Beranak empat..

Picture: Here
Picture: Here

Petang hari ini kami memutar beberapa buah lagu minang, beberapa orang kawan bersenandung kecil mengiringi lagu nan tak lekang oleh waktu itu. Bahkan ada yang bersenandung agak keras, mengiringi dengan alat musik lainnya, atau sekadar menggoyang-goyangkan tubuh sambil bekerja. Kamipun demikian, ikut hanyut dalam irama nan telah puluhan tahun mengisahkan kehidupan di Ranah Minang ini.

Hingga sampailah kepada lagu nan berjudul “Mudiak Arau”, sudah acap mendengarkan lagu ini dan sudah lama terganjal, akhirnya petang hari ini kami sampaikan “Sungguh hebat perempuan ini, bahkan sampai beranak empat lelaki itu masih setia ia menanti..” setengah bertanya kami berseru kepada kawan.

Kawan-kawan tergelak “Iya engku, demikianlah setianya hati kami kaum perempuan..” jawab seorang kawan.

Agaknya pertanyaan kami telah memancing ingatan kawan nan lain lalu dia berkisah “Eh iya engku, ada kenalan awak. Dia dahulunya saling berkasih-kasihan dengan seorang lelaki sampai akhirnya lelaki itu menikah dengan perempuan lain. Beberapa masa nan lalu, lelaki itu kematian isteri dan mereka akhirnya menikah, telah empat anak lelaki itu engku..”

Kawan-kawan nan lain ramai mengajukan pertanyaan, mengemukakan pendapat, tersenyum-senyum dan menyelidiki. Agaknya kisah itu telah memancing pula kisah nan lain “Iya benar, ada kawan kita pegawai di jawatan sana, dia mengalami hal nan serupa, menikah dengan kekasihnya dahulu selepas kekasihnya kematian isteri, sudah empat pula anaknya..”

“Ramai orang memberi nasehat namun ia tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Masa itu hanya tinggal dua bulan sebelum dia berangkat pergi haji. Sebelum berhaji menikahlah mereka itu..” kisah kawan kami tersebut.

“Duhai indahnya..” seru kawan menimpali

“Duhai beruntungnya si lelaki, bilakah nasib serupa akan menghampiri awak ini..” canda kami

“Engku mesti beranak empat dahulu baru kemudian boleh..” kawan kami balas bergurau

“Ah, mesti beranak dahulu sampai empat orang, lama nian itu rangkayo. Tak bisakah sekarang saja..” balas kami lagi.

Gelak tawa, senda gurau menghiasi petang hari nan elok itu. Gara-gara rangkayo Elly Kasim akhirnya kami tahu bahwa lagu itu sesungguhnya diangkat dari kisah nyata pada masa dahulunya. Kisah cinta nan telah ribuan tahun usianya, seiring dengan diciptakannya manusia oleh Allah Ta’ala..

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s