Dipenjara Masa Lalu

Picture: https://www.awwwards.com
Picture: https://www.awwwards.com

Terkenang kami dengan salah seorang pujangga di negeri ini, dalam kisah-kisah nan disampaikannya pada kitab roman nan dikarang oleh dirinya, tersiratkan betapa ia benci dengan merpati pos. Sebab dahulu semasa dirinya kanak-kanak merpati pos pernah salah mengantar surat ke ayahnya, surat kenaikan pangkat. Ayahnya girang sangat menerima surat itu, dipakainyalah baju nan paling bagus lengkap dengan kopiah. Setelah sampai di kantor dengan dikawani sang anak bujang kesayangannya, mereka duduk manis di aula kantor bersama orang-orang nan sama-sama mendapat surat pengangkatan.

Setelah semua orang habis disebutkan namanya, nama sang ayah tiada dipanggil-panggil, heran dan kecut hati bapak dengan anak itu. Setelah ditanyai kepada petugas kantor nan bertugas menyebutkan nama, sang petugaspun heran bukan kepalang. Diselidikilah oleh petugas itu, perkara nan ganjil ini. Rupanya petaka itu berasal dari merpati pos yang salah mengenali alamat nan tertera dalam surat, sebab ada dua orang bernama sama. Alhasil, sang ayah dengan nan tak jadi naik pangkat itu menghadapi dengan senyuman, lapang hati orang tua itu, sebaliknya si anak sedih tak terkira, ayah nan sangat dihormati dan disayangi serta mendapati sendiri betapa ayahnya girang bukan kepalang tatkala menerima surat itu, akhirnya tak jadi naik pangkat. Hatinya hancur berkeping-keping, ternukil dikalbunya bahwa merpati pos ialah sosok nan jahat serta mesti dihindari.

Namun agaknya takdir berkata lain, Nan Kuasa rupanya memiliki rencana tersendiri terhadap si anak. Setelah si anak gedang, berkuliah di salah satu perguruan tinggi di Pulau Seberang, ia justeru bekerja di kantor tempat merpati pos berada. Tersenyum kami apabila terkenang nasib perasaian si tuan pujangga itu. Tiada dikisahkannya suka-dukanya bekerja di kantor nan amat sangat dihindarinya itu..

Agaknya, tak hanya tuan pujangga itu saja nan mengalami nasib serupa. Kami yakin banyak orang di luar sana nan mengalami nasib serupa tapi tak sama. Termasuklah diantara orang-orang malang itu kami, yang memiliki kusumat sendiri akibat luka dari masa kanak-kanak dahulu.

Bahkan lebih parah, lebih berat malah takdir nan mesti dijalani. Tapi apa hendak dikata, mesti dijalani. Kata orang jangan menilai buku dari kulitnya, ungkapan itu nan kami coba tanamkan dalam hati, walau kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari berkata lain. Kini setiap hari kami mesti berhadapan dengan orang-orang nan selama ini kami hindari, tak hanya itu, mesti bergaul dengan mereka, mengikuti aturan mereka, serta bergerak sesuai dengan irama nan telah ditentukan. Sungguh cobaan nan berat sangat..

Gaya, penampilan, serta tinkah pola yang jumawa menjadi perisai pelindung hati yang lemah dan otak yang tumpul. Sungguh sangat merugilah orang-orang itu. Rasa hormat tiada tumbuh dari jabatan yang disandang, rasa segan tiada muncul dari kepura-puraan yang diperlihatkan. Se dungu-dungunya orang, mereka akan dapat menilai, mana otak yang berisi mana yang kosong, mana hati yang ikhlas mana yang mengharap balas..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s