Bersyukur, kata engku gaek

Picture: http://7te.org/old-man-hd-wallpaper.html
Picture: http://7te.org/old-man-hd-wallpaper.html

Pagi yang cerah, orang-orang hilir mudik, satu-dua terdengar teriakan orang-orang di bandar kecil kami itu. Kanak-kanak yang beriang hati, anak remaja yang memadu kasih, pasangan muda yang air mukanya berseri-seri, orang tua yang tertatih-tatih, serta kendaraan yang berlalu-lalang tiada henti. Tenang, tiada kejadian berarti.

Para pedagang menggelar dagangannya, pemilik kedai nan mengharap ke datangan pembeli, beberapa orang duduk-duduk bersama rekan sejawat memperbincangkan berbagai hal. Orang-orang silih berganti berlalu-lalang menaiki janjang yang sangat terkenal di bandar kami. Janjang itu dibangun orang dimasa Belanda oleh empat puluh orang penghulu di Luhak Agam. Pada puncaknya dua ekor patung harimau mengawal di kiri kanan, Harimau Champo, demikian orang Agam mengenalnya, perlambang kebesaran kami.

Di pagi nan cerah itu, untuk pertama kalinya kami duduk-duduk pada sebuah kedai bersama seorang rekan sekantor kami dahulu. Si engku memang memiliki kebiasaan duduk-duduk di kedai tersebut di akhir pekan sambil menanti telepon dari isterinya yang tengah berbelanja di pasar. Karena telah lama tak bersua sebab kami telah berpisah kantor, maka asyiklah kami bercakap-cakap bertukar kabar.

Semula percakapan kami perihal keadaan di kantor lama, tentang kawan-kawan nan berbagai macam rupa lakunya, serta kemudian si engku mengisahkan nasehat dari petikan kisah kehidupannya. Si engku setahun lagi menanti pensiun, telah cukup lama jadi pegawai berlainan dengan kami nan masih hijau dalam segala tipu daya di dunia nan fana ini.

Telah banyak nan dilaluinya, telah beragam perangai nan dikeluarkannya, dan telah masak ia dengan perasaian akibat perbuatan tak elok nan pernah dikerjakannya “Berbagai macam perbuatan tak elok itu kita jua nan merasakan akibatnya engku muda..” kisahnya “Bertengkar dengan anak-bini, hidup tiada tenang, serta hati nan selalu rusuh..” itulah akibat dari perkara-perkara nan telah dipantangkan dalam agama dan adat tak diindahkan.

“Intinya ialah bersyukur, pangkal dari semuanya itu ialah karena kita tiada bersyukur dengan apa nan didapati. Ditambah terlalu banyak dan tinggi hasrat (ambisi) akan pekerjaan. Hendak mengambil muka agar dikenal oleh induk semang, hendak menjadi pejabat, atau hasad dan dengki melihat kawan mendapat senang..”

Orang-orang datang silih berganti datang ke kedai itu, engku tua pedagang batu akik mulai ramai didatangi orang nan berminat melihat batu nan dijualnya. Seorang lelaki berambut panjang nan duduk di sebelah si engku terlihat acuh namun ikut mendengarkan, dasar tukang mencuri dengar, suka hendak tahu saja pembicaraan orang.

“Kini, telah kami lepaskan semuanya. Usia nan telah beranjak senja ini mesti dipenuhi dengan amal dan menghisab diri. Anak telah gedang-gedang, bahkan sudah bercucu pula lima orang. Kini apabila kami pandangi orang-orang itu tiada lagi ada hasad dan dengki itu. Tiada berguna karena masing-masing kita sudah memiliki peruntungan masing-masing, takdir kata orang..” kisah si engku bersemangat.

“Terkadang penilaian kita terhadap orang lain belum tentu tepat seperti yang disangkakan. Selalu merasa tidak puas dengan apa nan telah didapat dan hendak memiliki kehidupan serupa dengan nan dimiliki orang lain..” tiba-tiba mulut kami berbunyi ria. Bah siapa pula nan menyuruh mulut ini bercakap, dan siapa pula nan mengajarinya?

“Benar engku muda, acap kami dengar percakapan orang di lepau sebelah kantor kita itu. Tapi tiada pernah hendak kami duduk berlama-lama, segala gunjingan nan penuh prasangka yang tak berdasar itu terkadang membuat hati kita tiada tenang..” jawab si engku.

Ah, memanglah demikian. Bersyukur ialah perkara nan tiada mudah pada masa sekarang, kata orang hidup itu mesti punya target dan fokuskan diri untuk mencapai target itu. Benar di satu sisi, namun sebagian besar orang-orang tiada arif dalam memaknai “target” tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s