Mengaji selepas Magrib

Picture: http://www.muslimedianews.com
Picture: http://www.muslimedianews.com

Pada suatu malam St. Malenggang bersama anak perempuan sulungnya pergi ke Pasar Lubuak Buaya, hendak mengunjungi ATM, menambah uang saku. Begitu hendak balik ia mencoba ambil jalan yang berlainan, tatkala pergi kami mengambil jalan besar dan ketika hendak pulang kami ambil jalan menuju sebuah perkampungan yang terletak di belakang perumahan, Kampuang Sapek namanya.

Asyik rupanya, isteri St. Malenggang bertanya heran “Tak takutkah tuan lalu ke belakang, kan gelap disana..?”

“Tak lah, tuan kan orang kampung. Kami orang kampung sudah biasa melalui jalan gelap, tiada takut. Berlainan dengan orang kota yang serba gemerlap..” jawab St. Malenggang jahil kepada isterinya. Yang dijahili hanya memberikan tanggapan merajuk, pura-puralah ia.

“Ketika melalui kampung tersebut, rasa sedih menjalar di hati kami..” kisah St. Malenggang “Kami dapati ramai kanak-kanak mengaji pulang dari surau berjalan kaki ke rumah mereka. Memanglah di Bandar Padang ini anak mengaji pada malam selepas magrib sampai isya berlainan dengan kampung kita” kisahnya dengan senyum sedih “Yang mengajinya di waktu petang sepulang sekolah. Akibatnya, surau-surau disini masihlah ramai, berlainan dengan di kampung kita, malam hari itu lengang surau..”

Itulah yang membuat kami sedih, di kampung kami, surau sudah lengang. Hanya sedikit jamaah tersisa, itupun nan telah uzur. Menurut cerita dari ayah dan bunda, dahulu di kampung kami orang mengaji memanglah selepas magrib sampai menjelang isya. Namun semenjak sekolah sampai siang, maka diubah waktunya menjadi petang hari karena malam anak-anak akan disuruh belajar. Padahal malamnya mereka tak belajar melainkan menonton, ataupun sekarang, main ke warnet.

Sungguh kami sangat mengidamkan di surau-surau di kampung kami anak-anak kembali mengaji selepas magrib menjelang isya. Pastilah semarak kampung kami itu dibuatnya. Bilakah kiranya itu..?

~Agustus 2015~

Advertisements

3 thoughts on “Mengaji selepas Magrib

  1. Yaah….begitulah Sutan, masa memang sudah berubah. Entah penyebab teknologi entah apa sehingga kesibukan terpindah ke urusan dunie. Teringat pula waktu kecil di kampung dulu kami juga pergi mengaji ke Surau, diajar Mamak kami. Jalan gelap, belum ada listrik lagi. Kami bersuluh dengan Pusuang atau tidak dengan daun mangga/kelapa. Pulangnya juga begitu. Kalau ketakutan misalnya ada binatang lewat, biasanya kondiak/babi hutan, terompa Lily kami sampai sempak dan putus karena lari pukanglangkang. Tiba di rumah, kalau aki masih ada, kami menonton tipi dulu, tapi bukan pilem Roman/dewasa. Biasanya pilem….aduh tidak terkenal lagi. Kalau sebelumnya waktu di Pekan, pilem Barnaby John, DtimtuneThe Time Tunel. Masa-masa terindah waktu kecil.

    Liked by 1 person

    1. Iya benar engku, bisa jadi karena teknologi, bisa juga karena orang tua terlalu mensucikan sekolah. Bagi orang tua semacam ini, pendidikan di sekolah mesti didahulukan, bahkan mereka tiada segan menyekolahkan anak mereka di sekolah milik yayasan dari agama lain dengan dalih “Kualitas pendidikan di sana jauh lebih baik..”.

      Ah, tak adakah tuan ditakut-takuti kawan perihal cerita inyiak nan acap lalu di jalan sebelah sana, atau suara nan acap terdengar dari rumah kosong nan disana, dan lain sebagainya.. 🙂

      Liked by 1 person

      1. Alhamdulillah tidak pernah nampak do Sutan. Kami berlima biasanya. Tidak jauh dari rumah pula. Ada sih sebenarnya perlintasan “Inyiak Bolang” itu, tapi jaman ijok dulu katanya.

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s