Lika-liku pegawai

Picture: http://moocnewsandreviews.com
Picture: http://moocnewsandreviews.com

Pada suatu pagi kami kami dan Saidi Palindih duduk-duduk di oto buruk kami. Oto buruk kami telah menjadi semacam tempat persinggahan atau base camp bahasa kerennya bagi kami berdua. Di atas oto kami mengembangkan Kasur Palembang yang terkadang kami gunakan untuk tidur apabila lelah dan kantuk datang mendera. Demikian pula dengan Saidi Palindih, dia juga ikut-ikutan tidur atau sekadar berleha-leha melepas penat dan bosan.

Pagi ini Sambil duduk berjuntai di atas oto, Saidi Palindih yang kesal karena di dalam ruang kerja kami banyak asap, disebabkan cerobong asap bertambah satu, mendatangi oto kami. Selepas duduk berjuntai kemudian dia menelpon kawannya yang entah siapa. Sudah semenjak beberapa hari yang lalu Saidi Palindih acap kali menelpon kawannya yang entah siapa itu. Entah karena rindu dengan kawan semasa SMAnya dahulu, entah karena ingin berkeluh kesah (curhat), atau hendak menghabiskan sisa paket menelpon yang masih ada, entahlah kami tiada menanyakan.

Nan jelas tampak oleh kami, Saidi Palindih terlihat senang dan bersemangat menelpon kawannya ini. Bersenda gurau, menanyai kabar kawan-kawan, memperbincangkan kawan-kawan yang telah menikah atau yang belum menikah, bahkan ada pula kawasan SMA Saidi Palindih ini yang sudah menjanda. Sambil sesekali memperbincangkan kejenuhannya bekerja sebagai Pegawai “Hendak berhenti menjadi Pegawai, awak perlu uang. Kalau tak berhenti, serupa sekarang tak ada kerjaan kita makan gaji buta..” ujar Saidi Palindih beberapa hari nan lalu.

Sadi Palindih memanglah seorang yang keras hati, suka berbicara langsung tanpa memandang lawan bicara yang dihadapi serta menimbang perasaan orang yang diajak bicara. Suaranya keras bahkan terkadang cenderung membentak, memanglah merupakan suatu pembawaan dirinya semenjak lahir. Tiada maksud pada dirinya untuk mengasari orang lain karena telah menjadi adat (watak, tabi’at) dirinya sendiri, walau terkadang kata-kata dan sikapnya itu memang kasar.

Selain itu caranya berfikir memang terlalu keras, terkadang kami lihat Saidi Palindih memakai Kaca Mata Kuda dalam memandang suatu persoalan. Kami yang pandir ini menjadi kepayahan dalam menjelaskan suatu maksud kepada dirinya.

Serupa pagi ini Saidi Palindih kembali berkeluh kesah kepada kawannya ini “Negara ini pandir karena telah menggaji awak..!” katanya, dan kamipun tertawa mendengarnya. Namun tidak pula demikian, pekerjaan sebagai pegawai selalu ada dan akan selalu ada, hanya saja pekerjaan yang sesuai dengan arahan yang telah dituliskan pada kontrak kerja yang setiap tahun dibuat itu yang tidak ada. Pekerjaan lain serupa tolong ini, itu, dan lain sebagainya atau disuruh begini, begana, dan begitu akan selalu ada, selama  masih berpangkat pegawai biasa atau anak buah maka siap-siap saja kena suruh, kalau tiada hendak maka serupa yang kami lakoni pada  masa sekarang “ting..” menghilang.

Kata orang jangan menanti pekerjaan melainkan dijemput pekerjaan itu. Sesungguhnya pekerjaan pegawai itu banyak, hanya saja nan kemengerjakan itu nan tidak ada. Terkadang kurang orang nan ahli untuk mengerjakannya, kalaupun ada nan ahli tapi tak sanggup memikul beban pekerjaan. Ada jua karena induk semang yang tiada faham dengan pekerjaan, tiada tahu dengan kepandaian anak buah, sehingga suatu pekerjaan jatuh kepada orang nan tiada berkesanggupan akan itu. Akibatnya, pekerjaan tiada selesai, induk semang marah-marah, dan anak buah mengumpat-umpat.

Mentalitas, kata orang nan bergelar macam-macam di depan dan di belakang namanya itu. Kata orang kampung kami tabi’at atau ada jua nan mengatakan jiwa. Tabi’at orang nan bertanggung jawab, tabi’at orang nan tahu diuntung itu nan tiada. Terjerembab dalam persaingan, hasad dan dengki, berkeinginan hendak berkuasa, dan lain sebagainya. Tiada ikhlasan dan ketulusan, akibatnya payah mencari kawan nan dapat dibawa kehilir dan kemudik.

Demikianla, kata orang lagi; dimana-mana sama saja engku..

Namun dari pada itu, penghargaan terhadap pegawai nan telah bekerja lintang-pungkang dalam setahun hampir dikata tidak ada. Kata kawan kami “Di perusahaan swasta itu engku, mereka akan memberi hadiah berupa jalan-jalan kepada para pegawai nan telah bekerja keras memberikan karya terbaik mereka untuk perusahaan. Ini di kita, kalau ada pegawai nan berpesiar keluar dituduh menghabiskan uang negara, kena periksa pula itu..”

“Pantaslah kinerja kawan-kawa kita itu menurun..” timpalnya.

Advertisements

2 thoughts on “Lika-liku pegawai

  1. Ondee, masih terjadi saja yang seperti INI dimana-mana ya Sutan. Di kota kami jugak, tengah hari, belum lagi jam istirahat, sudah tampak di toko. Entah apa yang dicari. Makan sepertinya di lepau orang barat.

    Like

    1. Bermacam rupa sebabnya engku, mulai dari memang malas, sampai melarikan diri dari bos yang suka menyuruh tanpa melihat potensi anak buahnya. dalam beberapa kejadian kami dengar bahwa para pegawai yang mau menerima segala pekerjaan dari induk semang akan semakin bersenang hati induk semang menambah dan menambah lagi. pada hal anak buahnya tak hanya satu atau dua orang, nan lain karena sudah bebal dibiarkan saja karena tiada hendak mencari rusuh dengan mereka..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s