Musim Si Raja Buah

Picture: Here
Picture: Here

Musim Si Raja Buah telah mulai datang ada bulan-bulan terakhir di penghujung tahun 2016. Di bandar kami telah mulai tercium bau durian yang dijual orang di pasar-pasar. Sungguh ramai orang nan menjualnya, terutama apabila petang telah beranjak menjadi senja, semakin ramai saja.

“Sudah lareh[1]kah durian di kampung engku?” tanya seorang kawan penuh harap.

Tak seorang ataupun dua orang, tak sekali-dua kali, entah berapa kali, entah berapa orang nan bertanya kepada kami. Memanglah, kampung kami Kamang terkenal dengan Duriannya nan sangat nikmat menjadi buruan bagi pecinta si Raja Buah. Namun sayangnya mereka selalu salah mengira perihal Kamang, bagi mereka nan Kamang itu ialah Tarusan[2] dan sekitarnya.

Kamang bukanlah satu-satunya nagari penghasil Si Raja Buah di Minangkabau ini, ada beberapa nan kami ketahui seperti Kayu Tanam yang terletak antara Padang Panjang dan Sicincin, Kubang yang merupakan salah satu nagari di Bandar Sawah Lunto, Pasaman, dan Limo Puluah Koto (50 Kota orang mengenalnya), serta nagari-nagari lainnya yang mungkin tiada hafal oleh kami. Sudah menjadi kelaziman kami dapati setiap tahunnya bahwa durian di kampung kami menjadi penutup dari Musim Durian.

Durian-durian dari nagari-nagari lain akan lebih dahulu berbuah dan lareh, baru selepas itu durian di kampung kami. Jadi tak heranlah kami kalau setiap waktu mendapat pertanyaan, yang ada ialah kesal karena serupa orang sedang menagih hutang saja mereka itu.

Durian di kampung kami tumbuh di perak-perak[3] kebun milik penduduk, tidak semuanya memiliki buah durian melainkan beberapa saja nan beruntung. Batang durian di kampung kami sangatlah tinggi-tinggi, tak ada batang durian yang rendah serupa kami tengok di tipi-tipi. Durian-durian tersebut mesti ditunggu lareh denan sendirinya baru selepas itu dapat diambil untuk dimakan. Dahulu, sebelum kendaraan belum seramai sekarang, bunyi dentuman buah durian jatuh beradu di tanah terdengar sampai ke labuh-labuh kampung.

Ada nan membuat dangau[4] di perak apabila jauh dari rumah, gunanya untuk menunggui agar jangan sampai di maling orang. Pada musim durian ini, perkara maling-memaling durian lazim berlaku di kampung kami, keluarga kami setiap tahun menjadi mangsa langganan bagi pencuri buah durian. Tidak ada hukuman kalau ketahuan, sama sekali tak ada hukuman, Allah Ta’ala saja nan akan menghukum mereka di akhirat kelak..

Kami pernah suatu ketika dibawa kawan kami bermalam di dangau milik keluarganya guna menunggui durian lareh. Walau telah dibuat api unggun, namun rangik[5] tetap bersimerajalela menancapkan jarum halus nan ada di moncong mereka kepada kulit tubuh nan tiada terlindungi. Alhasil, pada paginya badan kami sudah bengkak-bengkak. Setidaknya pengetahuan kami bertambah yakni; rangik di perak jauh lebih besar dan ganas dibandingkan rangik yang ada di rumah.

Setidaknya, kami tiada perlu membeli buah durian untuk menikmatinya. Walau kami semua merupakan pecinta durian yang fanatik dan radikal namun semenjak beberapa tahun belakangan ini kami dan adik-adik menjadi kurang berselera terhadap buah nan satu ini. Selalu berharap setiap tahunnya durian itu tak usah saja berbuah, untuk menebangnya iba karena batang durian itu jauh lebih tua dari kedua orang tua kami umurnya.

Selalu kemalingan, selalu ditipu oleh para penjual durian yang gemar datang ke rumah membeli durian untuk mereka jual, kesal karena sekalian kawan dan handai taulan lainnya menuntut-nuntut untuk dibawakan Durian Kamang. Geram melihat orang nan mengaku kawan dari keluarga kami yang tiada tampak batang hidungnya di saat Hari Raya namun datang ke rumah disaat Musim Durian.

“Ikhlaskanlah, anggaplah itu sebagai sebuah amalan bagi keluarga kita..” nasehat bunda

Adik bungsu kami tiada dapat terima “Setiap tahun berlaku bunda, serupa orang pandir saja awak dibuatnya..”

_____________________

Catatan kaki:

[1] Runtuh, jatuh

[2] Sebuah danau kecil yang lebih terkenal dengan nama “Tarusan Kamang” semenjak beberapa tahun ini menjadi tujuan pelancongan baru bagi masyarakat Agam dan Bukit Tinggi.

[3] Kebun

[4] Pondok

[5] Nyamuk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s