Malam Penghabisan

Picture: Here
Picture: Here

Harapan tinggal pengharapan, sedari pagi matahari bersinar cerah memanaskan alam nan disejukkan malam. Tak setitikpun air nan tertumpah. Tentulah bersenang hati mereka karena malamnya mereka akan menghabiskan malam penghabisan tahun bersama nan dicinta. Nasehat sudah diberikan, himbauan sudah disampaikan, berpulang kini  kepada hati masing-masing insan, apakah masih berlupa diri.

Petang hari sepulang dari kantor, kami dapati labuh besar di bandar kami telah ditutup oleh polisi. Jalan yang menuju ke puncak bukit Kandang Kabau tempat menara jam berada. Tempat yang menjadi magnet sekalian orang di bandar ini, apakah itu penduduk terlebih lagi pelancong. Bunyi terompet Kaum Nabi Musa telah terdengar semenjak beberapa hari ini, entah dimana dibuat, siapa yang mengantarkan, dan kemudian dijual oleh Umat Muhammad dengan dalih mencari penghidupan untuk keluarga.

Lepas Isya kembali ke kantor, lepas magrib suasana di kampung sudah ramai, onda[1] hilir mudik entah menuju kemana. Di jalan menuju bandar raya, ramai beriringan dengan onda dan oto[2]. Begitu mengarah ke pusat bandar, labuh besar sudah ditutup oleh polisi, namun onda masih dapat lalu. Namun tidak dengan labuh besar nan mengarah ke pusat bandar, ditutup rapat, jalan dialihkan.

Oto parkir di kiri dan kanan labuh, membuat labuh itu semakin sempat saja. Onda dan oto beriringan bak sebuah pawai, onda mencuri-curi celah diantara oto sedangkan nan membawa oto mesti bersabar karena tiada punya pilihan. Perlahan-lahan namun pasti, barisan kendaraan itu akhirnya mencapai jalan keluar yang telah menanti pula kemacetan nan lain di labuh sana.

Tua, muda, besar, kecil bahkan kanak-kanak belum pandai berjalan nan masih dipangku oleh ibu-bapanya ikut pula dibawa. Sungguh aneh dan heran kami dibuatnya, karena bandar kami berada di daratan tinggi dimana pada malam-malam cerah serupa ini akan selalu didatangi embun. Kata orang lagi, embun itu tajam, telah banyak orang nan sakit karena membawa onda disaat berembun. Sebab embun dapat merusak paru-paru.

Tiada tahukah ibu bapanya? atau tiada hendak tahu? Karena bagi mereka menghabiskan malam di luar melepas malam penghabisan dan menyambut malam permulaan lebih penting? entahlah,.

Pukul setengah satu pagi,

Orang-orang telah beranjak meninggalkan pusat keramaian menuju ke rumah masing-masing. Kemacetan demi kemacetan mesti dihadapi, bahkan labuh kecil[3]pun tiada luput karena semua orang berfikiran sama “Apabila labuh besar telah penuh maka ditempuhlah labuh kecil dimana jarang ditempuh orang..” akibatnya, macet jua.

Kanak-kanak nan masih dipangku, bahkan nan masih dibadungpun dibawa keluar. Orang tua lanjut usiapun ada pula nan keluar. Gerangan apa nan ada di hati mereka?

Engku pastilah bertanya “Tak usah mencemooh engku, engkupun sedang apa diluar pada malam penghabisan itu?”

Kami berdiam di dalam kantor, kawan-kawan mengadakan acara bakar ikan sambil mencoba peralatan audio baru yang dibeli kantor. Mereka diluar asyik bernyayi ria sambil makan ikan bakar, kami di dalam kantor memilah-milah arsip nan hendak diselamatkan.

“Ah, ikannya tak engku makankah?” tanya engku lagi

Tidak engku, ikan nan dibakar ialah ikan raya nan memiliki banyak tulang kecil-kecil di dalam dagingnya. Amatlah takut kami dengan tulang nan halus itu, sengsara diri ini dibuatnya apabila tersekat di tenggorokkan.

__________________

[1] Motor

[2] Mobil

[3] Jalan kecil

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s