Berat untuk berpisah

Picture: Here
Picture: Here

Hampir sepekan kami tiada mendapati langit cerah, dingin, berangin, dan hujan agaknya telah menjadi santapan sehari-hari kini. Mungkinkah ini merupakan cerminan dari gejolak hati? Entahlah, kami tiada pula mengerti.

Sedari tadi kawan kami nan seorang ini diam saja di belakang kemudi oto[1], telah dua batang rokok dihisapnya oleh karena itu pendingin udara di oto ini tiada dapat dihidupkan. Padahal hujan telah mulai lebat, karena kaca tiada penuh ditutup maka air hujanpun dapat juga memasuki oto agak sedikit. Kawan kami, St. Rajo Basa akhirnya membawa oto ke kantor, sengaja diparkirnya jauh dari kantor. Telah mulai menipis pertahanan dirinya, takut akan penyakit yang sedang mengintai ditambah setiap pagi hujan sedingin es selalu menyambangi.

Kami bersyukur mendapat tumpangan, beruntung rumah kami satu arah. Karena diam saja ia sepanjang jalan maka kami coba memecah kesunyian “Berat benarkah perkara nan sedang engku hadapi, sehingga lupa menghidupkan lampu oto. Sekarang sudah hampir magrib, tengoklah telah mulai gelap di luar sana..”

“Ah, tiada sadar awak engku. Beruntung engku beri ingat..” balasnya sambil kemudian bibirnya nan telah mulai menghitam itu mengapit rokok dan sebatang dan tangan kanannya menghidupkan lampu oto.

“Bagaimana kantor baru kita, sukakah engku disana? Kawan-kawan nan pindah agaknya berbunga-bunga hati mereka, mendapat ruangan tempat kerja yang teramat baik rupanya..” tanya kami. Semenjak awal tahun ini kami pindah berkantor, salah satu bagian di kantor kami yang lama bertukar tempat dengan bagian nan lain di kantor kami nan baru.

Kawan kami memandang kami sekilas dan kemudian menghela nafas “Bagaimana pula dengan engku kiranya? Agaknya engku menikmati pula..” balasnya bertanya tanpa menjawab tanya kami

“Hm.. biasa saja. Sejauh pengalaman kami, segala sesuatu yang pada mulanya elok pada akhirnya akan mengecewakan. Dan sebaliknyapun demikian. Pada kami ada suka dan ada tak sukanya engku, masing-masing kita memiliki penilaian masing-masing..” jawab kami belagak diplomatis.

“Benar agaknya pendapat engku itu..” balasnya “Sungguh sebagian besar orang menilai pada permukaan dan tampilan lahir saja, serta dibading-bandingkan pula dengan tempat nan lama sembari memburuk-burukkan dan memandang remeh. Sama kiranya menepuk air di dalam dulang itu namanya..”

Ah, tampaknya apa nan dirasakan kawan kami ini sama kiranya dengan nan kami rasakan. Kami diam saja sambil tersenyum pahit “Beratkah bagi engku untuk meninggalkan kantor lama kira?” tanya kami menerka.

“Sama dengan nan engku rasakan..” jawabnya dingin sambil menapat lurus ke hadapan.

Bah, sudah serupa dukun saja ia berlagak pandai membaca isi hati orang “Memangnya engku tahu apa nan kami rasakan?” tanya kami menantang

“Engku merasa berat meninggalkan kantor lama kita, rindu dengan kawan-kawan sefaham, rindu dengan suasana kantor buruk itu yang tak seindah kantor baru, rindu dengan toiletnya karena telah menjadi kebiasaan bagi engku buang hajat pada pagi hari serta gemar berlagak ke toilet pada jam berikutnya hanya untuk merokok. Rindu dengan suara teriakan, gelak tawa, gemuruh suara kawan-kawan nan tiada bersekat ruangannya itu. Rindu dengan suasana lembur selepas kerja dimana engku dan kawan-kawan suka bertukar fikiran dan melempar candaan padahal lembur itu tiada pernah mendapat bayaran dari negara, hingga pulang sama-sama lepas magrib atau lepas isya. Rindu dengan suasana kerja bersama tatkala menyiapkan kegiatan, rindu makam bersama dengan uang kantor yang pesanannya lama baru sampai, rindu datang ke kantor pada akhir pekan guna menyelesaikan pekerjaan padahal sebenarnya engku disangka orang sudah di Bandar Padang melepas rindu dengan anak-bini. Rindu dengan kegiatan Sabtu malam di Menara Jam dimana sebenarnya engku merasa berat bersua dengan para penjaga menara jam yang banyak gaya itu. Rindu dengan gurauan kawan-kawan nan gemar menggoda engku apabila engku lalu dari ataupun hendak ke luar kantor..” ucapnya menyinyir serupa induk-induk[2] nan sedang menumpahkan segala isi hatinya.

