Memanen Kopi bersama Nyiak Aki

Picture: Here
Picture: Here

Tatkala membaca roman nan di karang oleh Tere Liye, fikiran kami kembali terbang ke masa kanak-kanak nan penuh kenangan. Kenangan bersama Almarhum Nyiak Aki[1] tatkala dibawa memanen buah kopi di perak belakang rumah. Pada masa itu, tanaman limau yang dahulu berjaya di kampung kami telah digantikan oleh kopi dan banyak ditanam di perak-perak kepunyaan penduduk kampung.

Perak kopi ditanami oleh nyiak aki, tak hanya perak di belakang rumah namun juga perak nan lain yang jauh dari rumah. Tanaman kopi ini tingginya kurang lebih dua meter berdaun rimbun, selain kopi juga ditanami coklat dan kayu manis oleh nyiak aki. Daunnya nan rimbun itu membuat tanah-tanah di sekitar batang kopi tersebut bersih tak ditumbuhi oleh rumput. Melainkan buah kopi nan telah masak dan jatuh sendiri ke tanah atau buah kopi nan dimakan tupai itulah nan tumbuh menjadi biji-biji kopi.

Tanaman ini memiliki buah sebesar kelereng, mungkin lebih kecil, kami tiada begitu ingat. Yang muda berwarna hijau, itu belum boleh dipetik sedangkan yang telah masak berwarna merah atau bahakan hitam apabila telah terlalu masak, dan yang inilah yang akan dipetik. Batang kopi ini menjadi sarang bagi karirawai[2] yang sangat pedih apabila sampai digigit oleh binatang berbentuk semut  namun dengan ukuran lebih besar itu. Selain itu juga ada semut hitam yang membuat sarang di daun-daun kopi yang terlindungi dari sinar matahari, atau pada tampuk yang banyak terdapat buah kopinya.

Biasanya nyiak aki memanen buah kopi sekali sepekan apabila sedang masanya. Terkadang kami ikut dibawa atau sengaja menurut apabila tidak bersekolah. Nyiak aki dengan memakai kopiah usangnya, berbaju kemeja buruk lengan panjang yang sengaja dipakai untuk ke perak (beliau tiada pernah memakai baju kaos apakah di dalam ataupun diluar rumah), celana pentalon buruk yang telah kusam berlubang dan robek pada bagian lutut atau betis, memakai terompah atau terkadang bertelanjang kaki. Dan terkadang pula sambil menghisap rokok Gudang Garam Surya, rokok yang pernah acap kami curi untuk dihisap. Di bawah batang kopi nan rimbun inilah kami merokok biasanya, tersembunyi dari tatapan siapapun.

Apabila kami menurut ikut, maka kami akan disuruh memakai topi, baju dua lapis, dan memakai sarung tangan. Kami herank kenapa nyiak aki menyuruh kami memakai sarung tangan, padahal beliau sendiri tiada. Terkadang sarung tangan kami lepas karena tiada leluasa memetik buah kopi, akibatnya semut-semut hitam yang bersarang di tampuk kopi itu dengan cepat menyerang tangan telanjang kami. Tiada menggigit mereka namun tetap kami terkejut dibuatnya. Berlainan dengan nyiak aki, apabila tangan beliau diserang oleh semut hitam itu, beliau tetap tenang memetik buak kopi dengan rokok diapit kedua bibir beliau. Salut kami, seolah-olah tak berlaku sesuatu apapun saja.

Ember buruk hitam menjadi tempat menaruh buah kopi, apabila penuh dibawa kebelakang rumah kemudian dimasukkan ke dalam baskom. Lepas itu kembali ke perak nan tepat berada di belakang rumah itu. Biasanya nyiak aki nan bolak-balik, kami hanya sesekali saja, lebih banyak bermain, bertanya ini-itu sembari mendapat tanggapan “Engkau nyinyir, bekerja sajalah..!”

