Pegawai Bengak

Picture: http://www.goodwp.com/
Picture: http://www.goodwp.com/

Kantor telah lengang tatkala kami berjalan ke luar dari kantor “Bilakah kita akan berhenti menjadi pegawai bengak kawan..?” tanya kawan kami St. Rajo Basa tatkala kami berjalan beriringan ke luar kantor.

Kami hanya tersenyum mendengarnya “Mereka tiada peduli kita pulang selambat apapun, tapi amat nyinyir kalau kita datang terlambat..” lanjut kawan kami sambil menghidupkan onda[1]nya.

Tadi menjelang ashar, kawan kami ini mengajukan sebuah pertanyaan nan selama ini hanya menjadi bahan perbincangan diantara kami kepada induk semang “Engku, sebenarnya sebagai pegawai negara nan dinilai itu kualitas kerja kita atau kehadiran kita?”

Tanyanya itu disambut tawa dan senyuman dari kawan-kawan kantor, agak terkejut induk semang kami mendengarnya namun dengan segera dapat kembali menguasai diri “Tanya engku awak jawab saja..” sambut induk semang kami “Elok kita tanyakan kepada Kepala Kepegawaian di kantor kita..” jawab induk semang kami tak kalah serunya.

Kami, kawan-kawan semua, serta pegawai kurang kerjaan nan bertanya tertawa semuanya. Memanglah menjadi sebuah kejanggalan nan selama ini diabaikan. Hampir kesemuanya menghimbau dan mengulang-ngulang betapa penting kedisplinan, bahwa terlambat sedetik saja kami para pegawai telah jatuh kepada tindak korupsi dimana dalam hal ini ialah korupsi waktu. Namun pekerjaan nan bergalat, tiada kunjung selesai tiada pernah dikait-kaitkan dengan korupsi.

Dan satu lagi contohnya, kawan kami nan seorang ini acap pulang telat dari kantor dan tiada pernah disebut-sebut kelebihan jam kerjanya tersebut, serta tiada pernah pula diberi imbalan “Tiada mengapa kawan, anggap saja sebagai pengganti waktu nan terbuang karena kami terlambat masuk kantor..” ucapnya suatu ketika

“Ya, tapi engkau terlambat hanya hitungan menit, namun ini telah lewat pula dua jam  pulang kantor..” balas kami.

“Untuk mencari berkah kawan, membersihkan gaji nan kita terima tiap bulan. Usah engkau sebut, nanti riya jatuhnya, riya di mulut dapat dijaga namun riya dihati manakan dapat dikawal..” jawabnya sambil tersenyum.

“Awak benci sangat mendengar kata displin itu. Mereka mengulang-ulang kata itu namun tiada faham makna sesungguhnya. Membaca kulit luarnya saja, macam seorang pengikut fanatik yang teramat memuja ajaran nan diimaninya..” kata kawan kami ini entah kepada siapa.

_____________________

Catatan Kaki:

[1] Motor

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s