Batang Manggis Kami

Picture: Here
Picture: Here

Di perak belakang rumah kami terdapat satu batang manggis tak jauh dari batang durian milik keluarga nan menjulang tinggi. Semenjak kanak-kanak kami kesal sekali dengan batang manggis nan satu ini, dahan paling bawahnya sangat jauh dari tanah, mungkin ada sekitar 3-4 meter jaraknya. Berlainan dengan batang manggis milik penduduk di kampung kami yang dahan paling bawahnya rendah sehingga mudah untuk dipanjat. Jaraknya nan begitu dekat dengan rumah juga menjadi penyebab kami tiada pernah berjaya memanjatnya, bunda dengan segera berteriak dari dapur apabila melihat kami mulai meraba-raba batang manggis untuk dipanjat.

Entah berapa umurnya, nan jelas batang manggis itu telah ada semenjak kami kanak-kanak. Selain itu, batang manggis ini juga terkenal pelit dalam menghasilkan buah. Disaat batang manggis milik penduduk kampung ramai berbuah, batang manggis nan satu ini amat sedikit buahnya. Disaat orang ramai mengambil buah manggis untuk dijual kepada teuke, manggis kami tiada nan memanjat. Kalaupun ada hanya beberapa kali, lepas itu tiada, berlainan dengan batang manggis milik penduduk kampung yang berkali-kali dipanjat orang.

Walau demikian, kami sangatlah sayangnya kepada batang manggis nan bakhil ini karena hanya dialah satu-satunya batang manggis kepunyaan keluarga kami. Maka tatkala mengetahui batang manggis ini patah pada bagian tengahnya sehingga menyebabkan ia menjadi lebih rendah, maka dengan segera gundah menghampiri kami.

Semula kami kira sengaja dipotong oleh ayahanda namun kemudian bunda meluruskan “Batang manggis itu patah tatkala dihantam oleh angin kencang beberapa hari nan silam. Rupanya pada bagian nan patah itu telah dimakan rayap. Untung belum jadi dipanjat oleh Si Bujang Kaliang batang manggis kita itu, kalau patah tatkala dipanjatnya, tak tahulah apa nan akan berlaku..” jelas bunda.

Sepekan nan silam hujan dan angin kencang selalu setiap mengawani hari-hari, air menjadi sedingin es, suhu udara dibawah 20 derajat selsius. Sungguh salut kami dengan orang-orang di negeri empat musim, suhu minus 30 derajat selsiuspun mereka masih sanggup menghadapi walau mengerutu.

Beberapa hari ini entah telah beberapa orang nan datang hendak membeli manggis. Mereka datang menemui bunda atau ayahanda, membujuk dan merayu agar kepada mereka saja dijual buah manggis itu. Kesal bunda dibuatnya, karena nan datang itu merupakan orang kampung kami jua yang memiliki hubungan keluarga dengan kami. Akhirnya disepekatilah kamanakan dari ayahanda[1]lah yang akan mengambilnya.

Demikianlah kisah batang manggis keluarga kami nan bakhil dan malang itu..

Manggis di kampung kami ini selalu beriringan dengan durian musimnya, apabila durian sudah musim maka akan demikian pula dengan manggis. Merupakan sama-sama buah nan nikmat dan digemari oleh penduduk kampung. Selain itu kami dengar buah ini sama-sama “panas” dengan buah manggis. Pernah dahulu kami dengar orang kampung kami meninggal karena memakan buah durian dan manggis secara beriringan. Semenjak saat itu kami menjadi cemas terhadap buah nan dua ini, apabila satu sudah dimakan maka baru esok kami makan nan satu lagi..

___________________________

Catatan Kaki:

[1] Tidak ada hubungan keluarga, hanya satu “Suku” saja

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s