Terkadang, buah kopi nan baru dipetik itu kami kelupas dan kami kulum-kulum. Amat manis rasanya dan cukup nikmat “Jangan engkau buak incek[3]nya, masukkan kembali ke dalam ember..!” demikian nyiak aki memperingati. Ya, bijinya itulah nan akan menjadi kopi kelak.

Apabila telah selesai maka buah kopi yang telah dikumpulkan ke dalam baskom itu akan direndam selama semalam oleh nyiak aki. Esoknya, dengan menggunakan lesung yang berada di belakang rumah, buah kopi itu ditumbuk menggunakan alu nan amat berat apabila kami coba untuk mengangkatnya. Terkadang selama seharian, nyiak aki menumbuk kopi di belakang rumah sampai kosong baskom-baskom itu.

Salah seorang mamak[4] kami pernah membantu menggantikan nyiak aki menumbuk kopi nan telah direndam. Tatkala didapati oleh mamak kami nan lain, ia mendapat cemooh “Engkau masih muda, kopi nan direndam itu pula nan engkau tumbuk. Bapak karena sudah tua makanya merendam kopi, baru kemudian ditumbuk..” rupanya bagi penduduk kampung nan lain, kopi itu tiada mesti direndam semalaman melainkan langsung ditumbuk saja. Adapun bagi nyiak aki gunanya direndam agar mudah dalam menumbuk.

Setelah ditumbuk dan dipisahkan dari kulitnya, kopi itu kemudian dijemur agak beberapa hari. Berlainan dengan menjemur padi nan mesti ditunggui, menjemur kopi tiada perlu demikian, cuma mesti awas apabila awan gelap telah tiba. Apabila kopi telah benar-benar kering maka akan segera dijual ke pasar di Payakumbuh ataupun Bukit Tinggi karena hanya di dua bandar itulah terdapat teuke nan akan membelinya. Ke pasar di Payakumbuh lebih banyak dijual orang kampung kami. Akan tetapi kalau penat menjual ke pasar di dua bandar itu terdapat pedagang perantara di kampung kami yang bersedia menjemput ke rumah-rumah penduduk.

Dahulu kami acap berfikir, kenapa buah ini dinamakan kopi? tiada hitam ia? keras pula? tiada dapat diseduh dengan air. Pernah kami diam-diam mengambil beberapa biji untuk diseduh ke dalam air panas, tiada menghitam ia malahan biji kopi itu masih mengapung pada air di dalam gelas. Bunda hanya tersenyum saja mendapati kelakuan kami itu.

Kini perak itu telah tiada seiring dengan penyakit tua nan menimpa nyiak aki kami, menyebabkan beliau tiada kuasa lagi mengurus perak kopinya. Papa menggantinya dengan menanam cabe dan semenjak beberapa tahun nan silam dengan tanam limau yang kembali dicoba oleh sebagian besar penduduk kampung kami.

Kopi memiliki sejarah panjang di Minangkabau ini, dipaksakan oleh Belanda menanamnya kepada orang Minangkabau, dipaksa pula menjual kesemua hasil panen kopi tersebut ke gudang-gudang yang telah mereka dirikan pada tiap nagari. Akibatnya, orang Melayu yang sangat gemar akan kopi itu menempuh cara lain untuk menikmati kopi yakni dengan mengambil daun kopi, menyangainya di atas tungku tempat memasak, kemudian merendamnya dengan air panas mendidih di dalam tabung bambu. Air dari hasil merendam daun kopi itulah nan dinikmati, maka dikenallah orang Minangakabau ini dengan julukan “Melayu Kopi Daun”

__________________________

Catatan Kaki:

[1] Kakek, dalam hal ini ialah ayah dari bunda

[2] Karanggo

[3] Biji

[4] Saudara laki-laki ibu

Advertisements

4 thoughts on “Memanen Kopi bersama Nyiak Aki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s