Tiada putus usaha

Picture: Here
Picture: Here

Petang hari itu, di petang hari berangin kencang  nan dingin itu, sembari menghabiskan rokoknya nan sebatang, kami dan St. Rajo Basa tegak-tegak di samping otonya. Bercakap-cakap perihal perkara perpindahan pegawai besar-besaran di bandar kami. Telah hampir menjelang magrib, kawasan kantor kami telah mulai lengang, beberapa orang anak remaja terlihat berkeras hati bermain di sekitar jalan nan lapang itu. Mereka kerap memanfaatkan lengangnya jalan di petang hari untuk duduk-duduk, berbual-bual, berkumpul, dan bermain. Beberapa bulan terakhir ini kami dapati kebanyakan mereka berlatih memainkan papan luncur dan sepatu roda serta kereta[1].

“Tengoklah kantor lama kita, suatu saat akan kita rindukan suasana di kantor buruk itu..” ujar kami

Sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya kawan kami ini menjawab “Tak perlu menunggu nanti, kinipun sudah terasa..” ucapnya acuh tanpa memandangi kami.

Benar agaknya, kantor lama kami jauh dari labuh besar hingga terasa tenang walau di dalamnya terkadang hiruk-pikuk. Berlainan dengan kantor baru yang berada di tepi labuh besar, mesti berhati-hati berbelok untuk masuk ke halaman kantor. Tatkala kami berfikir demikian, tiba-tiba kawan kami ini berjalan menuju trotoar di samping kanan jalan. Kami terkejut sebab St. Rajo Basa tiada bercakap sepatahpun kepada kami. Kami amati, rupanya ia menuju kepada seorang rangkayo tua pembawa kardus. Tadi kami sempat mendengar ada sesuatu yang jatuh, rupanya kardus-kardus bekas yang sedang dibawa oleh rangkayo itu terlepas dari pelukan kedua lengannya.

Demikianlah, agaknya kawan kami ini hendak menolong rangkayo yang kami perkirakan sudah berumur di atas 70 tahun. Tapi bukan, begitu mendekat St. Rajo Basa seperti mengucap sepatah kata, kemudian meraih tangan rangkayo tersebut dan selepas itu berbalik. Ah, telah silap kami, ada uang nan diberikan oleh kawan kami ini.

Kami pandangi kawan kami nan tengah berjalan menuju ke arah tempat berdiri kami, kami amati rangkayo tua pembawa kardus itu. Berjilbab putih yang telah kusam, memakai baju kurung layaknya perempuan Melayu, pakaian yang sangat dihindari oleh perempuan Melayu masa kini di negeri kami ini, punggungnya telah agak membungkuk. Kami amati guratan perasaian hidup pada wajahnya, pernah rasanya tersua oleh kami dahulu rangkayo ini bersama Saidi Palin.

“Tiada memakai baju hangat rangkayo itu, kita nan masih muda ini saja tiada tahan menghadapi udara dingin nan menusuk tulang ini..” ujar St. Rajo Basa kepada kami “Orang tua lazimnya tiada tahan dengan dingin, terbayangkah oleh engku bagaimana perasaian hidup nan dijalani oleh rangkayo itu..?” tanyanya kepada kami.

Kami diam saja “Bagaimana pula dengan orang-orang nan tiada memiliki rumah, dimanakah mereka berlindung dari cuaca dingin menusuk tulang ini. Ditambah angin kencang dan air hujan nan sedingin es..?” kenapa pula kami yang ditanyai oleh St. Rajo Basa ini. Kami lihat dia acuh saja tatkala kami menatap dirinya, tiada hendak kami menjawab segala kegusaran hati nan dirasakannya petang hari ini.

“Berapa engku kasih rangkayo itu uang?” tanya kami penasaran.

Bukannya menjawab, St Rajo Basa malah memberi perintah kepada kami “Marilah kita pulang, masuklah ke dalam oto..” sungguh kesal kami dibuatnya. Tatkala oto mulai beranjak, kami pandangi kantor lama kami yang tempat dia berdiri sekarang terkenal dengan istilah Tusuk Sate. Di perjalanan, kami lihat si rangkayo pembawa kardus tengah memandangi kardus-kardusnya yang kembali berserakan di trotoar. Usia tua dan tenaga yang tiada sekuat dulu, ditambah dengan cuaca yang sedingin es ini agaknya benar-benar cobaan untuknya.

Dan kembali, St. Rajo Basa membakar sebatang rokok sambil mengemudi. Dipandanginya kami, lalu disodorkannya rokok beserta pemantik kepada kami. Ah, tiada mengapalah merokok di dalam oto di hari nan dingin ini, lagi pula pendingin udara tiada pula dihidupkan.

_____________________

Catatan Kaki:

[1] Sepeda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s