Bermain kareta

Sumber Gambar: https://polygonowner.wordpress.com
Sumber Gambar: https://polygonowner.wordpress.com

Ah, tatkala membaca roman nan dikarang oleh Engku Tere Liye kami terkenang kembali dengan masa kanak-kanak. Bermain sampai magrib dan ketiba tiba di rumah disambut dengan ceramah bunda dan wajah masam ayahanda. Masuk perak keluar perak berlarian bersama kawan-kawan sehingga baju dan seluar nan sebelumnya bersih menjadi kumuh tak karuan. Bermain katapel dengan kawan-kawan, akibatnya kulit tangan dan badan merah-merah dibuatnya karena terkena peluru lawan. Bersua ular tatkala mencari puyu di sawah, lari lintang pungkang, atau kena herdik oleh si pemilik sawah karena sawahnya baru saja dilanyah atau mungkin disebar benihnya sudah dirusak oleh kanak-kanak anak Si Anu kamanakan Si Fulan.

Bermacam-macam kenangan masa kanak-kanak itu, seperti bermain kareta[1]. Bagi siapa nan telah pandai mengayuh kareta maka levelnya menjadi naik dalam pandangan kawan-kawan, sebab untuk pandai bermain kareta seorang anak mesti terjatuh dihimpit kareta, badan lecet-lecet, dan lain sebagainya. Mengendarai kareta kecil untuk kanak-kanak tak dipandang hebat karena begitu hilang keseimbangan maka kakinya akan segera menyelamatkan. Namun mengayuh kareta unto[2] yang biasa dipakai orang tua masing-masing ialah suatu keistimewaan. Tak kareta untopun tak mengapa nan jelas kareta untuk orang dewasa.

Seingat kami ada empat jenis kareta nan biasa dipakai oleh orang dewasa, kareta unto, kareta kumbang, kareta mini, serta karenta federal[3]. Bagi seorang anak, untuk mengayuhnya ia mesti berdiri, tak dapat duduk. Sehingga tatkala mengendarai sepeda badannya naik turun. Coba engku bayangkan apabila jarak nan ditempuh itu berkilometer? tentulah penat anak nan mengayuhnya. Lebih hebat lagi kalau ia juga memboncengi kawan di belakang, bahkan lebih dari dua.

Selain itu mengendarai kareta nan ada “batangnya” yakni besi yang memelintang dari sadel ke stang kemudi juga dikagumi oleh kawan-kawan. Biasanya kareta unto dan kareta federal yang memiliki batang. Kemudian di batangnya itu akan duduk menyamping seorang kawan. Kawan nan duduk memegang stang, sedangkan nan duduk di sadel nan mengayuh, demikianlah salah satu bentuk kerja sama kanak-kanak pada masa itu.

Kehebatan lain dalam mengendarai kereta ialah melepas tangan disaat mengendarai. Kepandaian ini dikuasai oleh anak remaja yang kakinya sudah sampai ke tanah tatkala mengendarai kareta. Tak hanya dijalan lurus, melainkan dijalan berbelokpun tetap melepas tangan, pandai mengarahkan kemudi. Apakah itu di jalan beraspal ataukah di jalan buruk nan berlubuk tetap melepas tangan, tentu saja ada jua nan terjatuh.

Dahulu di kampung kami jalanan masih buruk, jalan tanah berlubuk tiada datar, satu dua batu kerikil terserak di sepanjang badan jalan. Apabila hari hujan, lubuk-lubuk itu akan digenangi air, sebagian besar pengguna jalan, apakah yang berjalan kaki ataupun nan memakai kendaraan akan menghindari lubuk-lubuk tersebut. Namun tidak bagi kami, kareta dipacu sekencang mungkin lalu masuk melintas ke dalam lubuk, air akan berkecipak keluar. Semakin kencang maka akan semakin tinggi airnya, apalagi kalau sampai ada kawan nan terkena maka akan semakin rianglah hati itu. Namun apabila pejalan kaki nan terkena, apalagi orang tua maka akan kena hardik dan menyinyirlah mereka semabari bertanya “Anak siapa itu tadi?! Awas, awak kenal mamaknya..!” ancam mereka.

Kegemaran kami ialah berkerata mengelilingi kampung, terdapat jalan menurun dan mendaki serupa huruf “V” tapi tidak seterjal huruf tersebut. Biasanya kebanyakan orang akan berhenti di tengah-tengah pendakian karena tiada sanggup lagi mengayuh kareta mereka. Bagi inyiak-inyiak[4] mereka akan turun tatkala sudah sampai di dasar dan kemudian akan memapah kareta mereka dipendakian. Bahkan ada yang memapah kareta tatkala dipenurunan, cemas terjatuh apabila didecak jua kareta itu.

Berlainan dengan kanak-kanak kurang kerjaan serupa kami dan kawan-kawan. Sedari penurunan kami mengayuh kencang-kencang sampai kayuh itu terasa ringan bahkan serasa tak mengayuh saja. Lalu tatkala dipendakian dikayuh pula sampai ke atas. Bagi yang berhasil sampai ke atas tanpa turun dari kareta maka ia akan tergelak bangga, menertawakan kawan nan terpaksa turun, apalagi nan hampir sampai ke atas sudah turun karena sudah tak sanggup lagi.

Semakin jauh kami berkereta maka akan semakin hebat pula dimata kawan-kawan. Ada yang pernah berkereta sampai ke Pasar Bukit Tinggi, namun sebagian besar hanya sampai ibu kota kecamatan saja. Bagi yang dibelikan kareta bagus, terutama kareta federal, akan semakin banggalah ia. Semasa berkerata buruk kepunyaan ibu-bapanya baik hati meminjamkan kepada kawan-kawan namun tatkala berkerata baru tak tanggung pelitnya. Kamipun demikian pula,. pelit.

Memiliki kareta nan ada giginya ialah suatu kebanggaan. Sudah serasa mengendarai onda[5] sport pula rasanya. Masa itu nan memiliki kereta bergigi ialah kereta federal dan beberapa kareta unto. Kanak-kanak gemar sekali tiap sebentar menukar gigi karetanya, padahal sedang berjalan di jalan datar.

_______________________

Catatan Kaki:

[1] Sepeda

[2] Sepeda Ontel

[3] Sepeda gunung, pada masa itu jenis kereta gunung bermerek “federal” lah yang banyak dibeli oleh orang kampung kami. Ada juga merek lain seperti “mustang” yang sudah tak kami jumpai lagi pada masa sekarang. Namun sama nasibnya dengan “Honda/Onda” maka merek sepeda pertamalah yang menjadi ingatan.

[4] Kakek-kakek

[5] Motor

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s