Amelia yang penuh cinta

Picture: Here
Picture: Here

Amelia, roman keempat (resminya roman pertama) merupakan kisah dari Si Bungsu Amelia. Pada roman ini akhirnya disebutkan jua dimana tempat kejadian dari kisah-kisah di roman ini oleh sang penulis. Namun kami bingung, memang ada jalur kereta api yang dibuat oleh para romusha di Zaman Jepang namun jalur tersebut tiada dipakai lagi oleh orang.

Amelia si bungsu, dia dijuluki sebagai anak yang kuat, bukan kuat secara fisik melainkan kuat hatinya. Dia memiliki kesabaran yang tinggi serta teguh memegang pendirian. Lebih dari pada itu hatinya bersih, putih seputih kapas. Hanya ada kebaikan dan prasangka baik kepada semua orang, tiada pernah berburuk sangka, tak pula pernah memendam amarah ataupun kebencian kepada orang lain.

Pada kisah ini kita gambarkan ketajaman fikiran kanak-kanak dan keterangan hatinya. Kami yakin apabila engku membaca roman ini pastilah akan terkenang kalau pada masa kanak-kanak dahulu pernah pula berfikiran serupa Amelia. Bedanya hanya dipendam saja ataupun kalaupun ada diutarakan maka akan dipandang sekadar celotehan kanak-kanak belum berakal.

Di roman ini Amelia mengisahkan perihal kedua abangnya yang ketakutan tatkala hendak disunat. Sungguh tergelak kami membacanya, sampai melarikan diri mereka tatkala hendak disunat. Terkenang dengan pengalaman masa kanak-kanak sebelum disunat, memanglah banyak orang nan jahil, terutama orang dewasa atau anak-anak nan telah disunat. Disunat pakai ladiang[1]lah apabila pisaunya mundu karena tak kuat menyayat kulit yang keras itu, atau memakai ayam palantiak[2]lah. Namun kami tiada lari tatkala hendak disunat..

Pada roman ini juga digambarkan kehidupan kampung yang masih memegang teguh nilai-nilai adat lama. Mufakat di balai kampung misalnya, demikianlah kebiasaan orang Melayu, menyelesaikan segala persoalan dengan mufakat (rapat kata orang sekarang). Kata pepatah di negeri kami; kamanakan beraja ke mamak, mamak beraja ke penghulu, penghulu beraja ke kata mufakat, kata mufakat beraja ke yang benar, yang benar beraja ke Yang Gaq, Yang Haq berdiri sendirinya. Demikianlah nan berlaku di Minangkabau ini, Raja Alam yang bertahta di Nagari Pagaruyuang hanyalah perlambang bersatunya kami orang Minangkabau.

Demikianlah kisah Si Amelia si penunggu rumah. Berlainan dengan kisah ketiga abang dan kakaknya, Amelia tidak menerangkan nasib ketiga kawannya kepada pembaca. Tapi tak mengapa, biar pembaca sendiri yang berangan-angan pada diri nan bertiga itu.

Kesimpulannya; Tuan Pengarang nan bernama pena Tere Liye itu memang pandai, cerdik, dan lihai. Sungguh tinggi ilmunya sehingga pandai menyelami perasaan setiap orang, terutama orang-orang nan ditokohkannya dalam roman nan dikarangnya itu. Seolah-olah semua tokoh itu benar-benar hidup kiranya.

____________________

Catatan Kaki:

[1] Sejenis parang

[2] Ayam pelentik, biasanya ayam betina yang beranak kecil. Amat marah ia apabila ada yang mendekat dan langsung mengejar dan menyerang. Tak peduli apakah sesama ayam, kucing, anjing, bahkan manusiapun diserangnya.

Advertisements

2 thoughts on “Amelia yang penuh cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s