Anggota Dewan sebenarnya

Picture: http://www.tourist-destinations.net/
Picture: http://www.tourist-destinations.net/

Sabtu kemarin kami menonton sebuah filem yang entah apa judulnya dan entah di menit ke berapa kami mulai menontonnya. Filem tersebut ditayangkan di salah satu stasiun tivi asing yang khusus menayangkan filem-filem saja. Dalam percakapan para pelakonnya mereka menggunakan dua bahasa yakni Perancis dan Inggris, namun bahasa nan paling banyak dipakai dalam filem ini ialah Perancis.

Setelah menonton cukup lama, kami ketahuilah bahwa filem ini berasal dari Kanada dan lakon sebagian besar terjadi di Propinsi Quebec. Propinsi ini merupakan propinsi terbesar apabila dilihat dari luas wilayah dan terbesar kedua apabila dilihat dari jumlah penduduk (Terbesar pertama ialah Propinsi Ontario). Pada propinsi ini bahasa Perancis digunakan secara luas, maka wajarlah percakapan dalam filem ini sepenuhnya menggunakan bahasa tersebut.

Yang mengherankan kami ialah mereka juga terkadang menggunakan bahasa Inggris secara bergantian dengan bahasa Perancis (tatkala lakon sedang berlangsung di Ottawa). Setelah kami cari tahu, rupanya Kanada memiliki dua bahasa resmi yakni Inggris dan Perancis, dan setiap orang dijamin haknya untuk menggunakan kedua bahasa tersebut.

Sungguh senang hati kami tersua filem serupa ini, sudah menjadi keinginan kami untuk dapat menonton filem-filem selain yang berasal dari Amerika, Korea, Cina, Jepang, India, dan Indonesia. Kami yakin, melalui sebuah filem kita dapat membaca watak, tabi’at serta budaya masyarakatnya. Filem-filem dari negara di atas sudah terlalu acap kami tonton jadi hendak mencari tahu yang lain.

Filem ini mengisahkan seorang anggora dewan tingkat pusat (parlemen pusat, federal) yang lintang pungkang menghadapi masyarakat di daerah pemilihannya (atau dalam bahasa kerennya: konstituen) yang melakukan aksi menutup jalan, mereka ialah para penambang batubara. Kami tiada faham apa nan menyebabkan terjadinya penutupan jalan ini namun akibatnya ialah dilakukan perbuatan serupa oleh penduduk asli (Indian) dibelahan jalan nan lain. Penyebabnya ialah kegiatan penambangan tersebut telah merusak alam dan mencapai tanah ulayat penduduk asli.

Hal ini memicu ketegangan, menjadi berita nasional, dan sang anggota parlemen (yang kami lupa namanya) yang berasal dari jalur independen tersebut lintang pungkang, pening tujuh keliling. Dia pergi mengunjungi salah satu kelompok yang melakukan penutupan ini dan melakukan permufakatan, namun belum tercapai kata sepakat. Ditelpon oleh banyak fihak, menjadi salah satu pusat pemberitaan, gejolak yang terjadi dipusat pemerintahan, serta ketidak sefahaman pemikiran dengan anak perempuannya nan masih gadis.

Sang anggota parlemen ini rupanya selalu didampingi oleh seorang ajudan, seorang mahasiswa magang dari Haiti. Menarik perihal mahasiswa ini yang selalu berpenampilan rapi (memakai kemeja lengan panjang, celana dasar) dia berasal dari negara di luar Kanada, dapat dekat dengan salah seorang politisi tingkat nasional, serta dapat pula memberi masukan.

Sang mahasiswa selain sebagai ajudan ia juga memainkan peran sebagai penasehat pribad, serta konsultan politik. Memahami berbagai aliran filsafat yang banyak berjangkit di Eropa di masa pencerahan, salah satu kutipan dari salah seorang filsuf Perancis yang menjadi viral di filem tersebut ialah: Politik mengubah sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin. Setelah kami cari tahu, rupanya Haiti merupakan negara lain yang menggunakan Perancis sebagai bahasa resmi negaranya.

Keadaan mulai memanas tatkala Perdana Menteri memutuskan untuk ikut perang dengan sekutu. Terbelahlah pendapat menjadi setuju dan tidak setuju. Untuk menjalankan niatnya tersebut Perdana Menteri mesti mendapat pengesahan dari Dewan Rakyat (Parlemen) untuk mendapat kendali penuh atas angkatan bersenjata. Disinilah mulai peliknya, karena suara yang setuju dan tidak setuju seimbang dikarenakan dua orang (kalau tidak salah) menyatakan tidak memilih (abstain), sedangkan nan seorang sakit parah, maka anggota dewan dari Quebec ini menjadi sosok yang menentukan.

Dipanggil khusus oleh Perdana Menteri untuk bertemu, ditawari untuk mendapatkan jabatan Menteri Urusan Penduduk Asli agar ia berkenan memberi suara untuk mendukung pengerahan anggatan bersenjata. Pertemuan tersebut menggusarkan puterinya karena menyangka ayahnya akan menyetujui perang. Sebaliknya sang isteri mendukung perang setelah mengetahui suaminya ditawari jabatan menteri. Sedangkan sang mahasiswa magang terus mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dan mulai merancang langkah untuk ditempuh oleh sang anggota dewan.

Sosoknya tiba-tiba menjadi terkenal karena menjadi tumpuan harapan banyak orang (terutama yang tak ingin perang). Sedangkan fihak yang menyetujui perang menjadikan landasan pendapat mereka bahwa perang bukan urusan mereka, tidak ada sangkut pautnya dengan mereka, serta dua kementerian telah menjanjikan proyek untuk daerah mereka apabila mendukung perang.

Disinilah kami lihat peran anggota dewan sesungguhnya, dia menjemput suara kepada rakyat yang memilihnya. Mengumpulkan orang du aula bandar untuk didengarkan pendapatnya, melakukan perjalanan ke berbagai daerah, bertukar fikiran, dan lain sebagainya. Sebagai anggota dewan dia juga tidak hidup mewah, tidak memiliki pembantu rumah tangga, tidak tinggal di rumah dinas, tidak mendapat pelayana utama melainkan diperlakukan seperti rakyat kebanyakan. Dia hanya memiliki seorang ajudan yang mengatur segala jadwal, mengumpulkan informasi, menunaikan tugas administrasi, dan lain sebagainya.

Filem ini memberikan banyak pelajaran mulai dari sosok anggota dewan idaman, keadaan di Kanada yang tak jauh beda dengan disini dimana pada salah satu percakapan antara anggota dewan tersebut dengan ajudannya diketahui bahwa kebanyakan politisi di Kanada mengakhiri pekerjaan (karir) mereka dengan cacian dari masyarakat. Intrik antara pihak yang setuju dan tidak setuju dengan perang dalam mengemukakan pendapat dan pandangan mereka. Singkat kata, filem ini menampilkan realitas apa adanya tidak berusaha membuat salah satu fihak menjadi antagonis dan fihak lain protagonis. Tidak ada malaikat ataupun iblis disini.

Sungguh sayang kami lupa judulnya, barang siapa diantara engku, rangkayo, serta encik sekalian nan merasa pernah menonton filem tersebut pada hari Sabtu tanggal 4 Februari 2017, berkenanlah memberi tahu kami. Kalau boleh, tolong dikirimkan link downloadnya.. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s