat dari harga yang engku dapati semasa SMP dahulu.

      Terima kasih banyak engku,.. 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s