Karena tiada tahan akhirnya kami sela “Sebenarnya engku menceritakan diri engku sendiri bukan..?” Kami pandangi air muka St. Rajo Basa dekat-dekat, agak merah matanya dan sedari tadi ia acap menghirup ingus di hidungnya. Diam, dan tiada menjawab ia.

Kamipun sama-sama terdiam, terkenang oleh kami kisah orang dengan kehidupan yang berbeda. Dan memanglah ada keikhlasan dalam kesederhanaan, sebaliknya ada muslihat pada kenikmatan. Orang yang hidup bergulimang harta, bergaul dengan orang nan sama nasibnya pula, biasanya hidup dengan kepalsuan. Sebaliknya, pada kesederhanaan ada keikhlasan, ada kepedulian, ada kejujuran, dan ada cinta yang tulus.

“Orang yang mengutamakan penampilan sesungguhnya orang nan hidup dengan kepalsuan..” tiba-tiba kawan kami ini membuka suara setelah diam sejenak “Berpenampilan harus rapi, tiba mesti tepat waktu, absen tiga kali sehari serupa makan saja..” ujarnya geram

“Dahulu semasa berkuliah kami memiliki seorang dosen nan suka berpenampilan sesukanya. Ke kampus suka memakai baju kaos oblong, celana levis, dan memakai sandal. Penampilannya kumal tak mencerminkan seorang dosen, bahkan Dekan pernah memberi nasehat pada dirinya namun tiada dihiraukan. Sebaliknya ia menjawab; penampilan lahir seseorang tiada mencerminkan isi kepalanya rangkayo, awak memang berpenampilan tak terurus serupa ini namun salah satu kewajiban sebagai dosen yakni membuat karya tulis ilmiah bahkan kalau dapat membuat sebuah buku telah kami tunaikan. Marilah kita hitung, mana nan banyak, buku nan awak ini buat atau buku nan dibuat oleh dosen-dosen bergaya parlente itu..” kisah kami.

“Iya,..” balasnya dengan suara parau “Di tempat kerja kami nan lama pernah pula ada seorang pegawai kontrak nan berucap dengan keras tatkala perkara absen dijadikan tolak ukur untuk menilai kinerja pegawai; untuk apa berpenampilan rapi dan tepat waktu datang ke kantor akan tetapi tidak ada jerih yang diberikan kepada negara. Datang dengan rapi ke kantor, selepas itu duduk-duduk di lepau, mempergunjingkan kawan sekantor atau induk semang. Membuang-buang masa, padahal tenaga dibutuhkan di kantor. Yang dinilai oleh negara bukanlah absen melainkan pekerjaan yang telah kita persembahkan untuk negara. Kecuali bagi beberapa orang pegawai yang bekerja dibagian pelayanan, tentulah mereka mesti tiba pada waktu yang telah ditentukan..” kisahnya seolah-olah mencemooh.

“Sejauh pengalaman kami, orang yang suka mementingkan penampilan jarang yang otaknya berisi..” tambahnya lagi.

Iya, hidup dengan kepura-puraan dan kepalsuan dan kita mesti bertahan di tengah orang-orang dengan watak serta tabi’at nan demikian. Semoga tiada tertular penyakit itu kepada kami berdua..

Entah kenapa kantor lama kami nan buruk itu tiba-tiba menjadi indah dan nyaman bak istana di tengah-tengah pada rumput nan hijau permai. Begitu tenang dan jauh dari labuh besar, tiada nan mengusik, tiada ada orang-orang berwajah kaku dan dingin nan mesti disapa terlebih dahulu. Tiada ada air muka orang nan belagak berkuasa dan hendak disembah. Tiada ada jarak antara induk semang dengan anak buah. Tiada ada…

_______________

[1] Mobil

[2] Ibu-ibu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s