Maling naik Kareta

Picture: Here
Picture: Here

Bakarerta, atau bersepeda engku kata, sudah lama kami tiada mengendarai makhluk nan satu itu, mungkin sudah lebih dari dua tahun kalau tiada silap. Maklumlah, onda[1] lebih menawan hati, ditambah musim penghujan nan selalu menjambangi, kecutlah hati ini dibuatnya.

Telah tebal debu nan melapisi batang kareta[2] kami, iba hati ini melihatnya, bannya telah lama tak diisi angin. Beberapa bulan nan silam keponakan kami nan masih belasan tahun pernah mencoba mengendarainya, lepas itu tiada lagi. Kini, diam termangu ia menanti didecak kembali.

Beberapa pekan ini telah agak cerah hari pada pagi dan tengah hari, walau ada jua hujan sesekali namun sejauh pengatamatan kami telah mulai berkurang ia. Induk semang kami nan gemar pula mengendarai kareta telah acap berlalu-lalang ke kampung kami. Malu kami dibuatnya, umurnya telah menjelang enam puluh tahun, masih kuat bakareta belasan kilometer.

Maka, pada Ahad kali ini kami mantapkan hati untuk mengayuh kareta nan telah lama kami abaikan, ya.. berangkat piket dengan mengendarai kareta. Sebagai laki-laki nan tiada pernah dan malas olah raga, jarang menggerakkan badan, dan lebih banyak menghabiskan hari dengan duduk maka hanya inilah kesempatan nan elok untuk mencapai badan nan sehat itu.

Menyandang tas ransel, memakai masker, topi, sarung tangan, headset, dan kaca mata reben, kami mengayuh kareta dari rumah menuju ke tempat piket. Jalanan tiada pula lengang betul, acap berselisih dengan orang lalu, ada nan acuh karena sudah acap melihat orang lalu-lalang bakareta tiap Sabtu dan Ahad, namun ada jua nan memandang panjang karena baru sekali ini melihat orang aneh serupa maling kesiangan naik kareta. Mungkin mereka heran “Rumah siapakah nan baru saja kena maling? Berani benar maling nan satu ini, memaling di pagi menjelang tengah hari.!!”

Karena baru pertama semenjak dua tahun nan silam mengendarai kareta dan langsung menempuh jarak nan jauh, kami langsung angok-angok an (ngos-ngosan) serta betis dan paha terasa agak pegal, ditambah kami langsung memakai gigi tinggi serta sadel kareta yang kecil serupa kareta pembalap itu membuat tulang ekor kami mulai menderita.

Cuaca cerah, angin semilir, dan orang-orang nan memandang heran. Untung saja tiada nan mengejar kami karena disangka maling kesiangan.

Walau sempat melakukan pemanasan sebelum berangkat namun kami tetap cemas betis nan akan pegal-pegal esok hari. Semoga saja tidak dan semoga saja setiap pekannya kami dapat bakareta dengan riang gembira..

Kami jadi terkenang Negeri Kompeni, kareta begitu memasyarakat disana, ah alangkah indahnya bila…. 🙂

_______________

Catatan Kaki:

[1] Motor

[2] Sepeda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s