Berladanglah kita

Picture: http://kingofwallpapers.com

Petani, apa nan terbayang oleh engku, rangkayo, serta encik sekalian apabila kami sebutkan kata itu?

Beberapa masa nan silam, salah seorang induk semang kami bertandang ke rumah. Lepas magrib tadi ia mengajak kami pergi ke kantor karena ada satu berkas penting nan mesti dibawa oleh salah seorang anggota dewan ke Betawi. Maka selepas mentraktir kami makan mie ayam nan katanya salah satu yang paling terkenal di bandar kami maka iapun memutuskan singgah ke rumah sekalian menumpang menunaikan shalat Isya. Lepas itu bercakap-cakaplah ia dengan kedua orang tua kami, kebetulan mereka tak berapa jauh jarak umurnya.

Si induk semang yang rupanya sesuku dengan ayahanda kami, maka semestinya kami memanggil Bapak atau Pak saja kepada beliau karena saudara dari ayah[1]. Maka berkisahlah beliau perihal perak[2] nan dikerjakan oleh beliau, baik itu di rumah anak maupun di rumah dunsanak. Kisah induk semang kami ditanggapi dengan semangat oleh ayahanda karena memiliki kesamaan minat, bedanya, ayahanda agak terhalang kesenangannya karena banyak pekerjaan di lepau.

Maka tersebutlah oleh induk semang kami bahwa ia acap membeli anak lado[3] ke tempat orang kampung kami. Ia lebih suka membeli anak lado ke sana karena tanpa memakai kantung plastik. Bundapun menanggapi “Banyak orang membeli bijo[4] tanaman kesana..”

“Benar kak, sudah tahu orang dengan dia. Katanya acap berjualan di pekan sini..” jawab induk semang kami

“Iya, tapi tak hanya di pekan di kampung ini saja, dimana-mana pakan ia berjualan jua..” jawab bunda “Banyak rezkinya, kini isterinya sudah akan hendak umrah untuk yang kedua kali pula..”

Terkenang kami semasa kanak-kanak pergi ke perak yang sedang dikerjakan oleh Si Engku penjual bijo tanaman itu. Dibawa oleh anak sulungnya yang merupakan kawan kami. Sungguh sedap memandang si engku menata dan memberesi peraknya. Menyirami bijo-bijo yang baru tumbuh ditanah nan gembur itu, memberi pagar, dan lain sebagainya.

Sudah banyak orang yang nyinyir berkata “Orang sekarang memandang rendah kerja bertani, sudah enggan mereka mengolah tanah. Padahal kalau tiada pera petani ini, hendak makan apa orang-orang itu..”

Namun disisi lain mereka acap pula menyindir “Ah, tengoklah itu sarjana tamatan perguruan tinggi. Penat-penat dibiayai kuliah akhirnya ke perak juga ujungnya..”

Ada pula nan berpendapat “Kami ini ke perak hanya karena nasib saja, ilmu dan kepandaian tak punya maka berakhirlah di kubangan lumpur ini. Kalian nan muda-muda apabila ke perak dan ke sawah serupa kami ini hendaknya dengan ilmu tak serupa kami yang mengikuti kebiasaan orang dahulu..”

Entah apa nan berlaku, namun kami bingung dengan beragam pendapat dan harapan orang-orang itu. Masyarakat kami memang masyarakat pancimeeh[5] dan tidak berpendirian atau plin-plan kata orang di pulau seberang sana. Satu ketika berpendapat ini, dilain waktu berpandangan itu, kemudian bertukar pula hari sudah kesana pula inginnya mereka itu. Oleh karena itu tiada dapat disalahkan banyak anak muda nan tak dapat bekerja di kantor-kantor, tak pula memiliki modal, serta tak pula bersekolah tinggi memutuskan untuk menjadi penjaga kedai di bandar kami atau sopir, tukang ojek, dan lain pekerjaan yang tiada berhubungan dengan tanah.

Padahal kalau mereka hendak, banyak tanah nan dapat mereka olah di kampung. Namun karena pandangan masyarakat sudah terbentuk bahwa pekerjaan nan mulia itu ialah apabila engkau bekerja pakaian engkau itu tiada kumuh, memakai baju, celana, dan sepatu yang mengkilap dan menggunakan pena dalam keseharian. Itulah nan ditanamkan sedari kanak-kanak “Kalian kalau sudah gedang jangan serupa kami ini, mencari hidup dengan tabak[6] melainkan dengan pena..” itulah pekerjaan nan agung menurut mereka.

Acap kami dapati di siaran tivi dan filem-filem bahwa di luar negeri para petaninya bekerja tidak menggunakan peralatan lama melainkan dengan peralatan terbaru. Mereka tak memperkerjakan banyak orang melainkan hanya beberapa saja, selebihnya mesin yang mengerjakan. Bahkan ada yang menggunakan pesawat terbang untuk menebar obat di perak-perak mereka nan luas itu. Ya, perak mereka luas sejauh mata memandang berlainan dengan negeri kita yang kecil-kecil terkotak-kotak.

Untuk menggunakan semua peralatan terbaru itu tentulah  mesti bersekolah, dan memang demikianlah, mereka ialah para sarjana. Bahkan mereka memiliki lemari pendingin yang akan menyimpan hasil panen mereka dalam jangka waktu lama. Tak hanya itu, mereka juga memiliki Ruang Percobaan (laboratorium) untuk meneliti, mencari, dan menghasillkan bibit baru yang lebih baik, tahan lama, serta banyak buahnya. Bahkan ada yang telah memiliki tempat pengemasan dimana begitu keluar dari perak sudah terkemas dengan baik dan dapat langsung dijual. Dan mereka bangga..

Telah banyak contohnya, namun memang melawan pandangan remeh masyarakat itu membutuhkan tenaga dan ketabahan yang berlipat-lipat.

_____________________

Catatan kaki:

[1] Saudara, dalam perspektif (konspe) adat atau dalam kata lain bertali adat. Konsep lain ialah bertali darah maksudnya memiliki hubungan keluarga. Konsep yang ketiga ialah bertali adat dan bertali darah maksudnya selain daripada memiliki hubungan adat juga memiliki hubungan darah. Dalam kasus induk semang kami di atas hanya bertali adat saja, karena antara ayah dan induk semang kami tiada memiliki hubungan keluarga.

[2] Kebun

[3] Maksudnya bibit cabe

[4] Biji

[5] Cemooh, pencemooh

[6] Cangkul

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s